
"Tidak. Berkaca dari kerajaanku, tidak semuanya setia pada kita. Lalu, kudengar Noirland akan memberikan wilayahnya untuk dipimpin oleh Raisilian sebagai hak warisan untuk putri mahkota yang hilang, Ratu Eliana. Di tanah yang akan diwariskan itu, sumber daya alam logam mulia sangat melimpah dan memang sudah digunakan untuk pertambangan. Jadi ... sayang jika hutan ini digunakan sebagai lahan tambang. Belum lagi menyiapkan area pembuangan tambang yang menguras tenaga, biaya, waktu dan pikiran. Tapi itu hanya saranku. Lalu jangan sampai anggota kerajaan lainnya tahu, agar keberadaan tambang itu, tetap menjadi rahasia."
"Yang Mulia Ratu benar. Saya dan istri saya memang berpikir untuk merahasiakan keberadaan tambang ini. Apalagi kerajaan kita mendapat wilayah Noirland yang sudah memiliki tambang emas cukup melimpah." Sang raja mengangguk membenarkan.
Keduanya pun terdiam sambil menikmati pemandangan hutan konservasi yang belum dirusak akibat kejadian dari pangeran Aro.
Lalu ketika keduanya sedang larut pada pemandangan, seorang pengawal datang menghampiri mereka dan membisikkan sesuatu ke telinga raja Gerald.
Tiba-tiba saja mata sang raja berbinar-binar dan ia tersenyum lebar.
"Ada apa?" tanya ratu Maria dengan penasaran.
"Yang Mulia Ratu, saya harus segera kembali ke kerajaan. Ibunda ... ibunda ... sudah sadarkan diri," jawab raja Gerald bersemangat.
Bersama para pengawalnya, ia pun kembali ke istana untuk membuktikan kabar yang ia dengar.
*
Sementara itu, putri Estelle telah berdandan cantik dibantu oleh para pelayannya. Ia mengusir pangeran Arshlan dari kamarnya lagi, dan mengancam jika sang putri tidak akan pernah mau menikah dengan sang pangeran jika pangeran mengganggunya lagi.
"Kapan aku diizinkan pulang? Aku merindukan nenekku." Sang putri bertanya pada para pelayan yang sedang melayaninya.
__ADS_1
"Nanti, Tuan putri. Setelah para dokter menyatakan fisik dan kejiwaan tuan putri benar-benar pulih," jawab salah seorang pelayan.
"Ah, yang benar saja." Putri Estelle mengeluh.
Brak
Semuanya terkejut dan melihat ke arah pintu. Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap terengah-engah. Sepertinya, ia baru saja memaksa para pengawal untuk membuka pintu kamar sang putri.
"Ke-kenapa kau bisa masuk lagi?" ujar sang putri terkejut.
"Kau sudah berdandan dengan cantik rupanya?" Pria yang tidak lain adalah pangeran Arshlan itu malah berbasa-basi. "Pelayan, bisakah kalian tinggalkan kami berdua!"
Titah sang pangeran membuat mereka takut dan menurutinya.
"Akhirnya kau mandi juga." Pangeran mendekat pada sang putri.
"Untuk apa ke mari?" tanya sang putri dengan sinis.
"Ada yang ingin kukatakan sebenarnya. Tapi ... aku lupa," ucap sang pangeran sambil menunjukkan seringainya.
"Hiiish! Berhentilah berbasa-basi."
__ADS_1
Pangeran Arshlan mendekati putri Estelle. Lalu membelai wajah cantik itu.
Plak
Putri Estelle menepis tangan pangeran Arshlan.
"Ibuku akan datang ke mari," ujar sang pangeran seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Lalu?"
"Apa kau mau menemuinya?"
"Hanya menemuinya, kan? Oke, aku tidak keberatan."
"Menemuinya sebagai calon istriku."
"Tidak! Hubungan kita tidak sedekat itu. Bahkan pertunangan kita batal akibat insiden dua hari yang lalu."
"Apa kau lupa, kalimat yang kau ucapkan saat aku menyelematkanmu di lahan konservasi?"
Putri Estelle mengerjap-ngerjapkan matanya.
__ADS_1
"Kata-kata yang mana? Aku tidak ingat!" Putri Estelle kembali membuang pandangan.
Sang pangeran tersenyum, lalu ia dekatkan wajahnya hingga terasa embusan napas putri Estelle. "Aku mencintaimu."