
"Nyonya Eli, apakah ada hal yang bisa saya bantu?" Dayang Emma datang sangat terlambat, Eliana sudah selesai memandikan dan menyusui bayi Kevin. Bahkan kamarnya pun sudah sempat dibersihkan oleh Eliana seorang diri.
Jika dayang itu adalah bibi Odeth, maka semuanya akan sudah diselesaikan oleh bibi Odeth saat fajar mulai menyingsing.
Eliana bingung harus menjawab apa, ia hanya belum makan dari tadi. Namun biasanya, dayang akan membawakan makanan untuknya tanpa diminta, seperti yang bibi Odeth lakukan.
"Eemmm, sebenarnya, semuanya sudah selesai. Aku hanya belum makan saja, bisakah kau mengambilkan makanan untukku?" pinta Eliana pada dayang tersebut.
"Baik, Nyonya," jawab dayang Emma. Dayang tersebut berjalan sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, sungguh hal yang sangat tabu dilakukan oleh seorang wanita yang tinggal di lingkungan istana.
Eliana menatap aneh pada dayang tersebut. Mengapa bisa ada dayang yang tidak memiliki etiket terpilih menjadi dayang istana?
Lagipula, dayang itu selalu memanggilnya dengan sebutan 'Nyonya', bukankah sebutan itu hanya untuk wanita dewasa yang sudah menikah?
Eliana menggeleng-gelengkan kepalanya bila mengingat keanehan gelagat dayangnya.
"Kenapa Yang Mulia belum saja mengganti dayang Emma? Padahal waktu itu, Yang Mulia berjanji akan menggantinya," gumam Eliana.
*
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar Eliana, dayang gadungan itu berjalan menuju kamar sebelah, yakni kamar Raja Gerald. Para penjaga mengabaikan keberadaan dayang yang sedang menatap mereka.
"Aku diminta oleh nyonya Eli untuk membersihkan kamar Yang Mulia Raja. Bolehkah aku masuk?" pinta dayang Emma.
Para pengawal saling melirik satu sama lain. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengizinkan dayang itu masuk tanpa rasa curiga sedikit pun.
Cklek
Brak
Secepat kilat dayang itu menutup kembali pintu kamar begitu ia masuk. Putri Emilda yang sedang menyamar itu pun tersenyum menyeringai. "Mudah sekali mengelabui orang-orang di Raisilian!" ungkapnya dengan tatapan licik.
"Kira-kira ... dimana jatuhnya, ya?" Dayang itu memutarkan matanya mengitari lantai demi lantai yang ada di kamar Raja Gerald.
"Aha ... pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kau memang putri kebanggan Noirland, Emilda!"
*
Pesta minum teh, memang identik dengan para wanita bangsawan. Hanya satu-dua orang pria yang berkenan untuk bergabung bersama, itu juga bila mereka ada kepentingan.
__ADS_1
Sama halnya dengan Raja Gerald, jika bukan karena ingin mengumumkan niat pernikahannya, maka ia pun tak ingin mengikuti pesta minum teh yang sangat tidak sesuai dengan gayanya.
Duduk bersantai pada kursi yang mengitari meja, mengobrolkan topik-topik hangat untuk berbasa-basi dengan para tamu, dan menikmati makanan-makanan manis yang tersedia di meja. Baginya semua hal seperti ini, sangat membuang waktu. Lebih baik ia membaca laporan arus kas kerajaan, atau mempelajari kasus-kasus kemanusiaan yang sedang terjadi di kerajaannya.
Sang Raja duduk bersantai di sebuah kursi tunggal berwarna putih yang berada di samping tanaman lilac. Berbicara tentang bunga lilac, ia mengingat kisah cinta antara ayahanda dan ibundanya, yang dilambangkan seperti bunga lilac. Karena keduanya saling mencintai dan merupakan orang pertama dalah kehidupan percintaan mereka.
Jika begitu, apa bedanya antara dirinya dan Eliana yang juga sama-sama menjadi yang pertama bagi satu sama lain.
"Sepertinya, aku akan membangun sebuah taman lilac untuk Eliana, tentunya lebih mewah dari milik ayah dan ibu," gumam Raja Gerald sambil tersenyum-senyum.
Ia pun memasukkan tangannya ke saku kanan sambil meraba kalung berharganya.
"Apa? Tidak mungkin?"
Raja Gerald meneguk ludah berkali-kali, ia baru menyadari, jika saku celana yang ia gunakan, berlubang.
*
Bersambung ...
__ADS_1
Masuk ke konflik inti ya setelah ini ....
Siap-siap, karena setelah ini banyak episode yang bikin esmosi.