Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Ibu Suri Noirland Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Yang Mulia ibu suri, sudah waktunya untuk menyalakan api kremasi, silakan!" Sang pengawal mengarahkan ibu suri untuk mengambil obor yang sudah dinyalakan.


Dengan dipapah oleh pengawal, ibu suri mengarahkan obor pada kayu bakar yang telah mengelilingi jasad Raja Noirland.


Perlahan, api mulai menyulut dan pada akhirnya berkobar. Semakin besar api melahap jasad sang Raja, semakin deras pula air mata sang ibu suri.


"Jeremi ...! Jeremi ...!" teriaknya berulang kali yang membuat orang di sekelilingnya harus mengeluarkan tenaga untuk memegangi ibu suri.


"Apa artinya ibu sendiri di sini? Jeremi ...!" Ibu suri hampir saja mendekatkan dirinya pada kobaran api.


"Yang Mulia, tidak baik menangisi orang yang sudah pergi. Ikhlaskan Raja Jeremi, Yang Mulia," ujar seorang dayang yang juga menangis sambil memegangi ibu suri.


Pada akhirnya, api yang berkobar itu perlahan-perlahan menghancurkan kayu bakar dan juga mayat sang raja.


Ibu suri pun semakin lunglai menyaksikan anaknya telah benar-benar tiada. Kakinya melemas hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya.


Seketika ibu suri lunglai dan tak sadarkan diri.


"Yang Mulia! Yang Mulia!" Para dayang dan pengawal saling bahu membahu mengangkat ibu suri untuk dibawa ke kamarnya.


"Ibu suri tak sadarkan diri," ujar Raja Gerald yang melihat ibu suri digotong oleh pengawalnya.


"Antony, aku mau menemani ibu suri!" pamit Raja Gerald. "Eliana, ayo ikut aku!" titah sang raja pada wanita di sebelahnya.

__ADS_1


"Baik," jawab Eliana sambil langsung mengekor pada Raja Gerald.


Mempercepat langkahnya, Eliana dan Raja Gerald berusaha menyusul rombongan yang sedang membawa ibu suri itu.


Namun rombongan itu telah tiba terlebih dahulu dan ibu suri telah dimasukkan dalam kamarnya.


"Bagaimana keadaan ibu suri di dalam?" tanya Sang Raja begitu ia sampai di depan kamar ibu suri.


"Kami sedang memanggilkan dokter untuk memeriksa beliau, Yang Mulia," jawab pengawal yang menunggu di depan kamar.


"Apa kami berdua boleh masuk?" pinta sang raja.


"Silakan, Yang Mulia." Sang pengawal membungkukkan badan dan membukakan pintu untuk Raja Gerald dan Eliana.


Apa baik jika aku menanyakan rencana licik raja Noirland sekarang? Ibu suri masih sedang berkabung.


Sang Raja bergumam sendiri.


Lalu akhirnya ia pun memilih untuk duduk di sofa yang ada di dekat ranjang. Sementara itu Eliana sedang duduk di tepi ranjang ibu suri sambil mengagumi dekorasi kamar ibu suri Noirland dengan tema vintage yang minimalis tapi terlihat mewah.


Namun perempuan itu kini mendongak dan terpaku pada satu pemandangan yang membuatnya bertanya-tanya.


"Eliana, sedang apa kau?" tanya sang raja yang melihat Eliana melongo sambil mendongak ke atas.

__ADS_1


"Ah, iya, Yang Mulia?" tanya Eliana kembali.


Namun kali ini giliran Raja Gerald yang melongo karena ia juga melihat ke arah yang tadi Eliana lihat.


"Eliana, kau?" tanya Raja Gerald sambil berjalan ke arah Eliana namun matanya tetap tertuju pada dinding atas kamar ibu suri.


"Aku ...." Eliana menggelengkan kepalanya.


"Siapa kamu sebenarnya? Apa kamu benar anak paman Louis?" Raja Gerald langsung mengernyit.


"Mana mungkin aku bukan anak ayah. Jangankan Yang Mulia, aku pun terkejut melihat potret gadis yang ada di foto itu," jawab Eliana yang langsung mengerti penyebab raja menanyakan hal tersebut.


"Itu terlalu mirip Eliana," ungkap sang Raja.


"Tapi aku merasa jika itu bukan aku," jawab Eliana.


"Kalau bukan kau lalu siapa?"


"Mungkin ... ibu ...."


*


Hari ini sampai 5 bab, lo!

__ADS_1


Besok lagi ya, dears! :*


__ADS_2