
Putri Estelle telah kembali dari bandara, ia sangat terburu-buru ingin memastikan ibundanya baik-baik saja. Perasaannya benar-benar gelisah tak seperti biasanya.
Pangeran Arshlan berusaha untuk terlihat biasa saja. Sebenarnya bisa saja saat ini ia diam-diam mengalirkan tenaga dalam agar ketika sampai di istana sang putri bisa kembali melihat energi roh sang ratu.
Namun, ia tak bisa melakukannya, entah mengapa sebagian hatinya mengatakan jika sang putri perlu tau yang sebenarnya. Lagipula saat ini mereka sedang diikuti para dayang dan pengawal, akan sangat aneh bila tuan putri bisa melihatnya sementara yang lain tidak.
Blak
Sang putri mendorong pintu mobil tanpa menunggu pengawal membukanya. Ia langsung berlari masuk ke dalam istana dengan tergopoh-gopoh.
"Ibu ...! Kalian melihat ibuku?" Sang putri bertanya pada dayang yang sedang membersihkan altar istana.
Melihat tak ada dayang yang menjawab, putri semakin curiga. "Kepala dayang!" Sang putri berpapasan dengan kepala dayang.
"Bagaimana dengan keadaan ibuku?" tanya sang putri. "Di mana ibuku?" tanyanya lagi dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Y-Yang Mulia, Yang Mulia Ratu tidak ke mana-mana dari kemarin. D-Dia ada di kamarnya." Sang kepala dayang gagap karena terkejut melihat sang putri tiba-tiba bertanya padanya dengan nada tinggi.
Sang putri pun akhirnya pergi, namun ia merasakan ada yang janggal dengan jawaban kepala dayang.
"Tidak ke mana-mana dari kemarin?" Sang putri bertanya pada dirinya sendiri. Ia pun tersenyum kecut dan memutar balik tubuhnya.
"Kepala dayang!" tegas sang putri.
"Cepat katakan, apa ibuku sudah bisa bangun?" tanya sang putri dengan derai air mata.
Kepala dayang merasa aneh pada pertanyaan sang putri hingga akhirnya ia diam saja.
"Kepala dayang! Cepat jawab aku! Apa ibuku sudah bisa bangun?" tanya sang putri dengan air mata yang deras mengalir.
Sang kepala dayang menggelengkan kepalanya perlahan. "Belum, Tuan Putri. Sejak dua hari yang lalu, Yang Mulia Ratu tidak pernah bangun. Bahkan sejak semalam, hingga detik ini ia tak membuka matanya, tak menjawab pertanyaan kami, dan tak menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali."
__ADS_1
Sang kepala dayang menjawab pertanyaan tuan putri dengan tangisan pula. "Sudah jelas kondisi Yang Mulia Ratu demikian, Tuan Putri. Mengapa Putri bertanya lagi? Hal itu hanya menyakiti hati seluruh dayang di seantero kerajaan ini. Bagi kami, Yang Mulia Ratu Allura adalah pahlawan yang telah mensejahterakan kehidupan dayang istana seperti kami." Kepala dayang itu tergugu dengan tangisnya.
Mereka sudah mengira, keadaan ratu Allura yang seperti ini, tinggal menunggu hitungan hari sebelum ia benar-benar pergi.
Putri Estelle pun terkulai, lututnya lemas dan akhirnya ia bersimpuh di lantai.
"Yang Mulia Tuan Putri, ada apa ini?" Kepala dayang lagi-lagi terkejut karena melihat sang putri yang tiba-tiba duduk di atas lantai tepat di hadapannya.
"Pantas saja." Sang putri tersenyum. "Pantas saja ia seakan melarangku untuk masuk ke kamar ibu. Kami hanya mengobrol di sofa. Pantas saja."
"Pantas saja apa, Tuan Putri? Siapa yang melarang tuan putri masuk ke kamar Yang Mulia Ratu? Siapa?" Kepala dayang bertanya-tanya.
"Dia memelukku, mengusap rambutku, mengucapkan kalimat sayang seakan ingin berpisah denganku .... Ternyata begitu ...," gumam sang putri berbicara sendiri.
Kepala dayang hanya terdiam tak menimpali karena ia tak mengerti apa yang dibicarakan putri Estelle.
__ADS_1
Sementara itu, sang pangeran yang masih terdiam di tempatnya dan mengamati sang putri, mulai berjalan menghampiri. "Lebih baik, kita lihat kejadian yang sebenarnya. Ayo!"