
"Lihat saja! Aku tidak akan menggubrisnya kalau dia datang nanti! Biar dia aku tahu kalau aku sedang kesal!" Eliana memasang ekspresi jutek sambil meremas jemarinya sendiri.
"Kau, merasa kesal pada siapa?" Suara bariton itu memecah rasa gondok dalam pikiran Eliana. Wanita itu langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati pria yang menjadi sumber kekesalannya ada di sana.
Raja Gerald langsung menghampiri calon istrinya yang bibirnya sedang mengerucut di sana. Dia tersenyum mendengar kata-kata Eliana barusan.
Eliana hanya melirik sekilas, ia pun langsung membelakangi sang raja karena tak ingin memperlihatkan wajahnya.
Semenjak pulang dari Arshville, sang raja sama sekali tidak menemuinya. Bahkan ketika Raja Gerald pergi ke Yorksland bersama pangeran Arshlan, Raja sama sekali tidak berkata apapun pada Eliana.
Wanita itu pikir, setelah pulang dari Yorksland sang raja akan menemuinya. Namun hal itu tak kunjung terjadi. Hingga berhari-hari Eliana menunggu. Hingga mengakar kekesalannya seakan ingin melempar sembilu.
"Ada apa? Apa kau tidak suka aku datang ke sini? Aku merindukanmu," ucap raja Gerald seraya menghampiri Eliana dan duduk di atas ranjang.
Eliana terdiam dengan masih tetap membelakangi sang raja. Jika merindukanku, kenapa baru sekarang dia datang? Cih!
__ADS_1
"Hei, apa kau marah?" Sang Raja membelai pundak Eliana dari belakang.
Baru sekarang dia bertanya? Terlambat! Aku sangat marah!
Eliana memang terlihat diam saja dan tak mengatakan apa-apa. Padahal sebenarnya, gadis itu sedang mengumpati sang raja dalam hatinya.
"Maaf, aku sedang banyak urusan, Eli! Sebagai seorang Raja pemimpin kerajaan ini, kadang aku harus mendahulukan orang lain daripada diriku sendiri," ungkap sang raja mengerti kekesalan Eliana. Ia membelai terus rambut Eliana dari belakang dengan penuh kelembutan.
"Asal kamu tahu, sebenarnya aku berulang kali ke mari tiap selesai bekerja tengah malam. Namun sayang, kamu selalu tengah terlelap." Raja Gerald mencoba menghibur Eliana dengan mengatakan jika sebenarnya ia juga ingin menemui calon ratunya itu.
Raja Gerald merasa gemas melihat wanita dalam pelukannya ini. Ia pun mencium pucuk kepala Eliana dari belakang. "Karena aku tak ingin mengganggu tidurmu yang sangat lelap, cukup aku yang merasa kelelahan dan kurang tidur. Jangan sampai ratuku juga merasakannya."
Kalimat itu begitu dalam, membuat Eliana seketika luluh. Meski dalam hati ia mengumpati dirinya sendiri. Pria memang jago membual Eliana, jangan percaya padanya.
Berulang kali Eliana memperingati dirinya sendiri. Agar tidak mudah luluh dan menunjukkan kalau dirinya sedang kecewa pada sang raja.
__ADS_1
"Menghadaplah ke mari!" Sang Raja menarik bahu Eliana agar menghadap ke arahnya. Namun Eliana mengeraskan tubuhnya sehingga tidak mudah digerakkan oleh Raja Gerald.
"Kau masih marah padaku?" tanya sang raja.
Lagi-lagi Eliana tidak menjawabnya. Ia membelakangi sang raja dan semakin mengerucutkan bibirnya.
"Itu hanya alasanmu saja," ujar Eliana singkat.
Sang raja agak terkejut mendengar Eliana telah berani menyebut dirinya tanpa menggunakan embel-embel yang mulia dan hanya menggunakan imbuhan -mu saja.
Tapi ia tersenyum, selayaknya pasangan biasa, raja Gerald tak ingin hubungannya dengan istri terlalu kaku.
"Berbaliklah ke mari, Eliana," pinta sang Raja sambil memaksa tubuh Eliana agar berbalik.
"Itu bukan alasan, aku benar-benar menghampirimu setiap malam!"
__ADS_1