
Memandangi sang surya yang mulai tenggelam, Eliana merasa bersyukur dengan hari-hari yang ia jalani di istana.
Tak terpikir oleh dirinya, jika sang ibu yang berkata ingin menjodohkannya dengan pria tua ternyata malah dirinya akan dinikahi oleh sang Raja.
Orang nomor satu di Raisilian yang sebelumnya hanya pernah ia lihat di televisi, majalah dan surat kabar, ternyata malah menjadi orang yang melamar dan bersedia menikahinya.
"Eliana?" panggil Sang Raja begitu ia tiba di kamar wanitanya.
"Yang Mulia?" Bunga-bunga selalu bermekaran setiap Eliana bertemu dengan Raja Gerald. Rona pipinya kembali memerah kala ia mendengar sang Raja memanggil namanya.
"Aku akan pergi ke mansion timur," ujar Raja Gerald.
"Oh, emm ... pergilah," jawab Eliana.
"Emmm ... jadi ... aku hendak memastikan jika kalung milik kita berdua adalah kunci dari pintu batu ruang bawah tanah mansion timur. Jadi ... apa kau ingin ikut serta untuk menyaksikannya?" ajak Raja Gerald.
"Lalu bagaimana dengan bayi Kevin jika hamba ikut ke sana?" Eliana khawatir pada anak susunya.
"Kamu tak perlu khawatir, ada dayang yang akan menjaga bayi Kevin." Sang Raja berusaha meyakinkan.
"Dayang? Apa dia bisa dipercaya?" Eliana langsung merasa sangsi karena adanya rasa trauma terhadap dayang Emma yang berusaha merugikannya.
"Aku jamin dia bisa dipercaya!" Raja Gerald memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Boleh aku bertemu dengannya dulu?" pinta Eliana sambil menggembungkan pipinya manja pada Raja Gerald.
"Tentu!" Senyum Raja Gerald terbit melihat Eliana yang tak canggung-canggung lagi bermanja padanya, meski terkadang masih menggunakan kata 'hamba' untuk menyebut dirinya.
"Dayang! Masuklah!" teriak Raja Gerald memanggil dayang dari dalam.
Cklek
Krieeet
Pintu terbuka dengan ragu, lalu memunculkan seorang wanita paruh baya yang sangat dikenali oleh Eliana.
"Bibi Odeth?" Eliana kegirangan.
"Selamat?" Eliana mengulang pertanyaan bibi Odeth.
"Iya, selamat karena sudah mendapat lamaran secara resmi dari Yang Mulia ...," bisik bibi Odeth yang tetap saja terdengar Raja Gerald.
"Aah, Bibi." Eliana terlihat malu-malu.
"Eekhm .... Eekhm ...!" Raja Gerald mendehem melepaskan pertautan antara bibi Odeth dengam Elliana.
"Aah, Bi. Raja mengajakku pergi, bisa kau tangani bayi Kevin selama aku tak ada?" Eliana meminta tolong.
__ADS_1
"Dengan senang hati, Nona!"
*
Setelah urusan penitipan bayi, Eliana berangkat dengan Raja Gerald menuju ke mansion timur.
Eliana dibuat takjub dengan kekokohan mansion timur meski ia masih penasaran karena belum penah memasuki mansion tersebut.
"Ayo!" ajak sang Raja.
Seperti biasa, pengawal sebagian tunggu di depan mansion, sementara sebagian lain diminta menemani sang Raja dan juga melindungi calon Ratu mereka untuk masuk ke dalam wadah.
Lalu tak lama kemudian, Eliana sudah masuk dan menginjakkan kaki pada mansion. Gadis itu menengok ke sana ke mari, dan melihat-lihat foto yang tertempel.
Lalu ia tiba-tiba terkejut dengan salah satu foto yang tergantung di samping pintu kamar. Sebuah foto maternity yang dicetak cukup besar, di mana terdapat istri Raja Gerry dengan perut cukup besar dan sang Raja Raisilian VI yang melipat dari belakang.
"Kenapa? Ini adalah kakakku dengan istrinya, Elsa!" ujar sang Raja.
"Dia ... bukan Elsa! Aku mengenalnya, dia saudara dari garis keturunan ayaku. Namanya ...," ujar Ratu terasa sulit mengatakannya.
"Namanya siapa?" Raja Gerald merasa heran.
"Dia, Manda!"
__ADS_1