
Di atas pesawat milik kerajaan Noirland pangeran Arshlan kembali dari kerajaannya dan memutuskan untuk langsung pergi ke Raisilian. Sang pangeran memeriksa isi salinan peta tambang emas tersebut. Dokumen yang disebut peta itu, sama sekali tidak bergambar. Melainkan hanya kumpulan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf.
"Sepertinya, Gerald akan lebih tahu mengenai letak tempat ini." Pangeran Arshlan mengamati isi dari dokumen itu.
"Apa jaringan internet pesawat ini tersambung?" Sang pangeran bertanya pada seorang pramugari.
Pramugari itu mengangguk. "Sudah, Pangeran. Anda bisa menggunakan jaringan internet berbasis satelit milik Raisilian."
Sepertinya jika aku menjadi raja nanti, aku harus perluas kerja sama dengan Raisilian. Mereka sungguh canggih sekali.
Kemudian dengan hati-hati ia salin tulisan yang telah diterjemahkan tersebut, dan segera mengirim surat elektronik untuk kerajaan Raisilian.
Dengan hati yang gelisah, ia berharap orang-orang dari Raisilian segera membalas surat elektroniknya dan memberi informasi mengenai peta tambang emas itu.
Satu jam
Dua jam
Tidak ada balasan dari Raisilian. Pangeran Arshlan menggeram, ia merasa kesal.
"Gerald si*lan! Ia mengabaikan pesanku saat aku membutuhkannya!" Pangeran Arshlan mengumpat karena merasa kesal.
__ADS_1
Ia berdiri dan berjalan-jalan dalam pesawat.
"Ah, menyesal aku tidak menghapal nama tempat di Raisilian." Pangeran Arshlan lagi-lagi menggerutu.
Dia orang yang sangat mudah menghapal tempat, namun ia tak pernah mengingat nama-nama tempat itu karena menurutnya hal itu tidaklah penting.
Telah lama penerbangan mereka lakukan, pada akhirnya burung besi yang membawa pangeran Arshlan pun mendaratkan rodanya di bandara Raisilian.
Dengan terburu-buru, pangeran Arshlan segera keluar dari pesawat.
"Cepat buka pintu!" titahnya.
"Tapi, tangganya belum terpasang," ujar sang pramugari mengingatkan.
"Ba-baik." Pramugari itu dengan gugup membuka pintu pesawat.
Ia tahu, jika pangeran Arshlan sedang dalam keadaan hati yang tidak baik. Sehingga kini sang pramugari itu terkena imbasnya berupa bentakan dari pangeran Arshlan.
Hap!
Pangeran pun melompat dengan sigap dari atas pintu pesawat. Pramugari itu hanya bisa menelan ludahnya melihat sang pangeran yang melompat dari pintu pesawat yang tinggi sedemikian rupa.
__ADS_1
Sang pangeran turun dan langsung berlari. Meski ia masih bingung ke mana ia harus pergi, karena ia belum menghubungi istana dan belum mendapatkan kendaraan yang akan menjemputnya. Bahkan pesan terakhir yang ia kirimkan tidak mendapat respon dari sang raja.
"Awas kau Gerald! Aku akan membuat perhitungan!" Sang pangeran mengumpat pada raja di wilayah tempatnya berpijak.
Namun belum jauh ia meninggalkan pesawat, seorang pria tua yang sangat ia kenal berdiri tersenyum ke arahnya.
"Selamat datang, Yang Mulia Pangeran Arshlan."
Sang pangeran langsung menghentikan langkahnya. "Antony? Kau datang menjemputku ke mari?"
"Tidak ada waktu, Pangeran. Hamba diperintahkan oleh Yang Mulia Raja Gerald untuk mengantar anda ke lahan hutan konservasi." Antony mengarahkan pangeran Arshlan pada mobilnya.
"Lahan hutan konservasi?"
"Tempat yang pangeran maksud pada surat elektronik yang pangeran kirim, adalah lahan hutan konservasi yang baru-baru ini diresmikan. Silakan masuk, pangeran." Antony membukakan pintu untuk sang pangeran. Namun pangeran Arshlan malah menutup kembali pintu itu.
"Duduklah di samping kemudi," ujar sang pangeran seraya dirinya yang menuju ke bagian kemudi.
Antony kebingungan karena melihat pangeran Arshlan membuka pintu sendiri ke kursi yang seharusnya ia tempati.
Namun sang pangeran menunjukkan gantungan hitam kunci mobil milik Antony. "Biar aku yang mengemudi."
__ADS_1
Antony mendelik. Kapan dia mengambil kunci mobil dariku?