
Setelah pembicaraan dengan Yang Mulia Ratu Eliana, sang pangeran berinisiatif untuk menjenguk putri Estelle, kekasihnya itu. Namun ternyata, sang putri tidak mengizinkan siapa pun memasuki kamarnya, termasuk pangeran Arshlan.
Sang pangeran nampak gusar, karena seharian itu ia tak bertemu dengan putri Estelle sama sekali.
"Pengawal, buka!" Sang pangeran sudah kehabisan kesabarannya.
"Ka-kami mohon maaf, Pangeran. Tapi ... sang putri-"
"Aku bilang buka!" titah pangeran dengan aura menyeramkan.
"Nanti tuan putri marah pada kami ...." Para pengawal menunduk ketakutan.
"Oh, begitu. Kalian takut tuan putri marah pada kalian?" Sang pangeran mencibir.
Sementara itu para pengawal mengangguk lemah dengan tatapan tetap menunduk.
"Bagaimana kalau dengan ini?" Dari tangan pangeran Arshlan keluar sebuah asap putih mengepul. "Apa kalian tidak takut dengan ini?"
Asap putih itu mengarah pada para pengawal dan tepat berhenti di depan jantung mereka.
"Kalian tau itu apa?" tanya pangeran dengan santai.
__ADS_1
"Pe-pedang angin," jawab salah seorang pengawal. Lututnya bergetar melihat asap putih yang meruncing itu mengikutu ke mana pun ia bergerak.
"Si-silakan masuk, Pangeran Arshlan." Sementara satu orang pengawal yang lainnya juga ketakutan dan langsung saja membuka pintu.
"Begitu, dong!" Pangeran tersenyum pada para pengawal itu. "Jangan takut jika tuan putri marah-marah, aku suka dia marah padaku ...?" bisik sang pangeran sambil merangkul kedua pengawal tersebut. Sementara sang pengawal merasa canggung.
Tepat ketika pangeran masuk ke kamar sang putri, pedang angin yang siap menghunus para pengawal pun lenyap dengan sendirinya hinga pengawal tersebut bisa bernapas lega.
Drap drap drap
Sang pangeran melangkah mendekati ranjang.
"Hai ...," sapa pangeran Arshlan pada seorang gadis yang sedang menutup dirinya di balik selimut.
"Siapa kau?" Suara di balik selimut terdengar menggigil.
"Aku ... pangeran Arshlan," jawab sang pangeran seraya berdiri di samping putri Estelle.
"Aku ... tidak mengenalmu." Putri Estelle tidak membuka selimutnya sama sekali.
"Kau bercanda, sayang?" Sang pangeran tersenyum miring. "Aku akan duduk di sampingmu."
__ADS_1
"Minggir!" Sang putri melarang pangeran Arshlan mendekatinya. Namun tanpa sengaja ia malah membuka selimutnya.
Mata yang sembab, pipi yang kotor oleh air mata, lalu rambut berantakan. Sang putri terlihat sangat kacau.
Tatapan keduanya bersirobok. Putri Estelle menyadari jika dirinya akan tampak sangat memalukan jika bertatapan seperti ini.
"Pergi, kamu siapa?" Sang putri kembali menutupi wajahnya.
Pangeran Arshlan terkekeh melihat putri Estelle yang tiba-tiba pura-pura lupa dengan dirinya.
"Seharian kemarin kamu menghindar dariku, ada apa? Apa karena gagal melakukan itu kau jadi memusuhiku?" tanya sang pangeran dengan terlalu percaya diri. Tak tertinggal pula senyum jahil yang terus menggoda sang putri.
"Buka selimutmu!" Pangeran berusaha menyingkap selimut sang putri.
"Aku tidak mau, aku tidak mengenalmu," elak sang putri sambil memegangi selimutnya dengan erat.
Sang putri sepertinya masih merasa malu untuk bertemu sang pangeran karena kejadian malam itu.
"Jangan berbohong, jangankan mengenalku, kau bahkan sangat mencintai diriku." Pangeran Arshlan membelai kepala putri Estelle dari luar selimut.
Sementara itu sang putri tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau membuka selimut.
__ADS_1
Akhirnya pangeran Arshlan menarik selimut itu tanpa sang putri menyadarinya.