Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Badai Pedang Angin


__ADS_3

"Ini adalah puncak bukit terakhir yang belum kita gali!" Pangeran Aro merasa kesal, karena sejak tadi ia tak dapat menemukan tambang emas itu.


"Ayo, gali! Gali! Gali!" Sang pangeran memerintahkan pada prajuritnya tanpa perasaan.


"Kita terus menggali dari tadi tapi tidak ada apapun yang kita temukan."


"Apa mungkin galian kita kurang dalam?"


"Malam-malam begini, kita tidak bisa melihat jika ada emas yang akan kita temukan."


"Tenang saja! Emas itu berkilau, meski di malam hari, kita pasti bisa menemukan emas itu dari kilauannya."


"Kira-kira pangeran Aro memberi kita bagian berapa gram emas, ya?"


"Ayo makanya kita gali, agar kita temukan banyak emasnya."


Para prajurit yang sedang menggali mengobrol dengan sesamanya sambil terus menggali tanah. Mereka berpikir, tambang emas itu akan ada seperti harta karun yang lama tak dapat ditemukan.


"Diam semua!" Tiba-tiba pangeran Aro membentak lagi agar para prajuritnya tidak bersuara. Ia menyimpan telapak tangan di samping telinganya, ia berusaha memastikan yang ia dengar.


"Ada seseorang yang datang! Bersiap!" ujar pangeran Aro pada prajuritnya. Sementara ia sendiri mengangkat pedang dan membentuk kuda-kuda untuk siap bertarung.


Hembusan angin semakin terasa, terdengar lompatan-lompatan tegap dari dalam hutan sana menuju ke arah mereka.


"Selamat malam pangeran Aro!" Sebuah suara menggema di atas mereka, namun mereka tidak bisa melihat orang yang berbicara.

__ADS_1


"Arshlan! Iya, ini pangeran Arshlan!" Pangeran Aro berteriak sambil melihat ke atas.


Wuuuuuz


Sebuah angin kencang berembus di sekeliling mereka.


"Hati-hati! Dia mencoba membuat badai!"


Para prajurit pangeran Aro merapat mencoba melindungi pimpinan mereka.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara itu kembali menggema dari atas langit, namun lagi-lagi tak dapat mereka lihat di mana orang yang berbicara.


Wuuuuz


"Awas anginnya mulai berputar."


"Kalian sudah merusak hubungan kerajaan Yorksland dengan Raisilian. Kalian merusak tanah di wilayah kerajaan lain, tanpa memikirkan akibatnya."


"Arshlan! Aku tidak takut! Keluarlah, jangan sembunyi seperti pecundang!"


"Aku tidak sembunyi, tapi mata pecundang yang sesungguhnya lah yang tidak dapat menemukanku."


"Kurang ajar!"


"Terimalah hukuman untuk kalian!" Angin berembus semakin kencang, dan berputar semakin cepat.

__ADS_1


"Tolong!"


"Tolong!"


Para prajurit itu berteriak minta tolong, karena sebagian dari mereka terbang terbawa oleh angin.


"Badai pedang angin!" Jurus mematikan dari pangeran Arshlan kembali ia keluarkan.


Angin berembus di sekitar para musuh dengan sangat tajam, karena angin itu membawa tenaga dalam milik sang pangeran.


"Aaahk!"


"Aaw!"


"Aaahk!"


Seluruh prajurit hampir tumbang, karena sayatan dan tusukan dari pedang angin milik pangeran Arshlan mengenai bagian vital dari tubuh mereka.


"Arshlan! Kau kurang ajar!" Pangeran Aro mengumpat melihat prajuritnya tumbang.


Sebenarnya, pangeran Aro juga menguasai jurus pedang angin seperti ini. Namun tenaga dalam mereka yang berbeda jauh, membuat pangeran Aro tak pernah bisa mengimbangi pangeran Arshlan.


Dia tidak akan bisa membuat badai pedang angin seperti pangeran Arshlan. Maka dari itu, ia bersembunyi dari serangan pedang angin pangeran Arshlan, baru setelah pangeran Arshlan menampakkan diri, dia akan menyerangnya.


"Kau juga sudah menculik wanitaku hingga prajuritmu hampir mengotorinya!" Suara di atas menggema dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengampunimu! Sekarang terimalah ini!"


__ADS_2