
“Tuan Putri, jangan lari!” teriak para dayang yang mengejar sang putri. Mereka takut bila nyonya dosen akan menjadi marah lagi.
“Biarkan dia!” larang nyonya Arumi yang menghentikan langkah para dayang.
Dayang-dayang istana itu pun menundukkan kepalanya dan mundur kembali. “Ta-tapi, Nyonya ….”
Alih-alih menjawab rasa keberatan dari para dayang itu, nyonya Arumi membereskan barang-barang miliknya. “Tolong bersihkan pula barang-barang milik putri Estelle! Simpan lembaran kuis itu berada di paling atas.”
“Baik, Nyonya!”
Tak ada suara, mereka semua patuh dan membersihkan meja sang putri. Menyimpan lembaran soal yang mereka letakkan paling atas sesuai arahan nyonya Arumi.
“Pastikan tuan putri mengerjakan tugasnya malam ini sesuai dengan janjinya! Aku pulang!”
Para dayang memberi salam hormat pada nyonya Arumi.
Tap tap tap
Langkah nyonya Arumi pun membawanya meninggalkan ruang belajar milik putri Noirland itu.
*
Ketika di ruang belajar meninggalkan kesunyian setelah kepergian nyonya Arumi dan selesainya para dayang membersihkan ruangan itu, putri Estelle telah berada di dalam ruangan ibunya, bersama ratu Allura dan ibu suri Theresa, neneknya.
Dengan terengah-engah, sang putri menutup kembali pintu ruangan itu dan menghampiri kedua wanita di tengah perbincangan mereka.
__ADS_1
“Ada apa, Sayang?” tanya ratu Allura dengan senyum penuh kebijaksanaan seperti biasanya.
“Ibunda … nenek …?”
“Ke mari lah!” Ibu suri menepuk sofa di sampingnya, meminta sang putri untuk duduk di sana.
“Emm … ada yang ingin kubicarakan,” ujar sang putri agak ragu saat ingin memulai perkataannya.
“Ada apa? Kepada ibu kah? Atau kepada …?”
“Kepada nenek, ya?” sela ibu suri.
“Kepada kalian berdua,” jawab sang putri dengan nada rendah dan memelas.
Ia menimang-nimang, sebenarnya … ingin ia katakan pada neneknya saja terlebih dahulu. Tapi … ibunda juga sedang berada di sana. Pasalnya, ibundanya terlanjur tahu jika putri Estelle lah yang menginginkan pernikahan ini, yang ratu Allura tahu adalah putrinya dan pangeran dari Yorksland saling jatuh cinta dan ingin menikah. Semua ini akibat dari perbincangan mereka bersama pangeran Arshlan tempo hari.
“Sayang …?” panggil ratu Allura memutus pemikiran putri Estelle.
“Ah, i-iya ibunda,” gagap sang putri.
“Jika kau masih ragu untuk mengatakannya. Biarkan kami yang berkata terlebih dahulu kepadamu.”
“Ya, benar! Ada sesuatu yang ingin kami beri tahukan padamu!”
Mengerjap-ngerjapkan matanya. “Ada apa?”
__ADS_1
“Lihat ini!”
Putri Estelle menerima sebuah lembaran dari neneknya. Dirinya pun membaca lembaran dengan logo laboratorium milik salah satu rumah sakit ternama di Noirland.
“Hasil tes DNA?” Ia menatap kedua wanita yang lebih tua darinya itu bergantian.
“Bacalah!” seru ratu Allura antusias.
Dimulai dari awal, hingga akhir. Tak ada satu kalimat pun yang ia lewati. Tiba-tiba seutas senyum diiringi setitik air mata pun terbit dari wajahnya.
“Ibu … nenek … ini tidak salah, kan?”
Ibu suri Theresa menggelengkan kepalanya. “Ini benar, Nak!”
Sang putri jatuh bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu. Gaun yang ia pakai pun basah oleh air mata yang mengalir begitu derasnya.
“Aku … aku … punya saudara?” ucap putri Estelle terharu.
“Kau benar, sayang.” Ratu Allura menghapiri sang putri dan membimbingnya.
“Apa Eliana sudah tahu ini?” tanya putri Estelle.
“Seharusnya sudah. Salinan dari laporan hasil tes DNA ini sudah dikirim melalui surel ke Raisilian. Lebih baik kau hubungi saja Eliana.”
__ADS_1