Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Keberangkatan Ratu Allura


__ADS_3

"Kau menjauh, memalingkan muka, tapi matamu melirik terus ke arahku? Kenapa? Kau suka dengan ini?" Sang pangeran pun berdiri, sontak dada pangeran tampan ini pun berada tepat di depan hidung sang putri.


Aroma keringat bercampur herbal ginseng hutan tercium. Aroma yang hangat dan sangat maskulin menusuk hidung sang putri. Hidung putri bergerak-gerak kala sela-sela roti sobek sang pangeran mengapit hidungnya.


Spontan putri Estelle pun mundur. Ia mendorong dada sang pangeran yang tanpa penutup itu menggunakan kedua tangannya. "Menjauh dariku!"


"Uwooow ...." Sang pangeran tak bergeming dari tampaknya meski putri Estelle mendorongnya cukup keras.


"Kau menyentuhku? Sudah kubilang kau pasti menyukainya? hah?"


"Iiish! Menjauhlah! Dasar pangeran mes*m!" Putri Estelle langsung berlari menjauh dari sang pangeran dan keluar kamar tersebut.


"Hihi." Pangeran Arshlan tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. Entah mengapa terasa menyenangkan sekali menjahili putri Estelle hingga sang putri terlihat malu dan merona tersebut.


"Jangan lupa bawakan ramuan lagi untukku satu jam lagi, ya, sayangku."


"Haha haha."


*


"Hati-hati." Putri Estelle memeluk pada Ratu Allura yang hendak naik ke pesawat menuju Raisilian.


"Itu pasti, sayangku."

__ADS_1


"Jaga kesehatanmu, Allura. Aku sudah tua, tidak bisa menemani Putri Estelle lebih lama. Jika bukan kau, lalu siapa?" Sang ibu suri juga mengantar kepergian ratu Allura.


"Terima kasih, ibu. Sudah mengizinkanku untuk pergi ke tempat Paula untuk merawatnya. Tanpa izinmu, mungkin aku tidak bisa pergi ke sana dan menengoknya."


Ratu Allura dan ibu suri Theresa saling menggenggam tangan satu sama lain.


"Dia teman yang berharga bagimu, ibu bisa mengerti." Ratu Allura tersenyum dan memeluk sang ibu suri.


Sementara itu, ibu suri menitikkan air matanya ketika ia berpelukan dengan menantu yang sudah ia anggap seperti anak sendiri tersebut.


Bukan karena perpisahan sementara ini, melainkan karena kabar yang ia dengar dari pangeran Arshlan setelah sarapan tadi.


*


Kembali ke waktu setelah sarapan pagi di istana Noirland.


Jumlahnya ada ratusan dan ibu suri Theresa sangat menyukainya.


"Pangeran Arshlan?" Sang ibu suri menengok saat mendengar ada orang yang memanggil dirinya.


"Mendiang kakek dari putri Estelle yang sangat menyukai burung-burung di sini. Setiap pagi seusai sarapan, dia selalu menyisihkan remah roti untuk para burung. Sehingga burung-burung sudah terbiasa untuk terbang dan hinggap ke istana ini setiap pagi."


Pangeran Arshlan tersenyum sambil mendengar perkataan sang ibu suri.

__ADS_1


"Apa kau ingin berbicara tentang putri Estelle?"


Ditanya seperti itu, pangeran Arshlan pun lebih mendekat pada ibu suri. "Tidak, Yang Mulia, ini tentang Yang Mulia Ratu Allura."


Ibu suri menengok dan akhirnya berbalik pada pangeran Arshlan. "Ratu Allura? Ada apa dengan dia, pangeran Arshlan?"


"Apa ibu suri merasa keberatan dengan kepergian ratu Allura?"


Pertanyaan pangeran Arshlan membungkam sang ibu suri. Ia terdiam menatap pada sang pangeran.


"Ibu suri, kesehatan ratu Allura sangat-sangat buruk."


"Maksudmu?"


"Aku tidak bisa menceritakan lebih rinci padamu. Tapi, terapi yang dilakukan Yang Mulia ratu bersamaku bukan main-main."


"Apa?"


"Lebih baik, izinkan Yang Mulia ratu untuk pergi ke Raisilian."


"Aku ... hanya khawatir ...."


"Hamba yang akan bertanggung jawab. Hamba pastikan ratu Allura bisa kembali dengan selamat ke istana ini."

__ADS_1


Ibu suri menatap pada pangeran Arshlan dengan seksama.


"Aku percayakan padamu."


__ADS_2