
"Untuk apa kau kemari? Aku bisa atasi semua masalah di sini!" Putri Estelle menghardik kakaknya itu.
"Hah? Apa?" Senyum miring penuh ejekan keluar dari Putri Emilda. "Kamu bilang bisa atasi semuanya? Setelah banyak sekali kegagalan yang kau buat?"
"Jangan ikut campur urusanku!" kecam Putri Estelle. Ia jelas tidak mau kalah dengan Putri Emilda.
Dengan santai, Putri Emilda melepaskan atribut dayang miliknya. Wajah cantiknya terlihat begitu tegas dan penuh kekuatan.
"Itu bukan urusanmu seorang saudaraku! Itu urusan negara kita," jawab Putri Emilda dengan nada yang manis. "Kegagalanmu adalah kegagalan kita semua," ujarnya.
Putri Estelle ingin mengelak apa yang dikatakan oleh Putri Emilda, namun apa yang ia dengar dari saudaranya barusan tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, Sang Putri gengsi untuk mengiyakan, bahkan untuk sekedar menganggukkan kepalanya.
"Jadi ... kau siap untuk menjadi bagian dari rencanaku?" Putri Emilda berdiri membelakangi adiknya, dengan ekor mata yang masih melirik pada Putri Estelle.
Putri Estelle masih terdiam. Ia merasa apapun yanh dipilihnya semuanya akan tetap memojokkan dirinya.
Jika dirinya berkata tidak, sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan keluarga ketika ia kembali nanti karena tidak mau membantu saudaranya sendiri.
__ADS_1
Namun jika dirinya berkata iya, tetap saja Putri Emilda yang akan menuai pujian nanti. Dan ayahnya, lagi-lagi akan menyudutkannya dengan menyatakan kelebihan Putri Emilda atas dirinya.
"Bagaimana? Aku membutuhkanmu dalam rencana ini saudaraku," ujar Putri Emilda lagi.
Mau tak mau, Putri Estelle pun mengangguk.
"Baiklah, terima kasih." Putri Emilda merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Putri Estelle.
"Oh, iya! Aku akan tidur di sini! Aku tidak keberatan berbagi ranjang denganmu! Tapi jika kau yang tidak ingin, kau boleh tidur di mana saja sesukamu!" Putri Emilda langsung menepuk-nepuk bantal dan menidurinya tanpa menarik selimut terlebih dahulu.
Putri Emilda, adalah seorang Putri yang tinggal selama dua belas tahun menjadi rakyat biasa. Ibunya yang hanya seorang selir Raja, membuatnya tak bisa mendapatkan pengakuan dari ayahnya, Sang Raja.
Namun sepuluh tahun yang lalu, tiba-tiba ayahnya datang dengan pasukan khusus keraajan. Mereka menjemputnya untuk tinggal di istana, itu adalah sebuah angin segar untuk Putri Emilda dan ibunya.
Namun, ada yang tidak suka akan kehadirannya. Yakni sang Ratu dan anaknya.
"Kau masih belum tidur?" tanya Putri Emilda pada Putri Estelle yang sedang melamun.
__ADS_1
Putri Noirland itu menggelengkan kepalanya, ia hanya duduk di sofa karena merasa tak sudi tidur satu ranjang dengan Putri Emilda.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ujar Putri Emilda lagi.
Putri Estelle mendongak, menatap pada kakaknya itu.
"Sedekat apa kau dengan Paula?" tanyanya.
"Paula? Maksudmu, ibu suri?" Putri Estelle bertanya.
"Iya, terserah! Apapun kau menyebutnya," jawabnya.
"Waktu kecil aku cukup dekat dengannya, namun sekarang, aku juga sibuk dengan pendidikan, aku jadi jarang bertukar sapa dengan beliau."
"Bagus!" Putri Emilda tersenyum licik.
"Apa yang kau rencankan?" tanya Putri Estelle penasaran.
__ADS_1
"Rencanaku adalah, sesuatu yang lebih cerdas dari yang otakmu pikirkan!"