Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Rapat di Arshville


__ADS_3

"Eliana tidak bersalah!" Raja Gerald mulai terpancing emosinya.


Diskusi pada rapat gabungan yang sejak tadi berbelit-belit dan selalu berusaha menyudutkan Eliana. Padahal sudah jelas, pencuri sebenarnya adalah Emilda, Putri dari Kerajaan Noirland.


"Tapi dia memiliki kalung itu, Yang Mulia. Jangan tutup mata anda, hanya karena kau jatuh cinta padanya!" Seorang menteri membalas perkataan sang Raja dengan sindiran pedas.


"Eliana memiliki kalung itu karena itu peninggalan ayahnya! Kenapa kalian mempermasalahkan warisan milik seseorang dari orang tuanya!" Raja Gerald ngotot.


"Cukup, Yang Mulia, silakan duduk," redam Antony pada emosi tuannya.


Raja Gerald masih mengeraskan rahangnya, namun ia sudah mulai mengatur napas agar tenang kembali.


Ditariknya dengan perlahan bahu Raja Gerald ke belakang oleh Antony. Penasihat itu meminta Rajanya agar mundur dari perdebatan.


"Tidak ada gunanya meladeni mereka, lebih baik kita sidangkan saja perkara ini di pengadilan," saran Antony.


"Sidang hanya mengulur waktu, semuanya akan tetap seperti ini jika kita tidak memberi bukti yang valid bila Eliana tidak bersalah," jawab Raja Gerald dengan sedikit berbisik.


"Seseorang yang menyimpan harta milik kerajaan selama bertahun-tahun tanpa menyerahkannya pada pihak berwajib, itu artinya dia telah mencuri hak kerajaan."

__ADS_1


"Betul! Dari mana pun ia dapatkan kalung itu, dia telah merampas harta kerajaan."


Raja Gerald menggeleng-gelengkan kepala atas kebodohan menteri-menterinya dalam mengemukakan alasan untuk menyudutkan seseorang.


Seringkali ia berpikir, mengapa ayahnya dulu mengangkat orang-orang sekonyol mereka menjadi menteri. Jika akal dan logika mereka bahkan lebih tipis dari helaian rambut.


"Tidak pernah dibenarkan untuk seorang rakyat maupun pejabat parlemen bahkan pejabat kerajaan sekalipun, untuk menyimpan harta milik kerajaan bagi kepentingan pribadi."


Antony terus menahan Raja Gerald agar tidak menghabiskan tenaga hanya untuk perhelatan tiada gunanya dalam rapat ini.


Paman-pamannya malah seakan menertawakan Raja Gerald dan menganggap bahwa Raja yang memimpinnya sekarang tidak kompeten karena usianya yang masih terbilang muda.


"Bahkan Raja Gerry pun dulu dibunuh oleh wanita pilihannya, wanita yang tidak kita setujui untuk menikah dengannya. Benar, kan?"


Seluruh anggota parlemen pun mendelik pada menteri ekonomi dan keuangan. Mendadak ruangan rapat itu terdiam, tak ada yang bersuara.


"Aah, eeem ... maksudku bukan dibunuh. Tapi karena bodohnya wanita pilihan Raja, sehingga ia tak sengaja memberi jamur beracun untuk sang Raja. Begitu maksudku," ralat menteri itu yang meninggalkan kecurigaan untuk Raja Gerald.


"Bagaimana kalau kita seret saja Eliana ke persidangan untuk menyelesaikan masalah kalung yang ada padanya." Menteri yang lain berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ya, betul!"


"Setuju!"


"Ya! Agar jelas, sangsi apa yang patut diberikan untuk wanita itu!"


"Benar, seret saja ke pengadilan."


"Bertindak adil lah, Raja! Jangan karena kau menyukainya lalu kau tidak ingin menyeretnya ke pengadilan."


Semua kepala serempak mengajukan usulan sidang untuk Eliana. Raja Gerald diserang banyak orang seperti ini, sebenarnya membuatnya cukup panik.


Beruntung Antony selalu memintanya untuk tenang dalam segala situasi. Sehingga yang kini dilakukan oleh Raja hanya menarik dan mengembuskan napas agar tenang dalam pikirannya.


"Kalian boleh mengajukan persidangan. Tapi jangan lupakan bukti yang ada padaku!" Sebuah suara terdengar dari sudut ruangan mengheningkan kericuhan.


Semua kepala menoleh ke sumber suara, dan menemukan seorang pria berdiri di posisi paling sudut kiri belakang ruangan tersebut.


"Eliana memang benar menyimpan kunci itu. Tapi kunci dan semua perangkat yang menyertainya bukanlah milik kerajaan!"

__ADS_1


__ADS_2