Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pusat Perkebunan Arshville 2


__ADS_3

"Kami tidak bisa menanam apa-apa lagi, jangankan bercocok tanam. Sekedar menyemai biji cabai di pekarangan depan rumah pun, kami dilarang," balasnya seraya mengenakan kembali topi untuk menutupi kepala plontos yang berkilatan terkena cahaya matahari.


"Yang Mulia, ini keterlaluan!" Eliana menghentakkan kaki di depan sang raja. "Kita harus melakukan sesuatu!"


Raja Gerald sedikit memundurkan badannya dan juga mengangkat alisnya. Heran! Ya! Baru kali ini dia melihat wajah marah Eliana yang seserous ini. Biasanya, ia hanya melihat wajah marah penuh manja Eliana ketika cemberut karena ia mencuri ciuman gadis itu.


Ingin tertawa, tapi ia takut membuat Eliana semakin marah. Jadi ia diam saja, sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Yang Mulia, bukankah ada rencana pemberhentian jabatan untuk perdana menteri Arshville? Aku mendengar kalian membahas ini di pesawat tadi," ujar Eliana pada Raja Gerald dan juga Antony.


Kedua pria itu mengangguk lagi.

__ADS_1


"Lalu, kenapa tak segera diberhentikan saja?" tanya Eliana.


Raja Gerald dan Antony berpandangan. Lalu sebelah tangan Yang Mulia Raja mengusap-usap lembut pucuk kepala Eli.


"Tidak semudah itu, Nona manis." Senyum sang raja terbit menyertai sanggahannya.


"Kita hanya menerima peraduan akan perilaku buruk perdana menteri, bukan berarti setelah mendapat peraduan kita langsung mengeksekusi. Bagaimanapun juga, kita harus punya bukti yang kuat terlebih dahulu untu melandasi tuntutan kita. Kalau kita tidak punya bukti, maka kita tidak bisa menuntut perdana menteri agar turun dari posisinya," jelas sang raja tanpa melepas tangannya dari kepala Eliana.


"Karena ... kami sudah tidak tahan. Kami harus membeli hasil panen kami sendiri, itu juga dengan harga yang sangat tinggi dari pemerintah daerah. Sehingga gaji kami bekerja sebagai buruh hanya cukup untuk membeli bahan pangan dari pemerintah daerah. Bagaimanapun juga, kebutuhan hidup kami sebagai rakyat Arshville bukan hanya makan. Mereka sama saja memutarkan uang mereka, untuk diri mereka sendiri." Tuan Edmund semakin bersedih.


"Bagaimana jika kita desak agar perdana menteri mau mengembalikan lahan rakyat yang ada di pusat perkebunan?" usul Eliana.

__ADS_1


"Jika kita ikut kembali memaksa, lalu apa bedanya kita dengan mereka, sayang? Dulu mereka mendapat tanah itu dengan paksaan, jika kita balas merebut tanah itu kembali dengan paksa. Maka kita juga sama saja dengan mereka," jawab sang raja mengingatkan Eliana.


"Bagaimana kalau begini, untuk sementara aku akan berdiskusi dengan perdana menteri. Setidaknya agar kalian diizinkan menanam lagi, paling tidak di sekitar rumah kalian. Masalah lahan dan pembayaran upah kerja, biar aku cari jalan keluarnya," terang sang raja pada tuan Edmund.


"Hamba pasrah bagaimanapun keputusan Yang Mulia Raja. Pengaduan yang kami sampaikan kepada pihak kerajaan adalah jalan terakhir bagi kami untuk memperbaiki keadaan." Tuan Edmund terlihat pasrah.


"Jangan bersedih. Setidaknya tuan dan penduduk Arshville lainnya, masih bisa bercocok tanam di depan rumah kalian, kan?" hibur Eliana.


"Tapi ... sudah tidak ada tanah sekitar rumah kami. Semuanya sudah tertutup oleh plester semen dan juga blok paving. Sepertinya menanam di sekitar rumah, tidak mungkin."


Eliana tampak berpikir lalu ia pun tersenyum. "Asal sang raja berhasil menegosiasikannya, aku punya caranya!"

__ADS_1


__ADS_2