
Dalam gubuk kecil itu, terlihat gelap dari luar. Namun tak ada yang menyangka, jika para pengawal istana sedang berjaga dan mondar mandir di sana.
Ladang belakang mansion timur, sangat jauh dari pemukiman. Jarang sekali ada orang yang lewat dan memperhatikan keadaan bangunan tua milik istana tersebut.
"Kita harus segera mencari tahu, bagaimana cara membuka pintu batu itu!" ujar Sang Raja yang masih berada di ruang bawah tanah.
"Apa kita membutuhkan arkeolog untuk membantu, Yang Mulia?" tawar Antony.
"Ya, kerahkan semua ilmuwan kita untuk bisa memecahkan teka-teki ini!" titahnya lagi.
Sementara itu, ada salah seorang pengawal yang sedang berjaga dari luar berjalan masuk ke ruang bawah tanah. Ia hanya berjalan sampai tangga, karena menemui pengawal belakang Sang Raja.
Pengawal itu membisikkan sesuatu pada rekannya.
"Ada apa?" tanya Antony yang melihat sepertinya sang pengawal memiliki sebuah informasi.
Pengawal belakang itu kemudian menghampiri Antony dan membisikkan kembali info yang ia dapat secara estafet.
"Apa?" Antony terkejut.
Raja Gerald yang sedari tadi sedang berpikir ikut memperhatikan Antony dan Sang Pengawal.
__ADS_1
"Ada apa, Antony?" Sang Raja menjadi penasaran.
"Yang Mulia, istana diserang kembali oleh penyusup." Antony mengabarkan pada Sang Raja.
"Apa? Bagaimana dengan para pengawal? Apa lagi yang diincarnya?" Raja Gerald bertanya-tanya.
"Para pengawal berhasil meringkus mereka. Mereka berusaha masuk ke kamar Nona Eli dengan menggunakan bom asap, yang bisa membuat siapapun yang menghirup asapnya akan pingsan. Akan tapi beruntung, para pengawal kita sudah dilindungi penyari udara di hidung mereka, sehingga mereka hanya berpura-pura pingsan dan berhasil meringkus mereka berdua," jelas Antony cukup panjang pada Sang Raja.
"Lalu ... bagaimana keadaan Eli dan Kevin?" Raja mengkhawatirkan dua manusia tersebut.
"Jangan khawatir, Yang Mulia. Nona Eli justru ikut andil dalam penyergapan ini," jawab Antony.
"Iya, Nona Eli berhasil memukul salah satu kepala penyusup dengan menggunakan vas bunga," terang Antony dengan bangga. Ia harap dengan bercerita seperti ini, Sang Raja akan senang mendengarnya.
"Apa?" tanya Raja Gerald dengan wajah geram sekali lagi.
"I-iya, Yang Mulia." Kini raut wajah Antony yang berubah. Ia menjadi agak pias karena melihat ekspresi marah Sang Raja. Tapi dalam hatinya ia berkata, Apa perkataanku salah? Bagian mana yang bisa membuat Yang Mulia marah?
"Ayo kita pulang!" ajak Sang Raja berbalik arah.
"Lalu, dengan pintu batu ini bagaimana, Yang Mulia?" tanya Antony yang merasa heran.
__ADS_1
"Cari orang yang bisa menangani ini semua!" titahnya.
"Baik, Yang Mulia."
Sang Raja pergi meninggalkan ruang bawah tanah. Para pengawal mengunci kembali pintu menuju ke ruang bawah itu, dan menggeser kembali perapian yang menutupinya.
Kemudian, serentak mereka keluar meninggalkan gubuk kecil itu.
"Mengapa para pengawal membiarkan Eli yang memukul penyusup? Lalu apa kerja mereka sebagai penjaga Eli dan Kevin?" Raja mengungkapkan amarahnya.
" Anu ... situasi yang mendukung hal itu terjadi, Yang Mulia!" Antony bingung harus menjawab apa.
"Situasi? Kau menyalahkan situasi Antony?"
Raja semakin geram.
Namun Antony, akhirnya hanya diam saja.
"Ayo kita pulang! Suruh para dayang merawat Eli! Pastikan dia baik-baik saja!" perintah Sang Raja yang sedang marah.
Antony tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Rajanya. Sepertinya Yang Mulia benar-benar menyukaimu, Eli.
__ADS_1