
"Yang Mulia Raja sangat menyukai teh chamomile, aku mendapati banyak sekali bahan-bahan herbal di bar stool kamarnya dulu. Sepertinya ... dia selektif sekali dalam hal makanan ya, Bi?" Eliana berbicara pada bibi Odeth sambil menyusui bayi Kevin.
Kini air susu Eliana sudah mulai keluar, semakin sering dipompa semakin banyak air susu yang keluar.
Eliana telah resmi menjadi ibu susu bayi Kevin, karena bayi gembul itu telah mencicipi air susu Eliana yang asli. Namun sayangnya, Sang Raja belum mendengar perkembangan baik yang signifikan ini.
Semenjak hari dimana terjadi pencuri yang mencoba menyusup ke ruang kerja Raja Gerald, Sang Raja disibukkan dengan berbagai urusan. Sehingga ia sudah jarang lagi melakukan aktifitas 'rumah-rumahan' bersama Eliana yang menyenangkan.
"Sejak dulu, Yang Mulia Raja Gerald memang sangat menyukai makanan dan minuman alami tanpa bahan kimia sintetis, Nona. Tidak seperti Baginda Raja Gabriel apalagi seperti kakaknya, Raja Gerry." Bibi Odeth menjawab perkataan Eliana yang sebelumnya.
"Bagus juga, jarang sekali ada kaum bangsawan yang rela memakan makanan minim perasa demi kesehatan," komentar dari Eliana.
"Itu adalah kebiasaan yang ditularkan dari Yang Mulia Ibu Suri Ratu Paula," jawab bibi Odeth.
"Jadi begitu ...?" Eliana mengangguk-angguk mendengar jawaban bibi Odeth.
"Waah, sepertinya sekarang bayi Kevin bisa puas menyusu pada mamanya," ujar bibi Odeth begitu melihat bayi Kevin yang menghisap dengan rakusnya.
"Iya, Bi! Aku senang sekali, rasanya seperti benar-benar memiliki anak sendiri. Meskipun aku tidak mengandung dan melahirkan, namun bisa menyusui seperti ini, rasanya membuatku berhasil menjadi ibu." Eliana menatap bayi Kevin berkaca-kaca. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia mengusap surai bayi Kevin yang juga sedang menatapnya.
"Yah, semoga kamu juga berhasil menjadi istri dari Raja Gerald. Hihihi," goda bibi Odeth yang membuat pipi Eliana memerah.
__ADS_1
"Bi, apa pantas aku menjadi seorang Ratu?" Eliana selalu merasa berkecil hati jika disandingkan dengan Sang Raja.
"Wanita sebaik dirimu, mengapa harus tidak pantas?"
"Aku tidak sebaik itu, Bi."
Lama mereka mengobrol, bayi Kevin pun semakin terlelap dalam pangkuan Eliana. Si pipi gembul itu juga sudah melepas kulumannya.
"Sepertinya aku harus menidurkan Kevin," ujar Eliana sambil berdiri menggendong bayinya yang semakin berat itu.
"Yang Mulia Raja Gerald telah tiba ...!" teriak Sang Pengawal memberitahu pada Eliana.
Sang Raja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Bersamaan dengan itu, bibi Odeth pun keluar menyediakan ruang bagi Sang Raja untuk leluasa berbincang dengan Eliana.
"Eli?" sapa Sang Raja dengan suara beratnya yang langsung bisa menggempur hati Eliana.
"I-iya, Yang Mulia," gugup Eliana sambil memalingkan muka.
"Ini bukan yang pertama kali, sudah kubilang, aku paling benci dengan orang yang memalingkan wajahnya ketika berbicara denganku!" Sambil melipat tangan di depan dada, Sang Raja menghampiri Eliana.
Dengan memberanikan diri, Eliana pun menatap ke arah Sang Raja. "I-iya Yang Mulia," jawab Eliana.
__ADS_1
Raja Gerald tersenyum tipis. Sudah lama aku tidak melihatnya, kenapa aku sesenang ini sekarang?
"Bagaimana dengan Kevin?" tanya Sang Raja sambil berjalan terus menuju ke arah box bayi.
"Dia sudah tertidur pulas, Yang Mulia," jawab Eliana seadanya.
"Lama kita tidak berjumpa, sekalinya aku menjengukmu, kau malah tertidur!" keluh Raja Gerald seakan bayi Kevin itu bisa diajak berbicara. "Apa kau tidak merindukan Papamu ini?"
Eliana terkejut dan menoleh. "Apa? Papa?"
"Kenapa, kau tidak suka?"
*
Hai teman-teman, seharian mati lampu nggak ada sinyal sinyal. Sorry telat banget nih, huft.
Oh, ya, aku mau ngasih tau kalau sekarang aku jga nulis di dream*/*******. Buat yang punya aplikasinya, tolong dukung aku di sana juga. ya.
Cari ceritaku di sana yang berjudul "Desember", lalu tap love ya. Di sana ceritanya lebih panjang per partnya, dan masih gratis.
Terima kasih.
__ADS_1