
"Iya, sayang. Kenapa? Akhirnya kau bisa melihat ibu lagi," ucap sang ratu bahagia.
Namun putri Estelle menggelengkan kepalanya. "Jadi, ucapan dokter yang tadi itu benar?" Putri Estelle sudah sangat sembab, matanya sudah membengkak karena terus-terusan menangisi kondisi ibunya.
Ratu Allura hanya tersenyum. "Apa yang kau lihat ini memang benar, sayangku." Sang ratu membelai kepala anaknya, lalu menarik dalam pelukannya.
Pangeran Arshlan memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua, agar bisa berbincang lebih leluasa.
"Apa ada cara untuk menyembuhkanmu?" Sang putri bertanya lagi. Besar harapan dalam hatinya untuk menyembuhkan sang ibunda.
Namun ratu Allura menggeleng. "Ibu tidak tahu," jawabnya.
"Aku akan berada di sini menemani ibu," ucap sang putri. "Meski dalam wujud energi roh, aku tetap akan menemani ibu. Apapun itu, aku ingin selalu bersama ibu," ujarnya seraya mengeratkan dekapan pada tubuh ratu Allura.
Sang ratu tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil terus membelai surai putri kesayangannya.
"Calon ratu Yorksland harus kuat." Ratu Allura menggoda putrinya.
"Hmmm, jadi ibu ingin aku yang menjadi ratu Yorksland?" Sang putri mulai tersenyum. "Oke! Tapi ibu harus berjanji jika ibu akan menjadi ratu Noirland sampai nanti," lanjutnya.
Ratu Allura mengerutkan dahinya. "Aku sudah cukup menjadi ratu Noirland, saatnya pergantian tahta," jawabnya.
"Kenapa? Aku tidak mau menjadi ratu Noirland. Karena ibu yang akan menjadi ratunya."
__ADS_1
"Iya, ibu tahu. Kau sangat ingin menjadi ratu Yorksland, kan?" goda sang ratu lagi.
"Tidak, bukan begitu." Sang putri malah merona.
Ratu Allura tersenyum melihatnya.
"Kau sudah pernah bertemu dengan ratu Maria?" tanyanya pada putri Estelle yang pipinya masih bersemu merah.
"Ratu Maria? Ibunda pangeran Arshlan, maksud ibu?"
Sang ratu mengangguk. "Benar. Dia juga salah teman ibu," ujarnya.
Putri Estelle menggelengkan kepalanya. "Aku belum pernah bertemu dengan beliau," ujar sang putri.
"Beliau adalah wanita yang kuat. Warga Yorksland sangat mengelu-elukan ratunya karena ratu Maria memang benar-benar wanita yang penuh pesona."
"Betul sekali. Ibu masih ingat, ia menggenggam erat pedangnya di hari kematian ibunya. Saat itu, ia masih remaja. Ratu Maria mengejar orang yang membunuh ibunya menggunakan kuda. Namun ... ia melihat rumah keluarga pembunuh itu terbakar. Seluruh penghuninya mati di dalam rumah itu. Sebenarnya, bisa saja dia menertawakan kematian pembunuh itu, tapi ... ia mendengar sayup suara tangisan. Kau tau selanjutnya?"
Sang putri menggeleng.
"Ia menerobos api dan mencari sumber suara. Dan ia pun menemukan sebuah sumur. Suara tangisan itu berasal dari dalam sumur. Ia pun berusaha membuka penutup sumur meski napasnya tersengal. Lalu ...."
"Apa yang ia temukan."
__ADS_1
"Bayi."
"Bayi?"
"Iya, seorang bayi. Anak dari pembunuh itu."
"Lalu apa yang ia lakukan?"
"Ia menyelamatkannya. Meski api hampir menyambar tubuhnya. Akhirnya bayi itu bisa ia keluarkan dari sumur dan ia harus berjuang lagi untuk keluar dari api yang mengepungnya."
Sang putri hanya merenungi cerita itu.
Ratu Allura kembali bercerita. "Ratu Yorksland sangat kuat di hari kematian ibunya. Bahkan ia menyelamat nyawa orang lain yang merupakan keturunan dari pembunuh ibunya. Aku yakin, calon ratu Yorksland selanjutnya akan lebih kuat dari beliau."
"Maksud ibu?" Sang putri menggeleng menyadari arah pembicaraan ibundanya.
"Ini saatnya aku pergi, kau harus kuat."
"Tidak, ibu ...!" Sang putri mendekap erat energi roh ratu Allura.
"Kau kuat sayang," bisik sang ratu dengan wujud yang semakin memudar.
"I-ibu ...?" Sang putri histeris merasakan ibunya yang akan menghilang dalam dekapnya.
__ADS_1
"Aku senang bisa berbicara denganmu sebelum pergi, anakku."
"Tidak, ibu ...!"