
"Aku lelah, Eli!" Tiba-tiba saja ada seseorang ikut berbaring di belakang gadis itu.
Eliana yang semula hampir terlelap langsung membuka matanya, ketika dia mendengar suara pria yang sangat ia kenali akhir-akhir ini.
Gadis itu langsung benar-benar sadar, tanpa kesiap, tanpa kedip.
Perlahan lengan kokoh itu menjulur, melingkar di lekukan pinggangnya dan mendarat tepat di atas perut rata Eliana.
Deru napas yang hangat meniup tengkuk Eliana melalui sela-sela rambutnya. Sebuah dada bidang nan lebar terasa begitu menempel pada punggung mungilnya.
Eliana merasa seperti kucing yang sedang dipeluk oleh seekor singa.
"Ya-Yang Mulia," panggil Eliana sedikit gugup.
"Lanjutkan tidurmu!" titah Sang Raja dengan singkat lalu ia tak bersuara lagi.
Eliana tiba-tiba mengingat pada dayangnya, Odeth. Wanita paruh baya yang selalu membantunya.
Setelah pagi-pagi buta sang dayang tersebut diminta menghadap Raja Gerald, hingga kini dayang tersebut belum memunculkan kembali batang hidungnya. Apakah Sang Raja benar-benar menghukum dayang itu? Dalam benak Eliana bertanya-tanya.
Seharian dayang Odeth tak muncul, Eliana menunggu dari siang, sore, hingga malam kini. Memang, ada seorang dayang yang mengatakan jika dia yang menjadi dayang Eliana untuk sementara, namun ternyata hanya sekejap saja. Ia benar-benar tak kembali lagi setelah itu. Bahkan Eliana harus kerepotan ketika ia hendak makan, namun bayi Kevin malah mengompol.
Sepertinya aku harus mendiskusikan ini dengan Yang Mulia, aku hanya ingin bibi Odeth yang menjadi dayangku.
Eliana bersiap-siap untuk mengemukakan keinginannya pada Yang Mulia Raja yang sedang tidur sambil memeluknya.
Satu kalimat, dua kalimat. Otaknya sedang berputar memikirkan kata-kata yang pantas untuk diucapkan pada Raja Gerald agar keinginannya dipenuhi.
__ADS_1
Kemudian gadis itu menarik napas.
Tarik, hembus. Tarik, hembus. Tarik, hembus.
Setelah dirasa cukup oksigen yang mengalir mengisi kejernihan otaknya, Eliana pun mencoba memanggil Sang Raja.
Semoga dia belum tidur. Eliana berharap sebelum bicara.
"Yang Mulia," panggilnya.
Tidak ada jawaban.
"Yang Mulia." Eliana mencoba sekali lagi.
Masih tidak ada jawaban.
"Emmmmm," gumam Raja yang ia suarakan entah dalam keadaan sadar atau tidak.
"Yang Mulia masih bangun?"
"Emmmm ...."
"Ada yang ingin hamba bicarakan," ucap Eliana memulai pembicaraannya.
"Emm."
"Ini tentang bibi Odeth."
__ADS_1
Raja Gerald tak bersuara. Namun Eliana berprasangka jika Sang Raja masih bangun, jadi ia melanjutkan perkataannya.
"Yang Mulia, hamba tidak ingin diganti dayang yang melayani hamba. Bisakah Yang Mulia mengembalikan bibi Odeth untuk menjadi dayang hamba?" tawar Eli.
"Dia sudah kuhukum ...," jawabnya dengan suara sedikit parau.
"Kenapa? Memang apa salah bibi Odeth, Yang Mulia?" ucap Eliana yang tak terima.
"Dia membahayakanmu." Ucapan Sang Raja begitu singkat sambil menahan kantuk.
"Membahayakan bagaimana? Bibi Odeth banyak membantu hamba," protes Eliana.
"Sudah kusediakan dayang baru!"
"Maksud Yang Mulia Emma? Emma tidak banyak membantu, aku ingin bibi Odeth," rajuk Eliana.
"Dengar kata-kataku!" Tiba-tiba suara Sang Raja berubah menjadi dingin dan tegas. Raja Gerald membalik tubuh Eliana agar menghadap ke atas, sementara dirinya sedang mengungkung Eliana. "Jangan seperti anak kecil, Eli! Kau ingin aku marah?"
Eliana meneguk salivanya berkali-kali.
Yang Mulia sangat tampan. Dalam ketakutannya, Eliana masih memuji ketampanan Raja Gerald.
"Mulai sekarang, sudah kuganti dayangmu! Jangan menawar lagi!"
Sadarlah Eli ...! Kau tak boleh kalah! Ayo, demi kembalinya bibi Odeth.
"Kalau Yang Mulia bersikeras, lebih baik hamba menolak jika suatu saat Yang Mulia ingin menyentuh saya!" ancam Eliana memberanikan diri.
__ADS_1
"Apa?" Raja Gerald tertawa. "Kau mengancamku? Aku tidak takut! Bahkan sekarang juga, aku bisa menggagahimu! Bagaimana?"