
“Ini … ini …?” Ratu Allura tiba-tiba bergetar tangannya saat memegang lembaran potret tersebut.
“Ada apa, Yang Mulia?” Ratu Eliana ikut terkejut hingga ia lupa memanggil Yang Mulia lagi pada Ratu Allura.
Ratu Allura menyimpan potret tersebut kembali ka dalam map berkas di atas meja. DIa duduk dan menenangkan dirinya terlebih dahulu. Menarik napas dan mengembuskannya lagi, sebelum ia kembali bercerita pada pemimpin Raisilian.
“Jadi begini ….” Ratu Allura memulai ceritanya.
Sementara itu, ratu Eliana dan raja Gerald mendengarkannya dengan seksama.
“Aku tidak tahu cerita mendasarnya seperti apa, tapi yang jelas orang-orang ini ada di penjara tawanan Noirland.” Cerita ratu Allura dengan sangat tegas.
“Aku tidak menyangka jika ini adalah paman dan bibimu dari pihak ayahmu, Ratu Eliana,” ujar Ratu Allura sambil berlinangan air mata.
__ADS_1
“Di penjara Noirland?” Raja Gerald sangat terkejut, kenapa ada warganya yang bisa ditahan di Noirland tanpa ada pemberitahuan pada Raisilian.
“Menteri Garfield. Orang-orangnya menteri Garfield yang membawa mereka Noirland,” jawab ratu Allura yang langsung tiba-tiba turun dari kursinya dan bersimpuh di hadapan ratu Eliana.
“Yang Mulia ratu Allura.” Ratu Eliana terkejut pada ratu Allura yang tiba-tiba berada di kakinya.
“Noirland banyak bersalah pada Raisilian. Selama ini aku tidak bisa mendampingi suamiku dengan baik sehingga dia memilih jalan yang salah. Tolong ampuni kerajaan kami yang tidak tahu diri ini.” Ratu Allura terlihat sangan memohon.
Sementara itu ratu Eliana berusaha memegangi tangan ratu Noirland itu agar segera bangkit. “Ayo, Yang Mulia ratu Allura, berdirilah. Jangan seperti ini!”
“Sudahlah, Yang Mulia Ratu.” Raja Gerald mendekat pada mereka berdua. “Ayo bangkit. Penyesalan Yang Mulia tidak akan mengubah apa-apa, kami sudah memaafkan Noirland sejak jauh-jauh hari,” ujar sang raja lagi.
Ratu Allura menangis, betapa terpukulnya ia saat mendengar suaminya ingin menguasai tambang emas milik Raisilian, yang lokasinya ditemukan ilmuwan Raisilian, yakni Louis. Satu demi satu korban bermunculan, ratu Allura bersedih karena dirinya tak bisa melakukan apa-apa, bahkan dirinya seakan narapidana yang tak berada dalam tahanan suaminya. Fisiknya tak terkurung, tapi hati dan pikirannya terkurung.
__ADS_1
Nasi telah menjadi bubur, ia hanya bisa mengembalikannya ke tempat semula meski tidak persis sama.
“Ananda Gerald,” panggil ratu Allura. “Tolong bebaskan tawanan Raisilian yang ada di Noirland, saya bersedih bila mengingat mereka. Maaf karena saya baru bisa bicara sekarang, karena dulu saya pun merasa tak tenang dengan hidup saya sendiri,” lanjutnya.
“Akan saya beri perintah untuk melakukan itu,” timpal sang raja. “Terima kasih Yang Mulia Ratu telah bersedia memberi tahu dan bekerja sama,” lanjut raja Gerald.
Ratu Allura menunduk dengan lesu. “Karena hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu kalian,” jawabnya.
Raja Gerald menatap pada istrinya, lalu ratu Eliana pun mengangguk seakan mengerti maksud Yang Mulia raja suaminya. “Yang Mulia Ratu Allura, ayo saya antar kembali ke kamar anda!” ajak Eliana seraya membopong Ratu Allura agar mau berdiri.
Dengan tertatih Yang Mulia ratu Allura dipegangi oleh ELiana dan para dayang. Dia diantarkan ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Ratu Allura mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia menghampiri ratu Eliana, lalu mengambil tangan ratu muda tersebut. Seraya menggenggamkan benda itu ke dalam kepalan tangan ratu Eliana, ratu Allura berkata, “Tolong, gunakan batu ini untuk ….”
__ADS_1
*
Jangan lupa baca cerita baru yang berjudul "Cinta Pria Miskin"