Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Tuduhan dalam Keterpurukan


__ADS_3

"Hamba permisi, Yang Mulia Ratu. Hamba akan kembali pada bulan berikutnya untuk terapi selanjutnya." Pangeran Arshlan mencoba pamit undur diri.


Dia kembali menyeka buliran keringat yang cukup besar dari dahinya.


Keluar dari ruangan sang ratu, ia sedikit berjalan tertatih dan berpegangan pada tembok.


Energi hitam itu menyedot tenaga dalamnya sendirinya. Sehingga ia cukup melemah.


"Anda baik-baik saja, Pangeran?" tanya dokter senior istana saat kebetulan mereka bertemu di lorong.


Sang pangeran tersenyum sambil mengangguk, meski sebenarnya keadaannya tidak demikian. Ia bersandar pada tembok koridor istana, sambil sebelah tangan menumpu pada lututnya.


"Anda butuh bantuan, Pangeran?"


"Aku baik-baik saja, Dokter," elak pangeran Arshlan seraya meringis menahan kesakitan.


"Tolong tinggalkan aku," pinta sang pangeran lagi.


"Ta-tapi ...." Sang dokter ragu meninggalkan pangeran Arshlan dalam keadaan demikian. Namun ia tak bisa membantah. "Baik, Pangeran. Saya permisi."

__ADS_1


Dengan sedikit khawatir, dokter itu pun pergi meninggalkan pangeran yang sedang menahan kesakitan. Meski langkahnya berbalik, namun ia sedikit melirik kondisi sang pangeran menggunakan ekor matanya.


Pangeran Arshlan berusaha menegakkan kembali tubuhnya, ia mencoba berdiri tegak sambil menyeka keringatnya, agar ia kelihatan baik-baik saja. Karena ia akan berpapasan dengan seorang gadis yang baru saja keluar dari pintu kamar menuju ke arahnya.


Tatapan gadis itu selalu saja tajam dan penuh curiga seperti biasanya. Sang pangeran tak ingin terlihat seperti sedang kesakitan di hadapannya.


Gadis itu semakin mendekat, dan posisi mereka berpapasan.


Berniat untuk mengabaikan saja, karena dia sendiri sedang menahan tubuhnya yang semakin terasa menggigil. Namun sang putri malah berhenti tepat di depannya.


Pangeran Arshlan mengembuskan napasnya kasar, ia bahkan tak ingin berbicara apa-apa.


Pangeran Arshlan menatap datar pada sang putri, lidahnya terlalu kelu untuk menjawab.


"Katakan saja, kau sudah semakin berhasil merayu ibuku. Aku tau, dari keputusan kemarin kau juga meminta sebagian kecil wilayah Noirland untuk masuk menjadi wilaya Yorksland, kan?" cibir putri Estelle pada sang pangeran.


"Sekarang kau rayu lagi ibuku dengan berpura-pura mengatakan jika ibuku sakit parah agar ibuku panik dan meminta bantuanmu?" lanjut sang putri dengan tuduhannya.


Karena yang putri Estelle tahu, ibunya hanya sakit asma biasa. Ia merasa kesal saat ibunya diam-diam melakukan perjanjian dengan pangeran Arshlan, dan ingin melakukan terapi bersama sang pangeran. Ia tak percaya jika pangeran Arshlan bisa mengobati penyakit asma yang diderita ibunya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menyangka, bahkan kamu masih berusaha mengambil keuntungan dari kami yang sedang lemah."


Pangeran Arshlan tetap diam akan tuduhan putri Estelle, ia merasa tak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.


"Ssssh," desis pangeran Arshlan yang merasa kedinginan dan dirinya berusaha memeluk dirinya sendiri.


Putri Estelle mendelik melihat ke arah pangeran Arshlan dengan aneh.


Sandiwara apa lagi ini? Di sini memang dingin, tapi kenapa dia terlihat sangat kedinginan? Bahkan aku saja bisa menahannya hanya dengan selapis baju hangat.


Sang putri menelisik dari atas ke bawah, ia melihat jas dan baju hangat yang digunakan oleh pangeran Arshlan cukup tebal.


Sementara sang pangeran bersandar kembali pada dinding koridor karena ia tak sanggup lagi tegak berdiri.


"Sandiwara apa lagi ini? Seharusnya kau tidak kedinginan dengan baju setebal itu." Putri Estelle mendekat ke arah sang pangeran. Ia condongkan wajahnya pada pangeran Arshlan.


"Mungkin kau bisa menipu ibuku dengan sandiwara ini, tapi tidak denganku. Kau tidak akan mudah menipuku karena aku tidak percaya!"


Pangeran Arshlan membalas tatapan menelisik dari sang putri. "Sudah selesai bicara?"

__ADS_1


__ADS_2