
Baru beberapa menit ia pejamkan mata, ketukan pintu kembali terdengar di depan kamar ibu suri dari Raja Noirland itu.
Tok tok tok
Ibu suri terbangun, ia menoleh ke arah pintu dan mendengar kembali ketukan pintu. Memastikan ia tidak salah dengar.
Tok tok tok
Ketukan itu terdengar lagi, ia pun langsung duduk dan membenarkan jubahnya.
“Yang Mulia, ada kabar dari penjara bawah tanah,” ujar pengawal memberi kabar dari luar.
Ada apa, ya? Batin ibu suri bertanya-tanya. Apa yang terjadi di penjara bawah tanah, bagaimana jika selir Sofi kabur?
Wajar bila ibu suri khawatir, karena dia tahu jika menantu yang tak pernah ia akui itu memiliki ilmu bela diri ala ninja. Wanita itu merupakan pembunuh berdarah dingin di usia mudanya. Sesulit apapun dia diberi kurungan, pasti dia akan bisa meloloskan diri. Ilmu itu ia turunkan ke anaknya. Bagi sang ibu suri, Emilda adalah ular yang lebih licik daripada ibunya.
Maka dari itu sang ibu suri bisa bernapas lega mendengar kematian Emilda. Namun kini ia harus meradang lagi karena wanita itu malah membunuh anaknya.
Ckleek
Dayang membukakan pintu itu begitu ibu suri sampai di depan pintu.
“Ada apa?” tanya ibu suri.
__ADS_1
“Yang Mulia, maaf hamba mengganggu istirahat, Yang Mulia,” jawab sang pengawal pada ibu suri.
“Ada apa pengawal?” tanya ibu suri.
“Selir Sofi,” jawab pengawal dengan tangan bergetar.
“Kenapa?” Ibu suri merasa penasaran pada perkataan pengawal.
“Selir Sofi bunuh diri,” ujar sang pengawal dengan wajah yang pucat.
Alis ibu suri langsung bertaut dan dahinya mengerut. Ada apa dengan wanita itu, kenapa tiba-tiba melakukan bunuh diri?
Sambil memijat dahinya yang merasa pening, Ibu suri menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tapi aku tidak mungkin mengadakan pesta sekarang juga, karena jika kita melakukan itu sekarang masih ada Raja Noirland yang belum dikremasi, rakyat bisa salah paham melihat kita berpesta!” ucapnya dengan tegas.
“Baik, Yang Mulia.” Pengawal itu pun hendak berbalik namun ia urungkan langkahnya karena ibu suri yang memanggilnya lagi.
“Oh, ya, Pengawal! Buang abunya ke perairan muara Kohl, biarkan dia menyatu dengan seluruh sampah yang dibuang di sana. Jangan buang ke perairan El-fithr, di sana terlalu suci untuk manusia durjana sepertinya.” Ibu suri pun masuk kembali ke dalam kamarnya.
Dia kembali terdiam, menyadari banyaknya kematian yang terjadi berurutan pada minggu yang sama.
“Dayang! Tolong hubungkan aku dengan Raisilian, aku harus bicara dengan Ratu Allura!” titahnya.
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia.”
Tidak lama setelah itu, sebuah layar proyektor terhubung dan memperlihatkan Putri Estelle yang sembab matanya juga Ratu Allura yang mesih terbaring.
“Ah, cucuku, kenapa ibumu tertidur seperti itu? Apa dia tidak ingin berbicara dengan nenek?” tanya sang ibu suri.
“Asma ibu kambuh, Nek. Dia shock mendengar berita kematian ayahanda,” jawab Putri Estelle dengan terisak.
Ibu suri geleng-geleng kepala. “Jadi, dia tidak bisa ke mari?” tanyanya.
Putri Estelle mengangguk. “Ibu tidak mungkin melakukan perjalanan, Nek,” jawabnya.
“Siapa yang menemanimu itu? Apa itu Paula?” tanya ibu suri sambil menunjuk pada wanita yang hanya nampak punggungnya.
“Ah, dia Eliana, ibu suri Paula sedang menidurkan cucunya,” jawab Putri Estelle.
Eliana yang mendengar namanya disebut pun menengok dan membungkukkan badan di depan layar. “Salam, Yang Mulia,” ujar Eliana.
“Ka … kamu, siapa?”
__ADS_1