
Saat pangeran Arshlan menyadari sebuah firasat buruk mengenai putri Estelle dan ibu suri, saat itu pula istana kerajaan Yorksland mendapat kabar dari kepala dayang Noirland perihal hilangnya sang putri.
"Arshlan, kau harus bergegas mencari pangeran Aro untuk menyelamatkan calon ratu kita. Dia sepertinya sengaja melakukan ini agar pernikahanmu gagal seperti keinginannya," ujar ratu Maria memperingatkan.
"Aku sudah menduga dari sebelumnya, Bu. Tapi pangeran Aro sebelumnya juga telah mendapatkan peta tambang emas milik mendiang ilmuwan Louis, ayah dari ratu Eliana. Sepertinya, pangeran Aro tidak akan membawa putri Estelle ke mari, melainkan ke tempat tambang emas itu."
"Kau tau di mana tambang emas itu?"
Sang pangeran menggeleng. "Aku belum pernah membacanya."
"Kalau seperti ini jadinya, lebih baik ibu pergi ke Noirland terlebih dahulu untuk memastikan situasi. Dan kamu, segera cari informasi ke mana pangeran Aro pergi dan menyusulnya," usul sang ratu Yorksland.
"Sepertinya aku tahu, siapa yang akan bisa memberi kita informasi," gumam sang pangeran.
"Ibu mengandalkanmu, sayang. Segera selamatkan calon ratu kerajaan kita demi masa depan seluruh rakyat." Ratu Maria terlihat sangat khawatir.
Ratu Maria pun mengambil pedang dengan sarung bermotif kepala singa betina dan ia selipkan di belakang bajunya. Baju hitam tanpa lengan adalah busana yang sangat pas untuk ratu Maria dalam bertarung. Sang ratu terlihat sangat muda karena tenaga dalam melimpah dalam tubuhnya, dia akan selalu tampil prima meski usianya sudah paruh baya.
__ADS_1
"Ada apa kau melihat ibu seperti itu?" ujar sang ratu pada anaknya, karena sang pangeran mengangkat alis saat melihat ibunya mengangkat pedang singa betina.
Pangeran Arshlan hanya mengedikkan bahunya. "Tidak ada apa-apa. Aku suka saat ibu kembali mengangkat pedang." Senyumnya terulas begitu lebar. "Aku pergi dulu!"
"Pergilah!"
Sepasang ibu dan anak itu pun terpisah. Kali ini sang pangeran kembali ke padepokan gurunya.
*
"Kau pasti mencari dia!" Sang mahaguru langsung menunjuk pada seorang pendekar yang membawa sebuah gulungan.
"Ini adalah isi dari salinan peta tambang emas yang hamba ingat, Pangeran. Semoga bisa membantumu dalam menjalankan misi kali ini." Pendekar muda itu menyodorkan gulungan tersebut pada sang pangeran.
"Kalian sudah tahu rupanya. Terima kasih."
Tanpa basa-basi lagi, pangeran Arshlan pun pergi dari padepokan dan meninggalkan Yorksland. Tujuannya tidak lain adalah menyelamatkan putri Estelle, calon ratu untuk kerajaannya.
__ADS_1
"Segera bawa sang ratu untuk kerajaan kita," gumam mahaguru ketika pangeran Arshlan telah menjauh dari padepokannya.
*
Di lain tempat, sebuah hutan belantara yang sarat akan hewan-hewan malam. Gelap membunuh penglihatan menyergap netra pada malam yang kelam.
Tak ada rembulan, tak ada bintang, langit padat dengan hamparan hitamnya.
"Diam!" bentak seorang penjaga berwajah codet pada perempuan yang sedang ia ikat tangan dan kakinya.
Di bawah pohon pinus mereka bernaung. Sengaja tak menyalakan api unggun, karena tak ingin mengundang perhatian dari atas gunung.
"Aku ... lapar ...," rengek perempuan itu di sela isak tangis yang sedari tadi ia gaungkan.
Pria berwajah codet itu berpura-pura tak mendengar. Ia sibuk menoleh kanan dan kiri untuk memastikan amannya situasi.
"Tolong ...." Perempuan itu merengek lagi. Ia berusaha menggerak-gerakkan tangan dan kakinya yang terikat erat, namun usahanya tak membuahkan hasil.
__ADS_1
"Tolong ...."