Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Aku Saja yang Mengobati


__ADS_3

“Tidak! Jangan!”


Keduanya pun menoleh ke sumber suara. Terdapat putri Estelle yang menolak pangeran Arshlan untuk mengambil sumpah sehidup semati bersamanya. Putri Estelle takut, jika dirinyalah yang tidak bisa terbebas dari sang pangeran ketika dirinya sudah tak ingin lagi bersama. Pernikahan politik biasanya bersifat sementara saja. Dengan adanya sumpah itu, maka mau tidak mau mereka harus bersama sampai maut memisahkan mereka.


“Kau masih di sini ternyata, anakku,” sambut sang ratu dengan tatapan yang tidak lembut seperti biasanya.


Putri Estelle mengeratkan pelukan jaket dari pangeran Arshlan tadi, ia merasa salah tingkah karena ketahuan menguping pembicaraan pangeran Arshlan dengan ibunya seperti orang bodoh yang sedang penasaran saja.


“Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, Putri Estelle! Ini perintah!” titah sang ratu tanpa basa-basi pada putrinya.


Putri Estelle hanya mengangguk dan kembali berbalik. Ia benar-benar ingin berbicara dengan sang pangeran agar membatalkan sumpah itu. Namun ibunya terlihat tidak suka jika dirinya mencampuri hal yang sudah menjadi tanggung jawab orang lain bukan dirinya.


“Aku terima kesediaanmu. Kapan akan kau laksanakan?” Sang ratu beralih lagi pada pangeran Arshlan.


“Kapan Yang Mulia Ratu menginginkannya? Malam ini?” jawab pangeran Arshlan tanpa ragu.


Ia memang tahu konsekuensi dari sumpah yang dilakukan pasangan sehidup semati di sungai El-Fithr. Baginya, tak ada masalah menjadi satu-satunya untuk putri Estelle, karena dirinya tak ada niatan untuk menikah dengan wanita lain meski nanti ia bercerai dengan sang putri. Namun, entah dengan sang putri.

__ADS_1


“Uhuuk … uhuk ….” Ratu Allura kembali dengan batuknya yang sempat mereda dua hari yang lalu.


“Uhuuuk ….” Ratu Allura memegangi dadanya dan menutup mulutnya. Ia pun melihat pada telapak tangannya. Sama seperti batuk terakhir yang dilihat oleh kepala dayang istana, batuk ratu Allura kali ini juga mengeluarkan darah.


“Yang Mulia Ratu, anda baik-baik saja?” Pangeran Arshlan mencoba memegangi ratu Allura yang sudah mulai tak seimbang lagi berdirinya.


“Uhuuk … uhukk ….” Ratu Allura mengeluarkan sesuatu lagi dari tenggorokannya.


Kali ini sang pangeran benar-benar melihat darah yang keluar lagi dari mulut calon mertuanya itu.


Namun, darah kali ini berbeda.


“Biar saya melihat, Yang Mulia.”


Ratu Allura pun pasrah menunjukkan darah-darah tersebut pada calon suami putrinya itu.


“Ini bukan sesuatu yang bisa kau sembuhkan, Pangeran. Bahkan dokter senior dari Noirland pun, hanya mampu menghambat penyebarannya bukan mengobatinya,” keluh sang ratu seraya melarang sang pangeran untuk memeriksa kondisinya.

__ADS_1


“Itu karena dokter itu tidak memiliki tenaga dalam,” jawab sang pangeran yang membuat ratu Allura terkejut.


“Maksudmu?”


“Yang Mulia, energi ini hanya dapat digunakan oleh orang yang telah mendalami teknik penguasaan tenaga dalam dari Yorksland. Ini bukan penyakit, melainkan sebuah kiriman energi yang tak semestinya ke dalam tubuh manusia yang ingin dirusaknya,” jelas pangeran Arshlan panjang lebar.


“Maksudmu, uhuuuk … ada orang dari Yorksland yang sengaja mengirim energi jahat ini?”


“Tidak seperti itu, Yang Mulia Ratu. Karena teknik penguasaan tenaga dalam dari Yorksland adalah ilmu yang disebarluaskan dan bebas dipelajari oleh siapapun. Jadi, pengirim energi itu belum tentu adalah dari Yorksland.” Pangeran Arshlan mencoba menjawab apa adanya.


“Kalau begitu, tolong carikan tenaga medis, uhuk … dari Yorksland. Uhuk … untuk membantuku! Uhuuk … uhuk ….”


“Saya akan mencoba mencari ahli medis yang paham penyakit ini. Tapi … untuk masalah pembuangan energi jahat itu, membutuhkan tenaga kerja yang sangat banyak, tidak ada warga Yorksland yang memiliki tenaga dalam sebanyak dan sekuat tenaga dalamku,” jawab sang pangeran sebelum ia  lanjutkan lagi kata-katanya.


“Jadi … biarkan saya yang akan mengobati Yang Mulia.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2