
Ratu Allura telah menahan sakitnya sejak lama. Ia tidak bermaksud menutupi penyakit itu, namun yang ia pikir adalah ini hanya batuk biasa dan sesak napas yang hanya perlu banyak minum air hangat lalu esok pun sembuh. Begitu pada awal mulanya.
Ia tak menyadari jika itu adalah sesuatu yang perlu diperhatikan, bahkan ketika ia meminum obat dari dokter istana, batuk itu langsung bisa sembuh dan napasnya pun menjadi semakin ringan.
Namun, dua hari setelah itu, batuk dan sesak napas sang ratu kambuh lagi. Begitu seterusnya hingga beberapa kali.
Kemudian, didatangkan dokter senior karena dianggap penyakit ratu ini tak sembuh-sembuh. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter senior mengajak sang ratu berbicara secara pribadi. Sang dokter senior mengatakan jika penyakit milik ratu disebabkan adanya energi asing yang tertanam di saluran pernapasannya.
Dokter tersebut memberikan sebuah resep yang bisa digunakan untuk mencegah penyebaran energi asing dalam tubuh ratu karena dirinya belum memiliki ilmu untuk mengeluarkan energi tersebut.
Sang ratu pun meminta pada dokter senior istana itu, untuk merahasiakan perihal penyakitnya tersebut. Untuk sementara, penyakit sang ratu tak menunjukkan gejala-gejala yang membahayakan dirinya.
Itulah sebabnya, hingga hari ini pun putri Estelle mengira penyakit pernapasan yang diderita ibunya adalah asma.
__ADS_1
“Ibu, apa kematian ayahanda raja masih mengganggu pikiranmu hingga saat ini? Semakin hari kulihat kau semakin tidak bersemangat.”
Malam itu, putri Estelle sedang berada di balkon istana bersama sang ibu. Sang putri yang sudah datang sejak dua hari yang lalu, tak mengetahui perihal kambuhnya penyakit ratu Allura dan penyakit itu tambah kronis. Hal ini karena sang ratu melarang seluruh dayang dan pengawal untuk memberi tahu ibu suri dan sang putri.
“Aku tidak apa-apa, sayang. Kau sendiri, bagaimana? Apa hubunganmu dengan pangeran Arshlan sudah baik-baik saja?” Terlihat sekali ratu Allura ingin mengalihkan pembicaraan mengenai kesehatannya.
“Emmh, i-iya, begitulah.” Putri Estelle enggan menyebutkan lagi tentang pangeran Arshlan.
Berbicara tentang pangeran Arshlan, ia jadi teringat tentang wanita bernama Shui yang mengobrol dengan sang pangeran waktu itu. Namun, ia tersenyum dan merasa telah memiliki sebuah ide brilian untuk mengakhiri hubungannya dengan sang pengeran.
“Aku merasa hubunganku dengan pangeran Arshlan tak pernah cocok. Lagipula, pangeran Arshlan sendiri sepertinya sudah memiliki wanita lain dalam hidupnya,” ucap sang putri berusaha meyakinkan.
Ratu Allura mengerutkan dahinya. Ia tak pernah sedikitpun terpikirkan jika pangeran Arshlan akan mengkhianati putrinya. “Kau jangan menuduh calon suamimu seperti itu, kepercayaan satu sama lain dalam menjalin sebuah hubungan itu sangat mungkin, anakku. Sebagai seorang calon ratu, kau harus menjauhkan pikiran negatif pada suamimu.”
__ADS_1
“Tapi ini benar, Ibu. Pangeran Arshlan sudah tidak mencintaiku lagi. Bagaimana kalau kita batalkan saja perjodohan ini?”
“Tidak, Putri! Kita harus bicarakan ini baik-baik dengan pangeran. Ibu mau mendengar langsung pernyataan dari pangeran jika dirinya benar berselingkuh.”
“Ibu …. Jika ibu yang bertanya padanya, tentu saja dia tidak akan mengaku. Dia itu sudah punya wanita lain, kita batalkan saja tanpa harus memberitahu pada pangeran. Apa tidak bisa?”
Sang ratu menatap lekat-lekat pada anaknya. “Tentu tidak bisa!”
“Perjodohan ini ada karena persetujuan kedua belah pihak, maka pembatalannya juga harus dari kedua pihak,” sanggah sang ratu sekali lagi.
“Maaf menginterupsi pembicaraan kalian berdua. Selamat malam, calon ibu mertua….”
__ADS_1