Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Beranikah Kau Bersumpah?


__ADS_3

Tangannya ia ulurkan ke depan, lalu ia acungkan kipas hitam yang selalu ia bawa ke arah dada pangeran Arshlan.


“Berjanjilah padaku, kau tidak akan mengkhianati putriku dan membawa perempuan lain dalam kisah kalian!” Ratu Allura tanpa segan menodong calon menantunya dengan pernyataan demikian.


Pangeran Arshlan terkejut atas ungkapan ketegasan dari seorang ratu Allura yang ia ketahui sangat lemah lembut dan bijaksana. Apalagi kalimat tersebut seakan telah melontarkan sebuah tuduhan dan turunnya rasa kepercayaan dari seorang ratu Allura padanya. Apa yang telah dikatakan oleh putri Estelle pada ibunya?


“Sebelumnya, terima kasih karena Yang Mulia Ratu telah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dan berbicara dengan  hamba. Yang ingin hamba bicarakan mengenai perjodohan saat ini, bukanlah untuk untuk membatalkannya.” Pangeran bertutur kata dengan sopan sambil menundukkan badan selayaknya pria yang ingin mengambil hati calon mertuanya.


Namun itu berbanding terbalik dengan ratu Allura yang masih memasang posisi waspada. Perkataan putrinya mengenai wanita lain di hati pangeran Arshlan sungguh mengganggu pikirannya.


Hanya saja dirinya mencoba untuk tidak menunjukkan kekhawatiran itu di hadapan putri Estelle. Meski sebenarnya, cerita-cerita tentang seorang raja yang berjanji akan setia namun nyatanya menyembunyikan selir di belakang ratunya sungguh sangat menyiksa batinnya.


“Pengalaman pahit selama aku menjadi seorang ratu, dikhianati, diselingkuhi, diduakan, dan anakku dianak tirikan, jangan sampai dirasakan oleh putri Estelle!” seru ratu Allura dengan kalimat yang tajam pada pangeran Arshlan.

__ADS_1


Kini sang pangeran mengerti, dari mana asal kalimat pedas yang ditujukan padanya. Semua itu karena rasa sakit hati yang dialami oleh ratu Allura, yang masih membekas meski orang-orang yang menyakitinya telah tiada.


Sambil berjalan perlahan mengelilingi sang pangeran, ratu Allura menghujamkan tatapan pedang menghunus pada sang pangeran.


Ini adalah perlakuan yang pertama kali pangeran Arshlan dapatkan dari ibunda putri Estelle tersebut.


“Pangeran Arshlan!” seru sang ratu sekali lagi. “Sebagai ibunda dari putri Estelle yang akan kau nikahi, beranikah kau bersumpah atas nama dewa dewi dengan mengambil ritual di sungai El-Fithr?”


Membuat sumpah di sekitar sungai El-Fithr sama saja dengan mengikat janji bersama para dewa-dewi. Sumpah itu bekerja dengan nyata, konsekuensinya benar adanya, dan yang paling penting, tidak ada orang sembarangan yang mencoba-coba membuat sumpah itu.


Pangeran Arshlan sangat paham maksud dari ratu Allura. Apa dia sebegitu takutnya jika sang pangeran akan menyakiti putrinya? Sang ratu seakan tahu, jika niatan pangeran Arshlan menikahi putrinya hanyalah untuk tujuan politik semata, bukan karena benar-benar saling mencintai.


“Sudahlah.” Ratu Allura menurunkan tangannya yang tadi diarahkan pada sang pangeran. Kuncian dalam tatapannya mengendur, dan nada suaranya akan melemah.

__ADS_1


“Jika kau memang benar telah memiliki wanita lain, tinggalkan saja putriku.”


Sang pangeran tiba-tiba merasakan tangannya bergetar, dia bisa membaca nada putus asa dalam suara ratu Allura.


“Hamba bersedia mengambil sumpah sehidup semati bersama putri Estelle.”


Sang pangeran dengan tegas berkata. Namun seseorang yang dari tadi bersembunyi dari kejauhan sangat panik mendengar pernyataan sang pangeran.


“Tidak! Jangan!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2