
Setelah satu minggu kepergian sang pangeran ke Raisilian, putri Estelle pun menjalankan kerajaan Noirland seorang diri dengan bantuan neneknya.
Dia menghadiri berbagai rapat pertemuan dengan para politisi dan menjalankan perannya sebagai putri mahkota calon pengganti. Walau sepertinya peran itu tidak akan ia dapatkan jika nanti ia malah menjadi ratu di Yorksland.
Siang ini, baru saja ia menjalani pertemuan bisnis dengan salah satu menteri di kerajaannya. Tampak luar, hanya seperti pertemuan bisnis, namun sebenarnya dengan persetujuan sang putri untuk menanam investasi di perusahaan milik menteri hari ini, artinya pihak kerajaan mendukung kepemimpinan menteri tersebut saat kepemimpinan putri Estelle nanti.
Sifat anggun, wibawa, dan aura bangsawan terpancar dengan sangat menyilaukan dari diri sang putri.
Meski dulunya ia lebih dikenal dengan putri yang cukup manja, namun tak dapat dihilangkan jejak akademik sang putri yang sungguh luar biasa. Hanya saja, pada saat itu, kemampuan akademik putri Estelle tertutupi oleh kemampuan bertarung dan taktik licik putri Emilda, sehingga raja Jeremy, -ayah mereka lebih condong pada putri Emilda dibanding padanya.
Terlihat pada saat itu sang putri sangat dianak tirikan, padahal putri Estelle adalah putri mahkota yang sah untuk Noirland.
Namun kini, kabut yang menutupi putri Estelle telah menghilang, dengan lebih percaya diri, sang putri bisa berdiri tanpa bayangan orang lain.
Ia selalu menebar senyum kepada siapapun yang membuatnya dikenal sebagai putri yang ramah.
Namun, senyum itu kini menghilang entah ke mana. Baru beberapa menit yang lalu, sang putri tersenyum lebar pada setiap orang yang ia temui selama pertemuan dan kini ketika dirinya masuk mobil hendak pulang sang putri terlihat murung.
"Kita langsung ke istana saja, Yang Mulia? Apa ada tempat lain yang ingin anda kunjungi, Yang Mulia?" tanya sang pengawal yang duduk di kursi depan.
Putri Estelle terdiam tak menjawab, ia mengerucutkan bibirnya seraya melihat ke arah jendela.
__ADS_1
Kemudian sang putri mengeluarkan ponselnya, ia lihat lagi ponsel tersebut.
"Iiish!"
Semakin kesal, dia memukul ponselnya.
Para pengawal yang duduk di depan hanya bisa saling berpandangan satu sama lain tanpa memberikan komentar. Karena mereka melihat suasana hati tuan putri mereka sepertinya sedang sangat buruk.
Apa begitu berat buatnya hanya dengan mengirim pesan? Mengesalkan!
Sang putri menggerutu di dalam hati. Kedongkolan dalam hatinya pun menjadi-jadi.
Ting
Dengan antusias, sang putri pun membuka pesan tersebut.
[Tuan Putri, mohon segera kembali ke istana. Nyonya Arumi sudah menunggu untuk pembelajaran selanjutnya.] ~ Kepala dayang istana.
Brak
Sang putri melempar lagi ponselnya.
__ADS_1
Sang pengawal wanita yang duduk di kursi depan langsung mengambil ponsel milik sang putri yang terlempar ke arahnya.
Ia hendak mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya, namun ketika ia menoleh ke belakang, terlihat raut wajah sang putri yang sangat tidak menyenangkan.
"Sudah ... kita berikan nanti saja ...," bisik sang pengawal yang menjadi supir mereka.
Pengawal wanita itu pun mengangguk. Ia mengerti karena dalam satu minggu ini sang putri telah melempar ponselnya berkali-kali, hingga ponsel sebelumnya harus diganti karena sang putri melemparnya ke kolam. Lalu ini adalah ponsel baru sang putri yang baru diganti dua hari kemarin.
Tring
Ponsel sang putri berbunyi.
"Pangeran Arshlan? Tuan putri ada pesan dari pangeran Arshlan, apa anda ingin membacanya?" tanya sang pengawal.
Namun ternyata, sebelum ia memberikan ponsel itu, tanpa ia sadari si ponsel sudah berada di tangan sang putri.
"Hihi," tawa sang putri terdengar yang membuat para pengawal saling berpandangan lagi.
"Ada apa dengan tatapan kalian?" tanya putri Estelle pada pengawalnya. "Aku ... hanya sedang menunggu kabar ibuku dari pangeran Arshlan, memangnya tidak boleh?"
"Baik, Yang Mulia."
__ADS_1
Para pengawal tersenyum penuh arti.