Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Seorang Pewaris Tahta


__ADS_3

“Bu? Ibu? Apa yang sedang ibu lakukan?” tanya Rose dan Vivian pada ibunya.


“Anak-anak b*doh! Berlutut!” bentak sang ibu pada Rose dan Vivian.


Mendengar sentakan dari sang ibu, Rose dan Vivian merasa aneh. Mereka berdua tidak serta merta melakukan yang diperintahkan ibu mereka. Melainkan saling memandang satu sama lain lalu bertanya-tanya seakan saling menyiratkan kata, apakah ibu sedang pura-pura? Keduanya mengedikkan bahu mereka.


“Sudah, Ibu! Bangkitlah, kau tak perlu merasa seperti ini,” Ucap Ratu Eliana sambil mengusap pundak Adriana.


“Apa benar yang diucapkan kedua saudara tiri itu bahwa sang Ratu pernah menelantarkan mereka?”


“Apa mungkin jika sang ratu yang sangat baik seperti ini tidak mengakui mereka sebagai  saudara?”


Ucapan-ucapan sumbang kembali terdengar, Rose dan Vivian merasa harus meyakinkan para warga untuk percaya pada mereka. Namun ….


“Tidak! Kalian semua salah,” bela Adrian di depan tamu undangan yang menjelek-jelekkan Eliana karena perkataan buruk anak-anaknya. “Yang Mulia Ratu Eliana adalah orang yang penuh kasih dan menyayangi sesama. Dia tidak pernah menelantarkan kami, dia selalu peduli dan sering mengirimi kami makanan untuk di kampung. Kalian jangan percaya pada gosip murahan yang telah kalian dengar dari orang tak bertanggung jawab.” Adrian melirik ke arah Rose dan Vivian.

__ADS_1


“Apa kita berbuat salah?” tanya Rose.


“Atau ibu kita yang sedang bermain akting?” timpal Vivian.


“Terima kasih atas kebaikan kalian berdua,” ucap Eliana sambil memegang kedua tangan saudaranya.


Kedua saudara Eliana terperangah, namun tak mungkin ia melawan dan menunjukkan kebencian mereka di tengan acara milik istana. “Sa-sama-sama!” jawab mereka gugup secara bersamaan.


“Ibu, saya akan kembali bersama yang mulia raja, jika ibu membutuhkan sesuatu, silakan memanggil para pengawal,” ucap Eliana seraya berbalik dan berlalu. Punggungnya yang terbuka menunjukkan kulit mulus sang Ratu, mereka semua terlihat takjub untuk kesekian kalinya. Sang dayang dari belakang mengekor pada sang ratu sambil memegangi gaun yang terseret di lantai.


Putri Estelle sedang duduk di bangku para dayang, ia melirik ke sana ke mari mencari sesosok pria bertubuh tinggi dengan hidung bak perosotan dan mata setajam elang. Pria yang selalu membawa pistol di balik jas nya, celananya, dan kaos kakinya.


Namun nihil, yang ia cari tak ada. “Pasti si psikopat itu sedang ingin memburu mangsa, makanya dia tidak datang,” gerutu sang putri. “Ah persetan, aku tak peduli dengan laki-laki tak punya hati mascam dia.” Meski mulutnya berucap tak peduli, nyatanya ia tetap membuka terlinganya lebar-lebar untuk ikut mendengar kabar dari pria tersebut.


“Baru kali ini ada Yang Mulia Raja mau menikah dengan orang biasa dan menunjukkannya ke depan publik?” ujar  tamu undangan yang terdengar oleh putri Estelle.

__ADS_1


Putri Estelle menoleh sambil mengerutkan alisnya. Sepertinya rakyat Raisilian belum tahu fakta lain mengenai ratu barunya.


Ting ting ting


Putri Estelle mengangkat gelas dan mengetuknya sekejap.


“Para undangan silakan berkumpul dan dengarkan kami.” Putri Estelle menghimpun para tamu dan melirik pada Raja Gerald. Sang raja tersenyum yang mengandung arti silakan pada putri Estelle.


“Jadi, ibu-ibu, bapak. Saya di sini ingin mengucapkan terima kasih mewakili keluarga kerjaan atas kedatangan kalian semua,” ucap sang putri basa-basi.


“Saya ingin memberi tahu, bahwa Ratu Eliana bukan berasal dari kalangan rakyat biasa. Dia juga merupakan seorang pewaris tahta, dari kerajaan Noirland.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2