
“Nenek, aku jadi lupa!” Putri Estelle berseru ketika dirinya telah mengingat sesuatu.
“Ada apa, sayang?” tanya sang nenek.
Putri Estelle melirik pada ibunya yang juga sedang memperhatikan dirinya. Seakan-akan menunggu anaknya untuk segera bicara.
“Anu … emmm … itu....”
“Katakan saja,” titah ibu suri Theresa.
“Ini tentang pangeran Arshlan.”
“Ehemm … ada apa dengan pangeran Arshlan? Pernikahan kalian masih dilaksanakan tahun depan, apa ada konsep pernikahan yang kamu inginkan?” Ibu suri mengira-ngira sesuatu yang ingin dibicarakan oleh cucunya.
“Tahun depan diperkirakan bisnis kerajaan akan mulai naik kembali. Ibu sudah menyiapkan investasi jangka pendek yang bisa kita petik hasilnya nanti sebagai dana pernikahan kalian. Kau tak perlu khawatir tentang itu, anakku. Sebutkan saja apa yang kau inginkan!” Kali ini ratu Allura yang menitahkan hal itu.
Putri Estelle meremas-remas jarinya karena merasa bingung. Apa yang ditawarkan oleh ibu dan neneknya, sungguh sangat berlawanan dengan sesuatu yang ingin ia bicarakan. Karena dia menginginkan perjodohan antara dirinya dengan sang pangeran dibatalkan.
Seandainya mereka tahu, bahwa aku di sini untuk membicarakan perjodohan yang ingin kubatalkan saja. Mengapa mereka seantusias ini dengan pernikahanku? Apa mereka ingin segera aku pindah ke Yorksland dan meninggalkan mereka?
__ADS_1
Batin putri Estelle menggerutu.
“Bukan itu, Bu, Nek!” sanggah sang putri. “Aku ingin meluruskan lagi masalah perjodohan ini,” ucap sang putri memberanikan diri. Ia memilah dan memilih kata-kata yang pas untuk menyatakan keengganannya.
“Maksudmu?” tanya ibu suri.
“Sebenarnya, untuk apa aku harus menikah dengan sang pangeran?”
Ibu suri menautkan alisnya. Sementara ratu Allura menjawab kata-kata putri Estelle. “Bukankah kau mencintai pangeran Arshlan? Lagipula, usiamu sudah cukup untuk menikah, sayang. Apa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranmu?” tanya sang ratu mencoba memahami putrinya.
“Tidak hanya itu, kau juga berhutang pada pangeran Arshlan, bukan? Dia mengatakan pada nenek, jika dia telah menyelamatkanmu, sebagai gantinya dia ingin mempersunting dirimu. Menurut nenek, ini adalah sebuah keberuntungan ketika kau bisa menjadi permaisuri dari seorang raja Yorksland.” Nenek menambahkan.
Sang putri mengembuskan napasnya. Apa si pangeran bodoh itu merasa sudah menjadi pahlawan? Kenapa hal itu saja ia ceritakan pada nenek?
“Sejujurnya … aku … aku … aku tidak mencintai pangeran Arshlan, Bu, Nek.” Sang putri mengutarakan keberatannya. Seakaan ada sebuah batu besar yang sedang berusaha ia lempar dari dalam dirinya.
“Apa kita tidak bisa mengganti lagi negosiasi kita?” rengek putri Estelle.
Ibu suri dan sang nenek sedikit menganga mendengar pengakuan sang putri.
__ADS_1
“Apa itu benar? Kalian pasti sedang bertengkar,” tebak ratu Allura yang masih tidak percaya.
“Cucuku yang tersayang. Bertengkar dengan pasangan itu adalah hal yang biasa, jangan sampai hal semacam itu menjadi penghalang bagi kalian untuk mempertahankan hubungan. Coba evaluasi diri satu sama lain, merenung lah, jangan mengambil keputusan berdasarkan emosi semata. Nenek tidak mau tau, kalian harus berbaikan pokoknya!”
“Crrk!” Putri Estelle mendecak. “Sudahlah.”
Sang putri pun malah menjauh dan berjalan menuju pintu. Ia merasa jika ibu dan neneknya malah salah paham pada dirinya.
Sang dayang pun membukakan pintu dan putri Estelle pun keluar.
Ratu Allura dan ibu suri tersenyum melihat reaksi putri Estelle.
“Aku sudah tidak sabar melihat mereka menikah,” ucap ratu Allura.
“Aku juga.”
__ADS_1