Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kesedihan Eliana


__ADS_3

"Yang Mulia, apa hari ini anda tidak bekerja?" Eliana bertanya pada Sang Raja yang masih asyik tidur di atas ranjang.


"Aku sudah bilang pada Antony untuk mengambil alih sementara tugasku," jawabnya dengan santai tidur bertumpang kaki dan memainkan tabletnya.


"Yang Mulia, bolehkah hamba berjalan-jalan keluar barang sebentar saja? Hamba sangat bosan di sini," pinta Eliana setengah merengek.


"Bukankah kau tau, kalau kau tidak boleh keluar dan ini adalah konsekuensi dari pekerjaanmu sebagai pelunas hutang, Eliana?" tanya Raja Gerald tanpa menoleh sama sekali pada Eliana.


Gadis itu terdiam dan menunduk lesu. Tiba-tiba pikiran buruk itu kembali ke dalam otaknya. * Ya, aku hanyalah pelunas hutang, aku tidak boleh menuntut pada Yang Mulia. Diberi fasilitas kerajaan yang sangat mewah saja sudah terlalu beruntung bagi diriku. *


Eliana sama sekali tak bergerak dan tak bersuara lagi. Gadis itu diam meresapi perkataan sang Raja yang menurutnya sangat menyakiti hatinya.


Gadis pelunas hutang.


Begitu Yang Mulia Raja memberi julukan untuk Eliana. Entah mengapa Eliana merasa begitu rendah karena sebutan itu. Seakan-akan karena sebutan itu, Raja Gerald bebas melakukan apapun padanya, termasuk menyentuhnya seperti yang sudah dua kali dilakukan oleh sang Raja hari ini. Bahkan sangat jelas Eliana merasakan jika Yang Mulia tidak membuang benihnya di luar, melainkan sengaja menyimpannya dalam rahim Eliana.


Eliana berjalan ke arah jendela, ia dapat melihat bunga-bunga bermekaran di pelataran istana. Bahkan seekor kupu-kupu bisa terbang bebas setelah ia terkurung sebagai kepompong. Akankah dirinya bisa terbang dan bebas kelak menjadi seperti kupu-kupu setelah terkurung lama di sini?

__ADS_1


Pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban mustahil terlintas pada pikiran Eliana.


Terus melamun memperhatikan taman bunga, Eliana tak menyadari kehadiran Raja Gerald di sampingnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sang Raja dengan suara lembut.


Eliana menoleh dan mendongak, ia bisa melihat rahang tegas sang Raja saat melihat ke luar jendela, arah yang sama dengan yang ia lihat sebelumnya.


Gadis itu menggeleng, berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


Eliana menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Ia bingung bagaimana harus mengatakan ratapan sedih dalam hatinya.


"Katakan," pinta sang Raja dengan kalimat bernada rendah.


Eliana mendongak, ia hanya bisa menatap Raja Gerald dengan pupil mata yang bergetar.


"Ayo katakan! Ini perintah ...," titah Raja Gerald masih dengan nada yang lembut.

__ADS_1


Raja Gerald mengarahkan tangan kirinya untuk menumpu dagu Eliana, sementara ibu jarinya mengusap kembali bibir ranum yang selalu menggodanya. "Apa kau ingin berjalan-jalan? Melihat-lihat bunga indah yang bermekaran di sana?"


Tangan Raja Gerald berpindah membelai pipi lembut Eliana. Mengusapkan buku-buku jarinya yang membuat jantung gadis itu berdesir.


"Hamba ... hamba hanya," ucap Eliana dengan bibir yang bergetar tak karuan.


"Katakan saja, Eli ...," ucap sang Raja lagi sambil menyunggingkan senyum hingga menampakkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi bak biji mentimun.


Sejenak Eliana terkesima, lidahnya semakin tak mampu berucap kala senyum itu berhasil menghipnotisnya.


Sang Raja berpindah posisi, ia berdiri di belakang Eliana dan memeluk gadis itu dari belakang.


"Terima kasih telah memberikan segalanya untukku, Eli .... Aku merasa memiliki tempat untuk pulang setelah ada dirimu," bisik Raja Gerald tepat di telinga Eliana.


Gadis itu mematung, ia seakan tak lagi merasakan degup jantungnya berdentam-dentam. Perasaannya meleleh, namun tubuhnya membeku.


"Maukah kau menjadi Ratuku?"

__ADS_1


__ADS_2