
Hati yang sudah tidak bisa lagi bergantung pada asa, namun harap tak boleh pudar begitu saja.
Sebagai seorang putri yang sangat mencintai ibunya, ia tak akan merelakan ibunda tercinta pergi begitu saja. Putri Estelle keluar dari kamar ibunya setelah ia menangis berjam-jam di samping kasur ratu Allura.
Sang ratu tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa terbaring lemah, sedikit mengulas senyum, meski ada beberapa bulir bening yang juga ikut mengalir di ujung kelopak matanya.
Putri Estelle berjalan tergopoh-gopoh dengan wajah yang sembab, mata yang memerah, dan pipi yang masih basah.
"Putri, kita akan pergi ke mana?" tanya dayang sang putri.
Dayang-dayang itu kaget karena tiba-tiba tuan putri mereka keluar dengan wajah penuh air mata. Apa tuan putri baru saja menangis? Begitu dalam hati mereka masing-masing bertanya-tanya.
Tuan putri Estelle tidak menjawab. Namun langkah kakinya terus melangkah dan bergegas.
Dia pernah mengobati ibuku, dia pasti juga tau sebenarnya apa penyakit ibu dan juga penyebabnya. Aku tidak mau tau, dia harus menjawab semuanya, dan tak boleh lagi ada yang dirahasiakan dariku.
Dalam hati sang putri bertekad, ia begitu menggebu-gebu untuk segera menemui orang yang ia maksud dalam hatinya. Siapa lagi jika bukan sang pangeran dari Yorksland, yang saat ini sedang bersantai tertidur beristirahat. Karena pangeran Arshlan tadi keluar dari kamar ratu Allura terlebih dahulu, sementara sang putri masih ingin di samping ibundanya dan menangis di sana.
Tok tok tok
__ADS_1
Ketukan pintu tuan putri tidak santai sama sekali. Penjaga di depan kamar pangeran Arshlan tidak bisa mencegah.
"Pangeran Arshlan, aku masuk!" ujar sang putri. Lalu ia pun memerintahkan penjaga agar membuka pintunya.
Blam
Pintu itu ditutup kembali setelah sang putri masuk dalam kamar.
Sementara itu, penghuni kamar terperanjat dan terkejut melihat kedatangan sang putri.
Namun putri Estelle tak kalah terkejutnya karena melihat orang yang berbaring di atas kasur itu hanya menggunakan celana boxer pendek saja tanpa yang lainnya.
"Kenapa kau tidak pakai baju?" sentak sang putri sambil memalingkan wajah dan menghalangi pandangan menggunakan telapak tangannya.
"Aku sudah mengetuk pintu!"
"Ah, sudahlah." Pangeran Arshlan pun berdiri dari ranjangnya. "Ada yang ingin kau katakan, kemarilah!" Sang pangeran melambaikan tangannya.
"Kau pakai baju dulu!"
__ADS_1
"Aiish! Aku merasa gerah, sudahlah, sebentar lagi kita, kan, akan menikah." Pangeran Arshlan langsung berusaha menggoda tuan putri.
"Dasar mes*um!" umpat putri Estelle seraya berbalik.
Pangeran Arshlan pun sedikit tertawa. "Sudahlah, katakan saja apa yang ingin kau katakan! Tak perlu hiraukan tumbuhku yang bagaikan feromon yang kental ini. Aku yakin kau pasti tergoda!"
Putri Estelle menghentak-hentakkan kaki dan berjalan mendekat untuk duduk di ranjang pangeran Arshlan.
Kalau bukan karena ibu, aku tidak mau. Tidak akan pernah mau!
Gerutunya dalam hati berulang kali.
"Ada yang ingin kutanyakan."
"Katakan saja!" titah sang pangeran dengan santai memamerkan dada bidangnya meski putri Estelle terlihat sangat risih.
"Aku ... aku ... aku ingin tahu, apa penyakit ibu yang sebenarnya?" tanya sang putri dengan agak gugup dan canggung.
"Yang Mulia Ratu Allura, memiliki energi hitam yang tertanam dalam tenggorokannya. Tepatnya, di katup epiglotis, pada pangkal lidahnya. Energi hitam itu, bersifat parasit dan menyebar ke hampir seluruh organ vital milik Yang Mulia ratu dan merusaknya."
__ADS_1
"Energi hitam? Tertanam dalam tenggorokannya? Kenapa bisa begitu?"
"Kenapa bisa begitu? Aku juga tidak tahu. Tapi ... aku punya satu dugaan."