Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Dayang Gadungan


__ADS_3

Cklek cklek


Kenapa dayang itu memaksa masuk?


Putri Estelle kembali mengangkat guci yang ada di tangannya. Ia berniat untuk memukul orang yang mengetuk pintu kamarnya, bila sang dayang tersebut memaksa masuk dan berniat jahat.


Jantungnya berdebar, kehilangan pengawalnya yang tertangkap membuat ia merasa sendirian tanpa pengawalan.


"Aku tidak boleh mati konyol di Raisilian," gumamnya dengan waspada.


Cklek cklek


Tatapan sang Putri kembali tertuju pada knop pintu yang berputar-putar.


Dug dug dug


Brak


Pintu kamar Putri Estelle akhirnya berhasil terbuka dengan paksa. Hal itu membuat gadis terhormat dari Noirland tersebut semakin mengeratkan pegangannya pada guci yang ia angkat.


Tangannya gemetar, sepertinya ia bahkan tidak ada keahlian untuk melempar guci tersebut tepat sasaran.


"Tuan Putri," panggil sang dayang yang berhasuk ke dalam kamar Putri Estelle. Dayang tersebut belum menyadari jika orang yang ia cari bersembunyi di balik pintu.


Bluk

__ADS_1


Putri Estelle mendorong pintu kamarnya agar tertutup.


"Siapa kamu!" teriak Putri Estelle dengan setengah berdebar.


"Oh, hai, Putri Estelle." Sang dayang itu pun berbalik, kini wajahnya berhadapan dengan sang Putri. "Di situ kau rupanya." Dayang tersebut mengeluarkan senyum miringnya.


"Jangan berbasa-basi!" Putri Estelle menodongkan gucinya. Dia tampak ketakutan. "Kamu bukan dayangku yang biasanya!"


"Aku memang bukan dayangmu!" Sang dayang itu mengangkat dagunya dan berjalan mendekat pada Putri Estelle yang sedang menodongnya dengan sebuah guci.


"Jangan mendekat," ujar Putri Estelle yang gugup ketakutan.


"Heh," cibir si dayang yang menyingkirkan tangan Putri Estelle.


"Siapa kamu sebenarnya?" Napas sang Putri memburu, ia semakin mundur dan merapat ke pintu atas desakkan si dayang.


Dayang itu mengangkat tangannya, dan mengarahkan jemarinya ke leher putri Estelle.


Mata sang Putri seketika membelalak. Jantungnya semakin berdebar karena gerakan dayang di hadapannya yang sangat mengintimidasi.


Aku tidak mau mati di tangan dayang Raisilian ini. Tidak boleh!


Ketika tangan si dayang berhasil menyentuh leher sang Putri. Ibu jari dan telunjuknya meregang dan menempelkan pada leher Sang Putri.


Putri Estelle meringis, ia merasa tekanan pada lehernya semakin erat. Ia tutup matanya dan tak berani lagi menatap dayang gila di hadapannya.

__ADS_1


Namun ... sepuluh detik kemudian. Cengkeraman di lehernya mengendur dan diiringi suara tawa yang khas membahana. Suara gelak tawa yang sangat ia kenali dan juga sangat ia benci.


"Hahaha hahahaha ...!"


Putri Estelle pun membuka matanya, ia tak percaya dengan sang dayang yang begitu labil emosinya ini.


"Kau takut?" cibir si dayang dengan suara berbeda kali ini.


Putri Estelle kembali tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kau memang benar-benad putri raja yang cengeng! Pantas kau mendapat julukan sebagai Putri raja yang payah! Bahkan ayah sama sekali tidak menyukaimu!" hardiknya sambil melepas jepitan satu per satu yang tersemat di rambutnya.


"Kau, kau!" tunjuk Sang Putri.


"Hei! Jangan teriak! Nanti orang lain mendengar!" Kini si dayang berhasil membuka semua jepit itu dan melepas sanggul buatannya.


Rambutnya dayang itu digerai cukup indah, kemudian ia melepas sebuah kulit sintetis yang tertempel di wajahnya. Ia tarik terlebih dahulu dengan hati-hati hingga mengelupas di atas wajahnya.


"Kau ... kau ...!"


Sang Putri hampir saja histeris. "Putri Emilda! Pulanglah! aku tidak butuh bantuanmu!"


"Oh, begitu, sang pengawal di depan adalah pengawal yang aku bawa dair Noirland, itu ... saataku kau kehilangan pengawal, aku berusaha membantu. Tapi kalau kau anggap, buruk, ya ... sudah!"


Putri Estelle mencibir.

__ADS_1


__ADS_2