Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pria Tak Dikenal


__ADS_3

Dengan senang hati sang putri mengikuti para dayang yang sedang mendekorasi tempat untuk ia bertunangan esok hari. Wajahnya berseri-seri namun ia malu untuk mengakui.


"Tuan putri, kita kekurangan bunga. Kita akan mencarinya terlebih dahulu," ujar salah seorang dayang menghampirinya.


"Ah, biar aku saja yang memetik bunganya!" Putri Estelle lantas merebut keranjang bunga dari tangan dayang tersebut.


"Ta-tapi, Tuan Putri." Sang dayang ingin melarangnya, namun sang putri yang sedang penuh semangat itu tak bisa dicegah.


"Jangan ada yang ikuti aku!" larang sang putri sambil tertawa bahagia.


Para dayang hanya bisa menatap tuan putri mereka dengan tatapan aneh. Namun mereka tetap diam di tempat tanpa ada yang bergerak.


Hingga sang putri sudah tak terlihat oleh mereka, mereka melanjutkan kegiatannya.


"Sepertinya satu keranjang bunga yang dibawa tuan putri nanti tidak akan cukup."


"Kita harus memetik lagi."


"Iya, dua keranjang bunga lagi."


"Baik, biar kita berdua yang mengikuti tuan putri untuk memetik bunga."


*

__ADS_1


Sementara itu, sang tokoh utama yang sedang dengan senang hati memilih bunga sedang menyanyi dengan suara merdunya.


Dia mengambil setiap bunga tercantik dari tangkainya. Kemudian ia kumpulkan dalam keranjang yang ia gantungkan pada persendian dalam sikunya.


"Selamat siang, Tuan Putri yang cantik." Sebuah suara bariton menyapa dirinya dengan mengejutkan.


"Ya Tuhan!" Putri Estelle hampir melempar keranjang bunganya. Ia menoleh dan melihat ke belakangnya, siapa gerangan yang sedang menyapa.


"S-siapa kau?" Sang putri menelisik pakaian dari pria di hadapannya. Pakaian ini, adalah pakaian penjaga gerbang depan istana.


Mengapa seorang penjaga gerbang ada di taman bunga?


Batin sang putri berkata-kata. Lagipula, baru kali ini ada seorang penjaga gerbang yang berani terang-terangan menyapa dirinya seperti ini.


"Perkenalkan, hamba adalah pangeran Aro." Pria di hadapannya mengulurkan tangan.


"P-pangeran Aro? Siapa?"


Kalau ia seorang pangeran dari kerajaan lain, kenapa dia menggunakan seragam penjaga gerbang istana?


"Ah, rupanya keponakanku tidak pernah menceritakan tentang diriku padamu. Iya, hubungan kami memang sangat buruk." Pria itu mendekatkan wajahnya pada sang putri.


"Siapa keponakanmu?" Putri Estelle memundurkan langkahnya.

__ADS_1


"Arshlan! Calon suami yang tidak akan pernah menikahimu," ujarnya lagi kali ini sambil berjalan perlahan mengitari sang putri.


"M-maksudmu?" Sang putri berusaha untuk tetap tegar dan tidak termakan orang yang ada di hadapannya.


"Ah, kau ... masih tidak mengerti maksudku?" tanyanya dengan tatapan mengecoh. "Lihat baju yang kukenakan?" Ia mencubit baju pada bagian dadanya untuk ditunjukkan pada putri Estelle.


"Kenapa kau menggunakan seragam penjaga gerbang istana ini?" tanya sang putri dengan tegas. Ia sudah yakin manusia di hadapannya ini bukan datang dengan niat yang baik.


"Kau sudah tahu, kan? Jika aku menggunakan seragam penjaga istanamu, itu artinya aku adalah penyusup di sini. Tidak ada seorang penyusup yang berniat baik di tempat yang ingin disusupinya."


Sang putri semakin berhati-hati. Ia semakin memundurkan langkah untuk menghindar dari pria jahat di hadapannya. "Apa tujuanmu ke mari?"


"Aku ... ke mari? Aku ke sini, karena ingin mencuri!"


Putri Estelle semakin merinding dengan tatapan liar pria di hadapannya. Namun anehnya, kakinya sama sekali tak bisa berlari dari tempatnya.


"Itu, tuan putri!"


Putri Estelle lalu menoleh pada suara dayang yang memanggilnya.


"Ada orang! Tidak ada waktu lagi!"


Bug

__ADS_1


"Tolooong! Tuan putri diculik!"


Bug bug


__ADS_2