Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kesedihan Sang Putri 2


__ADS_3

Apa yang bisa aku lakukan untuk ibu?


*


Mendengar fakta tentang kondisi ibunya yang sudah sangat rapuh, juga membuat putri Estelle tak kalah rapuh.


Ia berjalan di taman sendirian malam. Ia meminta agar tak seorang pun dayang maupun pengawal mengikuti. Ia benar-benar sangat merasa ... sedih.


Betapa tidak, di saat seseorang yang paling dekat dan paling ia sayangi sedang berada dalam keadaan kritis selama ini, dan ia belum tau apapun sama sekali. Bahkan ibundanya meminta agar kondisi sakit yang dideritanya dirahasiakan pada sang putri.


Putri Estelle memetik salah satu mawar yang sedang mekar di taman. Ia mengambil dan membawa bunga mawar putih ke sebuah bangku taman dan duduk di sana.


"Ibu ... apa yang harus aku lakukan?"


Di satu sisi, putri Estelle tak terima mendengar ibunya telah merahasiakan hal besar semacam ini darinya. Namun di sisi lain, ia tetap ingin pura-pura tak tahu agar tak membebani pikiran ibunya. Ia sangat tahu, tujuan ratu Allura merahasiakan semua darinya adalah hanya semata ingin menjauhkan putri Estelle dari rasa kecewa, cemas dan khawatir.


Namun, sang putri merasa tak berguna sama sekali karena tak bisa membantu apa-apa pada ibunya.


"Seandainya aku bisa bela diri dan memiliki persediaan tenaga dalam yang banyak sepertimu," lamun sang putri mengandaikan pangeran Arshlan ada di hadapannya.

__ADS_1


Ia tersenyum. Hingga tanpa sadar jemarinya melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan perintah otaknya.


"Aku harus tetap pura-pura tak tahu, karena itu adalah keinginan ibunda ratu," tekad putri Estelle meski menahan perih dalam hatinya.


"Setidaknya, aku cukup membantu dengan berada di sisinya ...." Ia berusaha menghibur diri sendiri. Bibir yang dipaksa tersenyum, garis lengkung yang sengaja dibuat tak bisa menahan air mata yang berderai.


"Aku ... aku tidak boleh menangis," isak sang putri seraya menghapus air matanya. "Kamu memang cengeng, putri Estelle." Putri Estelle mengata-ngatai dirinya sendiri.


"Yang Mulia Tuan Putri." Seorang pengawal berjalan dengan cepat dan menghampirinya.


Sang putri terburu-buru mengusap air matanya. Ia tak ingin terlihat jika dirinya telah menangis oleh siapapun.


"Anu ... itu ... Yang Mulia Ratu Allura, telah sadarkan diri," ucap sang pengawal.


Putri Estelle pun segera bangkit, tanpa membalas ucapan sang pengawal. Ia berjalan terburu-buru dan pengawal itu pun mengikutinya.


"Kau tidak berbohong, kan?"


"Hamba tidak berani, Tuan Putri."

__ADS_1


Sang putri pun tak banyak bicara lagi dan ia sudah sampai di kamar ratu Allura kembali. Di sana sudah ada dokter senior, namun ibu suri belum datang.


Sang putri melihat ibunya yang terbaring lemas dengan wajah yang pucat. Namun kali ini, sang ibunda telah membuka mata.


"Ibuu ... ibu ...." Putri Estelle memanggil seraya menahan tangisnya.


Ratu Allura tersenyum ke arah anak semata wayangnya itu. Anak yang ia besarkan dengan tangannya, sedari anak itu masih bayi hingga kini telah dewasa. Senyum ratu Allura mengandung kepedihan, seakan ada salam perpisahan dalam setiap tatapannya.


Sang ratu mengangkat tangannya, kemudian putri Estelle mendekat. Tangan ratu Allura membelai lembut pipi milik anaknya.


"Ibu ...?" Sang putri memegang tangan ibunya yang berada di pipinya.


"Ibu sangat menyayangimu." Sang putri mengangguk mendengarnya.


Bersamaan dengan itu, ponsel milik putri pun bergetar akibat sebuah pesan yang masuk.


[Apa maksudmu mengirim pesan begitu?]


"Hah? Memang aku mengirim apa?"

__ADS_1


__ADS_2