
"Tapi aku merasa jika itu bukan aku," jawab Eliana.
"Kalau bukan kau lalu siapa?" Sang Raja masih saja meyakini jika itu adalah Eliana.
"Mungkin ... ibu ...," jawabnya setelah sekian lama memandangi potret itu.
"Maksudmu?" Raja Gerald semakin mendekat pada Eliana.
"Ibuku, karena dulu ... ibuku juga pernah memakai gaun dengan banyak aksen seperti dalam foto tersebut," jawab Eliana sambil menunjuk pada aksen-aksen dalam gaun yang dipakai gadis dalam foto.
Itu adalah gaun khas kerajaan Noirland, selalu didesain dengan detail yang mencolok dan warna yang menarik perhatian.
Para dayang masih ada di sana memperhatikan Raja Gerald dan Eliana yang sedang membicarakan Putri mereka.
Para dayang itu ingin menginterupsi untuk memberitau yang mereka ketahui tentang gadis dalam foto tersebut, namun mereka merasa segan.
Pada akhirnya mereka hanya berbisik-bisik dan hal itu malah mengganggu Raja Gerald.
"Dayang, apa kalian tau sesuatu?" Raja Gerald melirik pada dua orang dayang yang sedang berbisik-bisik sambil berdiri di dekat pintu.
Kedua dayang itu pun saling berpandangan, sepertinya mereka ragu untuk membuka mulutnya atau tidak.
__ADS_1
"Je ... re ... my ...." Suara mengigau memotong keseriusan mereka dalam membahas gadis dalam foto.
Semuanya kembali melihat pada ibu suri.
"Yang Mulia, anda sudah sadar?" Sang dayang mendekati ibu suri, yang terlihat hendak membuka mata.
"Jangan dulu terbangun, Yang Mulia," ucap dayang yang lain menahan ibu suri untuk tidak bangun terlebih dahulu.
"Kenapa dokter lama sekali?" keluh Raja Gerald.
Para dayang itu menggeleng karena sama-sama tidak tahu.
"Minum dulu, Yang Mulia," tawar Eliana pada ibu suri.
Eliana menerima kembali gelas itu setelah ibu suri usai menyeruputnya dan kemudian di simpan di atas nakas.
Tok tok tok
"Mungkin itu dokter, biar aku yang membuka," ujar Eliana yang bergegas menuju ke arah pintu.
"Selamat pagi, dokter," sapa Eliana pada pria bersnelli putih yang masuk kamar tersebut.
__ADS_1
"Selamat pagi," balas sang dokter yang langsung masuk mendekat ke ranjang ibu suri.
Namun langkahnya terhenti karena melihat Raja Gerald, dokter itu pun memberi penghormatan.
"Hamba benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Yang Mulia Raja dari Raisilian sekarang," ujar dokter tersebut. "Hamba memberi hormat pada Yang Mulia Raja." Dokter tersebut terlihat membungkukkan badannya.
"Hormat diterima. Terima kasih sudah datang memenuhi panggilan. Bisakah segera memeriksa Yang Mulia ibu suri, dia baru saja sadarkan diri," ucap Raja Gerald.
Sang dokter pun mengangguk dan segera mengeluarkan peralatannya. "Baik, Yang Mulia."
Terlihat dokter itu menggunakan stetoskopnya, lalu sesekali mengetuk-ngetuk perut ibu suri.
Tak lama, dokter pun sepertinya menemukan penyebab pingsannya ibu suri.
"Sepertinya, ibu suri mengalami shock, Yang Mulia. Beliau pun sepertinya menderita depresi karena kepergian Yang Mulia Raja Jeremy. Hal itu menyebabkan nafsu makan ibu suri menurun, dan berdampak pada daya tahan tubuhnya. Seperti sekarang, daya tahan tubuhnya melemah, pada akhirnya beliau tak sadarkan diri," jawab sang dokter menjelaskan pada semua yang ada di sana.
"Kalau begitu, apa ibu suri akan diberi obat?" tanya Raja Gerald.
"Tentu saja!" Dokter itu mengangguk dengan sangay meyakinkan.
"Tapi ... obatnya bukan tablet seperti yang biasanya."
__ADS_1
Para dayang ikut memperhatikan dengan seksama.
"Lalu apa obatnya?" tanya Raja Gerald tak sabaran.