Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kegagalan


__ADS_3

Bum


Pssssst


Sebuah ledakan ringan mengeluarkan asap kuning di sekitar penjaga lorong kamar para anggota kerajaan.


Perlahan bau menyengat mulai terendus oleh mereka. Dan semuanya saling memandang satu sama lain saat asap itu makin pekat menghalangi pandangan. Hingga pada akhirnya, semua tak sadarkan diri dan terkulai di depan setiap kamar yang dijaga.


Ada tiga buah kamar yang dihuni pada lorong tersebut. Kamar Yang Mulia Raja Gerald, kamar Ibu Suri Paula, dan terakhir kamar Eliana juga bayi Kevin.


Dua orang pengawal putri Estelle yang menggunakan penutup kepala, untuk melindungi hidung, mata dan telinga mereka, langsung bergerak.


Keduanya saling berpandangan, dan mengangguk pada satu sama lain untuk menunjukkan jika mereka sama-sama siap untuk mendobrak kamar di samping kamar Sang Raja.


Perlahan mereka berdua berjalan melangkahi para pengawal yang tergolek pingsan di depan kamar.


Lalu mereka memastikan siapa yang ada di dalam.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban. Mereka benar-benar mengira jika dalam ruangan itu adalah ruangan kosong.


Akhirnya dengan percaya diri salah satu dari mereka membuka pintu itu.


Cklek

__ADS_1


Kepala mereka menyembul dan mengintip ke dalam.


"Gelap ... ayo masuk!" titah salah satu dari mereka memberi aba-aba.


Begitu keduanya melangkah masuk.


Buk!


Prang!


Eliana membawa sebuah vas bunga dan memukulnya tepat di kepala salah satu penyusup.


Lalu tak ketinggalan bibi Odeth yang membawa sebuah guci dan dipukulkan pada kepala milik penyusup lainnya.


"Oweeek ... oweeek ... oweeeek ...!" Bayi Kevin terbangun karena terkejut.


"Terima kasih, Bibi," balas Eliana yang langsung menenangkan bayi Kevin.


"Kerja bagus, Nona Eli dan dayang!" ujar salah satu pengawal yang pura-pura pingsan.


Mereka semua menggunakan lensa mata transparan yang digunakan untuk melindungi kornea mata. Lalu penyaring udara pada hidung yang sangat tipis dan hampir tidak terlihat. Sehingga mereka bisa bertahan saat asap dari bom tadi menyerang.


Mereka mengantisipasi hal ini atas perintah Sang Raja. Karena takutnya, akan terjadi hal yang sama seperti di ruang kerja Raja Gerald waktu itu.


Semua pengawal terbangun dan mengurusi dua orang penyusup.

__ADS_1


Sementara itu, di lorong lainnya, seorang wanita yang dari tadi mengamati kejadian itu, merasa geram dan mencoba berbalik arah.


"Kenapa bisa jadi seperti ini, sih?" omelnya sendiri begitu ia sampai di kamarnya.


"Kalau ada seseorang yang memukul para pengawalku, itu artinya, ada orang yang tinggal di dalam kamar itu?" Dia mondar-mandir di samping ranjang.


"Tapi siapa?" gumamnya lagi.


"Bukankah Raja Gerald sedang pergi?" Putri Estelle terus bertanya-tanya.


"Apa Raja Gerald sudah menemukan tempat tersembunyi itu? Aku harus bilang apa pada ayahanda, jika orang Raisilian berhasil menemukan tempat itu," paniknya sendiri sambil menggigit-gigit pada kukunya.


"Semoga Sang Raja tidak menyadari, jika kalung itu adalah kunci untuk membuka pintu batu di bawah tanah itu. Semoga!" batinnya berharap.


Kemudian setelah mengucap demikian, Putri Estelle mencari tabletnya. Ia pun mencoba mengontak sang ayah, Raja di Noirland.


"Ah, sebaiknya jangan," gumamnya mencegah rencananya sendiri.


"Kalau ayahanda tahu ternyata Raisilian semaju ini dalam menemukan tambang itu, mau ditaruh dimana mukaku? Ayahanda pasti akan menyuruhku pulang dan menggantikan tugas ini untuk Emilda," ujarnya kesal.


"Ya! Jangan sampai itu terjadi, jangan sampai Raja Gerald sadar jika kalung itu adalah kuncinya. Jangan!"


*


Tuh guys! Mau ditaruh dimana katanya muka putri Estelle kalau sampai rencananya gagal?

__ADS_1


Menurut kalian bagusnya dimana? Komen di bawah ya ...! Waktu dan tempat dipersilakan.


__ADS_2