Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Tiba di Noirland


__ADS_3

Sang Raja membaca laporan itu dengan seksama, tak ada satu angka pun yang luput dari pemeriksaannya.


"Apa mungkin mereka memalsukan laporan?"


"Sepertinya begitu, Yang Mulia," jawab Antony.


"Yang Mulia? Antony?" Eliana terbangun dari tidurnya dan menuju kembali ke kursi penumpang.


Dia melihat sang raja dengan tumpukkan laporan dan tablet di tangannya.


"Yang Mulia Raja, Tuan Antony, silakan kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman," ujar pramugari yang diucapkan secara personal pada kedua petinggi kerajaan.


Sang pramugari membantu sang raja membereskan dokumen-dokumennya. Juga ada pramugari lain yang membantu Eliana memasang sabuk pengaman.


"Yang Mulia, kami mengabarkan sebentar lagi pesawat akan landing." Sang pramugari menginformasikan pada Yang Mulia raja secara personal, tidak seperti di pesawat komersil pada umumnya.


Begitu pun pramugari lain, juga memberitahukan hal yang sama pada Eliana.


"Antony, sepertinya kita perlu ke Arshville lagi setelah dari Noirland!"

__ADS_1


"Benar, Yang Mulia," jawab Antony dari belakang kursi sang raja. "Tapi ... bagaimana dengan nona Eli? Apa harus diantar pulang terlebih dahulu ke istana?"


"Ajak dia, biarkan dia ikut. Karena kehidupannya sebagai seorang Ratu nanti tidak akan mudah," jawab sang Raja.


Sementara itu, Eliana duduk di depan agak jauh dari sang Raja. Namun dirinya tetap bisa mendengar percakapan sekilas dari raja Gerald dengan penasihatnya tersebut.


Bahkan ketika aku merasa kelelahan dan tertidur pulas, Yang Mulia Raja tetap bekerja keras meski berada di atas pesawat.


Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan belajar yang diberikan oleh sang Raja. Jika nanti Yang Mulia membawaku ke Arshville, sebisa mungkin aku harus berguna untuknya.


Eliana membatin, dan bertekad untuk mendampingi raja yang akan menjadi suaminya sepenuh hati.


Sedikit goncangan terasa pada bangku tempat duduk Eliana. Pesawat pun melakukan pendaratan pada landasan milik kerajaan Noirland.


Noirland menggunakan warna putih sebagai wujud duka cita dan ini berbanding terbalik dengan Raisilian yang cenderung menggunakan warna gelap untuk berduka cita.


Para pengawal dari Raisilian tetap mengikuti ketiga orang tersebut, meski dari Noirland sendiri memberikan penyambutan dan penjagaan khusus bagi orang penting dari Raisilian ini.


Lapangan tempat upacara kremasi sudah mulai dipadati. Para petinggi dari kerajaan Noirland sudah berjajar.

__ADS_1


Tak ketinggalan juga para Raja dan Ratu dari kerajaan lain beserta beberapa perwakilannya ikut datang untuk mengucap bela sungkawa.


Raja Gerald, Eliana dan Antony menghampiri seorang wanita yang berdiri paling dekat dengan jenazah Raja Jeremy.


Jenazah itu sudah ditumpuki dengan kayu bakar di atasnya dan siap untuk dibakar.


"Yang Mulia ibu suri," sapa Gerald pada wanita berbaju putih yang sedang menangis.


Wanita itu mendongak dan melihat pada Raja Gerald.


Sang Raja memeluk wanita itu sejenak.


"Terima kasih sudah datang. Kau sudah baik mau menampung menantu dan cucuku di sana," ungkap wanita tua itu dengan suara yang tercekat di tenggorokan.


"Mereka baik-baik saja. Ratu Allura pun akan segera sembuh di bawah penanganan dokter kami, ibu suri tak perlu khawatir."


Ibu suri pun mengangguk dan berterima kasih sekali pada Gerald. Namun kemudian dia terdiam, mematung di tempatnya. Tak mengucap sepatah katapun.


"Kamu ... Eliana, yang kemarin?" tanya sang ibu suri yang tiba-tiba memeluk Eliana.

__ADS_1


"I-iya ibu suri," jawab Eliana dengan canggung karena tiba-tiba ibu suri memeluknya dengan sangat erat.


Ibu suri hendak mengatakan sesuatu pada Eliana namun sang pengawal menghampirinya terlebih dahulu. "Yang Mulia ibu suri, sudah waktunya untuk menyalakan api kremasi, silakan!"


__ADS_2