
Pernikahan raja dan ratu di Raisilian berjalan lancar, tak ada alasan lain bagi ibu suri Theresa untuk tinggal lebih lama di sana. Pada keesokan harinya, mereka pun berpamitan untuk kembali ke tanah air di Noirland.
Sementara itu di Noirland sendiri, ratu Allura sedang disibukkan dengan masalah kerajaan. Semenjak kematian sang raja kesehatannya pun memburuk. Ini adalah alasan utama sang ratu kenapa ia tak bisa datang ke Raisilian. Namun tentu saja ia tak mengatakan itu pada ibu dan anaknya, ia tak ingin menjadi beban pikiran oleh keluarganya.
“Uhuk … uhuk ….” Berulang kali ratu Allura terbatuk-batuk hari ini. Keadaannya semakin parah saja karena hawa dingin yang bertiup setiap harinya di Noirland.
“Anda perlu istirahat, Yang Mulia,” saran dari seorang dayang yang mengkhawatirkan kesehatan ratunya.
“Uhuk … uhuk … uhuk … aku, baik-baik saja. Uhuk … uhuk ….” Batuk sang ratu seakan terus mengganggunya tanpa terjeda.
Ratu Allura mengusap dadanya, ia mengangkat sebelah tangannya yang ia arahkan untuk melarang dayang yang hendak mendekat padanya. “Kubilang aku baik-baik saja, uhuk, aku … hanya butuh istirahat saja.”
Sang kepala dayang membungkuk pada ratu Allura. “Baik, Yang Mulia. Akan kami antar.”
Dengan sigap wanita paruh baya yang masih berbadan tegap itu membantu sang ratu keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke kamar tempatnya beristirahat.
Diiringi oleh beberapa dayang dan pengawal, ratu Allura berjalan kembali ke tempat beristirahatnya.
Baru beberapa langkah, pergerakan mereka terhenti.
__ADS_1
“Uhuk!” Batuk sang ratu terdengar sangat keras. Ia menutup mulut menggunakan tangannya, agar tak ada yang keluar dari mulutnya.
Namun …
“Yang Mulia, anda baik-baik saja?”
Darah segar muncul dari mulut Yang Mulia ratu. Kepala dayang istana sangat khawatir. Ia melihat darah tersebut dari telapak tangan ratu Allura.
“Cepat panggilkan dokter!” Sang kepala dayang memberi perintah pada dayang lainnya.
“Pengawal, bantu aku membopong ratu!” pintanya yang langsung segera dilaksanakan oleh para pengawal.
“Aku bisa berjalan sendiri, tak perlu ada yang membantuku lagi!”
“Tapi, Yang Mulia Ratu ….”
Ratu Allura berjalan mendahului kepala dayang dan pengawal. Meski sedikit tertatih-tatih, sang ratu berhasil menuju kamarnya. Orang-orang hanya mengikutinya dari belakang, tak berani melanggar keinginan sang ratu yang ingin berjalan sendiri.
“Sebentar lagi dokter akan datang, Yang Mulia. Sebaiknya anda beristirahat saja dulu,” ujar sang kepala dayang istana.
__ADS_1
Ratu Allura merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap pada kepala dayang yang sedang berdiri di sampingnya.
“Apa … uhuk …. Apa kau yakin dokter bisa menyembuhkan penyakit ini?” tanya sang ratu dengan putus asa.
“Kita hanya bisa mencobanya dan berdo’a, Yang Mulia. Sembuh atau tidak, itu semua ada di tangan Tuhan.” Jawaban kepala dayang membuat ratu Allura tersenyum tipis.
“Kau tau, penyakit ini sudah kudapat sejak lama. Uhukk … uhuk …. Tepatnya, ketika putri Estelle sendiri masih berusia sekitar sepuluh tahun.”
Sang kepala dayang hanya mendengarkan perkataan sang ratu tanpa menyela.
“Ini bukan penyakit bisa. Asma hanyalah salah satu yang dijadikan alasan untuk catatan rekam medik kesehatanku saja. Selebihnya, bukan seperti itu.”
“Maksud anda, Yang Mulia?”
“Maksudku … penyakit ini bukan penyakit medis yang bisa ditangani oleh dokter. Sudah banyak dokter yang mencoba menangani ini, namun sampai saat ini, batuk ini masih sering menggangguku bahkan semakin parah.”
__ADS_1