
“Salam, Yang Mulia,” ujar Eliana.
“Ka … kamu, siapa?” Ibu suri Noirland itu terlihat terkejut. Mulutnya menganga dan ditutup oleh tangan kanannya.
"Kok, nenek tanya lagi. Dia Eliana," jawab Putri Estelle.
"Saya Eliana, Yang Mulia. Saya menemani Tuan Putri dan membantunya merawat Yang Mulia Ratu Allura." Eliana ikut menjawab.
Ibu suri di seberang masih menggelengkan kepalanya. "Maaf, kamu mengingatkanku pada seseorang."
"Nenek baik-baik saja?" tanya Putri Estelle yang menangkap raut aneh dari ibu suri.
"Nenek baik-baik saja. Semoga ibumu cepat sembuh, ya," lanjut sang ibu suri lagi.
"Maaf ya, Nek, aku dan ibu tidak bisa pulang," ungkap putri Estelle dengan air mata yang kembali meleleh.
"Tak apa, sayang. Yang penting ibumu segera pulih. Tidak usah banyak pikiran," jawab ibu suri yang mencoba tidak menangis. Dia berusaha untuk terlihat kuat.
Meski sesungguhnya, hatinya begitu terluka karena kehilangan. Anak yang selama ini menemaninya telah pergi untuk selama-lamanya.
Dia kini hanya menelan pil pahit karena kehilangan kedua anaknya.
"Nek ...? Nenek?" panggil Putri Estelle karena melihat neneknya diam saja.
__ADS_1
"Ah, iya maaf! Nenek sepertinya sedang tidak enak badan. Kau lanjutkanlah kegiatanmu ya, sayang. Sampaikan salamku pada ibumu jika dia telah bangun nanti," pamit sang nenek pada cucunya.
"Iya, Nek. Akan aku sampaikan nanti. Istirahat yang cukup ya, Nek. Banyak yang sudah nenek lalui dalam dua hari ini, jaga kesehatan, ya. Aku merindukanmu," balas putri Estelle.
"Aku juga merindukanmu, Nak."
Sambungan pun terputus. Pantulan proyektor pada dinding kamar ibu suri Noirland itu pun kembali putih seperti semula.
"Siapa anak perempuan itu, dari usianya dia terlihat tak jauh berbeda dengan Estelle," gumam ibu suri.
"Dayang!" panggilnya.
"Iya, Yang Mulia," jawab sang dayang sambil mencondongkan tubuhnya pada ibu suri yang memanggil.
"Aku tidur lagi, aku masih ingin istirahat," ucapnya pada para dayang.
*
Setelah membatalkan rencana kunjungan ke Noirland, Raja Gerald benar-benar menuju ke istana.
Tempat pertama yang ia tuju begitu ia tiba di istana, tidak lain, tidak bukan adalah kamar Eliana.
"Eli!" Raja Gerald membuka pintu kamar milik wanitanya tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
"Eliana sedang menemani putri Estelle di kamar Ratu Allura," jawab ibu suri.
"Sedang apa?" Raja Gerald bertanya seakan tidak suka.
"Sedang apa? Ratu Allura sakit, Eliana membantu Putri Estelle untuk merawat ibunya," jawab ibu suri Paula.
"Dia 'kan bisa minta bantuan dayang untuk itu? Dasar gadis manja!" umpat Raja Gerald.
"Kau ini, Gerald. Tidak berperasaan sekali. Kasian Putri Estelle, dia hanya butuh ditemani," jawab ibu suri lebih serius pada putranya.
"Tapi, kan, sekarang aku sudah datang, bu! Kalau dia menemani orang lain, lantas siapa yang menemaniku?"
Ibu suri tersenyum, dia hampir saja tertawa namun ditahan karena takut membangunkan bayi Kevin.
"Kenapa ibu tertawa seperti itu?" Raja Gerald semakin kesal.
"Ah, baiklah, Gerald." Ibu suri pun keluar dari kamar Eliana, sambil memanggil dayangnya.
"Dayang! Panggil Eliana kembali ke mari, dia sedang berada di kamar Ratu Allura!" perintah ibu suri pada para dayang.
"Tolong cepat ya! Ada yang sudah tidak tahan ingin bertemu," ujar ibu suri sengaja menggoda putranya.
Raja Gerald membelalak pada ibunya. Namun ibu suri sengaja tersenyum-senyum untuk membuat putranya semakin kesal.
__ADS_1