
Kecupan itu berubah menjadi lu matan. Hisapan yang diselingi sedikit gigitan. Eliana tak bisa menahan untuk tidak mengerang.
"Ya ... Yang Mulia .... Aaah ...!" desah Eliana gelisah. Gadis itu menggeliatkan pundaknya agar Sang Raja Gerald tersadar dan melepasnya.
"Eli ... ana ...." Suara serak nan sumbang terdengar pada telinga gadis itu. Sebuah panggilan yang penuh dengan harap dan hasrat bercampur menjadi satu. "I want you ...," bisik Sang Raja lagi.
"Ya ... Yang Mulia ...," respon dari Eliana. "Ja-jangan seperti ini ...," lirihnya lagi.
Saat hasrat sudah mencapai ubun-ubun, Sang Raja ingin segera menenggak nektar milik sang bunga. Tangan yang tadinya hanya bertengger di pundak, kini mulai turun ke area lainnya, menyentuh ke pangkal lengan, dan ....
"Oweeeek ... oweeeek ... oweeek ...," tangis bayi Kevin menghentikan semuanya. Segala niat kenakalan Sang Raja pun diurungkan. Semua akal sehat kembali terkumpul menyingkirkan napsu-napsu iblis yang sejak tadi mengurung otaknya.
"Oweeek ... oweeek ... oweeek ...." Tanpa berpikir panjang lagi, Eliana pun langsung berdiri tanpa memedulikan Raja Gerald lagi. Ia gunakan momen ini sebagai kesempatan untuk meninggalkan Raja Gerald yang sepertinya sedang tak sehat akalnya.
"Kevin sayang ... Mama datang ...," ucap Eliana dengan ceria. Betapa tidak, ia sangat bahagia mendengar jerit tangis bayi Kevin yang menyelamatkannya dari terkaman serigala buas.
__ADS_1
"Mama ...?" Raja Gerald mengulangi cara panggil Eliana untuk dirinya pada bayi Kevin.
"Sejak kapan kau menjadi mama dari bayi ini?" tanya Raja Gerald menginterogasi.
"A ... aku hanya nyaman menyebut mama pada diriku sendiri," timpal Eliana malu-malu. Duh kenapa aku malah keceplosan nyebut mama sih!
"Begitu ...?" Raja Gerald mengangkat alisnya. "Baiklah!" Ia pun tidak memprotes lagi.
"Aku ... aku harus pergi. Biar dayang saja yang melakukan pijatan kembali untukmu!" titah Raja Gerald sambil berlalu. Derap langkah tegapnya kembali menjauh dari Eliana.
Sekali lagi dan selalu seperti ini, ia merasa kehilangan jika Yang Mulia Raja meninggalkannya seperti ini.
"Jika kau menjadi Mama untuk bayi Kevin, apa tidak lebih aku yang menjadi Papanya?" usul Raja Gerald tiba-tiba. "Kan aku yang selama ini merawatnya sebelum ada dirimu!" protesnya.
"Anu ... emm ... apa itu tidak aneh?" sanggaj Eliana. "Bukankah Yang Mulia adalah paman dari bayi Kevin? Kenapa Yang Mulia ingin dipanggil Papa?" tanya Eliana merasa aneh.
__ADS_1
Raja Gerald mengusap dagunya. "Jadi itu tidak pantas, ya? Baiklah! Aku hanya pamannya, bukan papanya!" Raja itu terdengar merajuk.
"Anu ... emmm ... bukan begitu, tapi ...." Eliana merasa salah tingkah, ia takut penyanggahannya tadi menyinggung Sang Raja.
"Iya, dia memang anaknya Gerry, anak kakakku! Aku hanya pamannya. Aku tidak memberi andil apa-apa dalam hidupnya, aku tidak pantas dipanggil papa," rajuknya lagi.
Eliana menatap aneh pada Raja Gerald. Kenapa Yang Mulia jadi merajuk padaku? Aku kan hanya menanggapi usulnya, keputusannya, kan, terserah dia.
"Kalau kamu menikah dengan Eliana, kamu boleh dipanggil Papa oleh Kevin!" Sebuah interupsi datang dari seorang wanita paruh baya.
"Ibunda?"
"Yang Mulia Ibu suri?"
Baik Raja Gerald maupun Elian kompak memberi hormat pada wanita yang baru datang itu.
__ADS_1
"Sejak kapan Ibunda ada di situ?" tanya Raja Gerald pada Paula.
"Baru saja, kok. Aku baru selesai mengunjungi taman lilac, tiba-tiba aku ingat pada Kevin dan ingin mengunjunginya." Wanita itu tersenyum ramah. "Jadi, bukankah usul ibunda bagus, Gerald? Jika kau ingin dipanggil Papa menikahlah dengan Eli!"