Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Teh Danishian di Rumah Tuan Edmund


__ADS_3

"Sluuuuurp." Isapan teh racikan dinikmati oleh Eliana. Gadis itu sedang duduk di sebuah rumah warga Arshville dan menikmati teh yang baru saja disajikan.


"Mohon maaf, Nona. Kami tidak memiliki banyak makanan untuk menjamu anda. Maafkan kami," ujar nyonya Janice, -istri dari tuan Edmund. Ia menundukkan wajahnya karena merasa malu.


"Nyonya Edmund, teh racikan anda sudah lebih dari cukup. Saya sangat menikmati aroma dan rasanya. Kalau boleh saya tau, teh ini anda dapatkan dari mana?" jawab Eliana yang sengaja untuk membesarkan hati sang tuan rumah.


"Nona menyukainya? Saya senang sekali," timpal Janice seraya tersenyum. "Teh ini kami dapat dari Danishian. Suami saya membawanya pucuk teh yang masih segar dan berwarna hijau. Kemudian, teh Danishian itu saya olah, saya keringkan dan sedikit saya beri campuran dengan bunga chamomile kering."


"Emmm, pantas saja saya mencium aroma bunga Chamomile, walau tidak terlalu kentara," tukas Eliana.


"Itu, suami saya." Janice langsung berdiri dan menuju ke arah pintu begitu melihat pria berkepala plontos dengan topi yang dikalungkan pada lehernya.


"Sayang, bagaimana?" tanya wanita itu antusias.


"Aku baru saja berbincang dengan warga mengenai rencana Yang Mulia Raja. Dan para warga setuju dengan ide nona Eliana, seandainya Yang Mulia Raja berhasil negosiasi dengan perdana menteri," jawab tuan Edmund. Pria itu duduk di teras. Melepaskan topi yang tergantung di lehernya, lalu menggunakan topi itu untuk mengipas-ngipas pada dirinya.


"Aku ambilkan minum untukmu." Tanpa diminta oleh suaminya, Janice langsung masuk untuk membawa secangkir minum.

__ADS_1


"Jadi ... Yang Mulia Raja belum juga kembali?" tanya Eliana yang muncul dari balik pintu. Dia ikut duduk di teras menemani tuan Edmund yang baru datang.


"Sepertinya belum, Nona. Saya tidak ikut bersama Yang Mulia," jawab tuan Edmund.


Bunyi gelas dan sebuah teko porselen yang dibawa di atas nampan terdengar. Suara langkah kaki itu juga semakin mendekat. "Ini, minummu," ucap Janice menyodorkan segelas air putih pada suaminya.


Tanpa berlama-lama, tuan Edmund meneguk hingga tandas air putih dalam gelas.


Eliana yang melihat itu pun jadi bertanya-tanya. "Tuan Edmund, apakah anda tidak menyukai teh beraroma chamomile?" Eliana menunjuk pada gelas miliknya yang berisi di dalan rumah.


Tuan Edmund dan nyonya Janice berpandangan. "Sa-saya tidak suka de-dengan te-teh, Nona." Mendadak tuan Edmund menjadi gagap.


Padahal, bagi rakyat Arshville teh sudah merupakan minuman mewah dan langka untuk mereka.


Beberapa mobil mewah berhenti di dekat rumah tuan Edmund. Mobil paling depan memiliki tanda bendera kerajaan Raisilian. Dapat ditebak siapa yang dibawa oleh mobil itu.


"Yang Mulia," sapa Eliana merasa senang dan langsung berdiri.

__ADS_1


"Sungguh kehormatan bagi kami mendapat kunjungan dari Yang Mulia." Pasangan suami-istri itu pun membungkuk di depan mobil sang raja.


Raja Gerald pun turun dan membuka kacamatanya. "Hormat kalian kuterima," jawabnya.


"Apa Yang Mulia mau duduk di dalam? Silakan, Yang Mulia," tunjuk tuan Edmund pada kursi ruang tamunya.


"Aku berdiri di sini saja." Sang Raja memilih untuk berdiri di samping mobilnya saja.


"Ada yang ingin aku sampaikan!" ucap Raja Gerald mulai serius.


"Jadi, perdana menteri kalian setuju untuk mengizinkan kalian membuat pekarangan di sekitar rumah. Namun perdana menteri kalian, tidak mengizinkan untuk membongkar kembali paving blok. Sepertinya rencana Eliana sangat dibutuhkan kali ini!"


Pesan dari Raja Gerald membuat senyum tuan dan nyonya Edmund terbit. Mereka pun segera mengabarkan ke seluruh warga, kabar gembira ini.


Para warga berbondong-bondong menuju ke tempat tuan Edmund untuk bertemu dengan Eliana.


"Jadi, Nona menganjurkan kita untuk menggunakan teknik hidroponik dan tabulampot?" Salah seorang warga bertanya.

__ADS_1


Eliana mengangguk dengan penuh keyakinan jika rencananya akan sukses.


"Hore ...! Kita menanam lagi! Hore!"


__ADS_2