
Jika kau ingin perjodohan kita dibatalkan, temui aku sebelum aku pergi ke Raisilian. Kutunggu kau di perjalanan menuju ke bandara.
Sang putri membaca lipatan kertas kecil yang diberi oleh sang dayang. Dayang itu mengatakan bahwa surat itu adalah pesan yang diberikan oleh pangeran Arshlan saat dia mengunjungi kamar belajar tuan putri tadi.
Putri Estelle pun terburu-buru untuk pergi menyusul sang pangeran setelah ia menyelesaikan perkuliahannya dan membaca surat dari pangeran.
"Apa dia bercanda menulis ini?" gumam putri Estelle begitu mereka dalam perjalanan.
"Tuan putri, saya ragu jika kita dapat menyusul pangeran Arshlan," ucap pengawal yang tengah mengendarai mobil.
"Memangnya kenapa?" Putri Estelle terlihat kecewa jika mereka tak berhasil menyusul sang pangeran.
"Itu mobil yang membawa pangeran Arshlan, dia sedang berhenti di tepi jalan. Kita harus menyusulnya."
Mereka menunjuk pada sebuah mobil yang sedang menepi di sekitar jembatan.
__ADS_1
"Apa benar?" Sang putri terlihat senang.
"Kami tak sanggup jika harus menyusul sang pangeran dengan laju mobilnya. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang tak masuk akal."
"Tapi pada kenyataannya, sang pangeran berhenti begitu melihat mobil kita. Sepertinya pangeran Arshlan memang ingin bertemu dengan tuan putri terlebih dahulu," seloroh sang pengawal perempuan yang duduk di samping pengemudi.
Para pengawal itu hampir saja menyerah saat hendak menyusul pangeran Arshlan.
Mobil tuan putri berhenti di belakang mobil sang pangeran. Tampak pangeran Arshlan sedang bersandar di pintu mobilnya. Seperti biasa, dia menyalakan sebatang rokok sambil menunggu putri Estelle menyusulnya.
Para pengawal sang putri juga ikut turun dari mobilnya, namun mereka berjaga melindungi sang putri dengan mengamatinya dari kejauhan seperti biasanya. Mereka berdiri di dekat mobil mereka, sementara itu tuan putri berjalan mendekat ke arah pangeran Arshlan.
"Bukannya kau yang menyuruhku untuk datang ke mari melalui surat itu?" jawab putri Estelle. Ia tak berani memandang ke arah sang pangeran, karena ada sebuah rasa yang membakar hatinya kala menatap wajah tampan di hadapannya.
"Itu jika kau ingin membatalkan perjodohan kita," jawab sang pangeran dengan sedikit kecewa.
__ADS_1
"Jadi ... kau sudah menemukan cara agar kita bisa membatalkan perjanjian perjodohan ini?"
"Sebenarnya tak ada, tapi ... pamanku menyerah pada kudetanya. Aku sudah bisa kembali ke Yorksland meski aku tidak membawa calon ratu sekalipun," jelas pangeran Arshlan seraya menatap lurus ke arah sungai.
Putri Estelle melihat pangeran Arshlan dari samping. "Jadi begitu." Sang putri tersenyum getir. Ia sedikit melangkah mundur seraya berusaha tetap tegak pada posisinya.
"Aku ... aku sangat ... sangat bersyukur kalau begitu," ucap sang putri dengan senyum yang dipaksakan.
Pangeran Arshlan melirik ke arah putri Estelle. "Sudah kuduga ...," ujarnya lirih seraya tersenyum miring menertawakan dirinya sendiri
"Tapi ... apa semudah ini?" tanya sang putri sekali lagi. Ia ingin memastikan gelombang yang menghantamnya kali ini tak menyebabkan abrasi di hatinya.
"Maksudku ... kau tidak memikirkan perasaan ibu dan nenekku? Mereka pasti kecewa," lanjut tuan putri dengan suara bergetar.
"Aku harap kau bisa memberi mereka pengertian dengan baik," timpal pangeran Arshlan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu." Sang putri mengangguk dan berbalik arah, namun baru dua langkah ia meninggalkan sang pangeran, putri Estelle kembali berbalik menatap pangeran Arshlan.