
Gerald menatap ibundanya lekat-lekat dan berkata, "Ini semua ... tentang Louis."
"Apa katamu?" Paula langsung menggenggam tangan anaknya. "Louis?"
Raja Gerald pun mengangguk. "Iya, Bu!"
"Kita bicara di mana?" Paula menggandeng tangan anaknya.
"Di ruanganku, ibu bersedia?" tawar Gerald.
Paula mengangguk dengan mantap. "Ayo!"
Mereka berdua berjalan beriringan, dengan para dayang dan pengawal mengikutinya.
Tiba di depan ruangan Raja Gerald, ternyata Antony telah tiba terlebih dahulu setelah mengantar putri Estelle. Ia berdiri di samping para pengawal, menunggu kehadiran sang Raja.
"Silakan masuk Yang Mulia." Pengawal membukakan pintu.
"Ikutlah, Antony! Ada sesuatu yang harus kita bicarakan!" Raja Gerald menyeru Antony sembari ia melangkahkan kaki masuk ke ruangannya.
Setelah Sang Raja dan ibu suri masuk, Antony pun menyusulnya.
__ADS_1
"Hamba menghadap Yang Mulia," ucap Antony begitu ia masuk ke ruangan Raja Gerald.
Para pengawal menutup pintu tersebut, menyisakan tiga orang petinggi kerajaan dalam sebuah ruangan.
"Antony, ibunda sudah berada di sini, tolong tunjukkan video paman Louis yang kita terima siang tadi!" perintah Raja Gerald pada penasihat yang terkadang merangkap sebagai asistennya itu.
"Segera dilaksanakan, Yang Mulia," jawab Antony.
Pria tua itu pun, mengeluarkan tablet milik sang Raja yang ada padanya. Dia memutar kembali video yang dikirim melalui surat elektronik tersebut.
Ibu suri menerima tablet itu, ia menekan tombol play pada layar dan menautkan kedua alisnya begitu ia melihat tampilan video
Semuanya tegang, baik Raja Gerald maupun Antony memperhatikan raut wajah ibu suri yang tak berhenti menunjukkan ekspresi tegangnya.
"Louis ...?" gumamnya sambil menutup mulutnya yang menganga menggunakan tangan begitu video menunjukkan bagian terakhir di mana Louis sedang berbicara.
Dan ... video itu pun berakhir.
Ibu suri menarik napas panjang sebelum ia meletakkan kembali tablet ke atas meja.
"Apa ibu mengetahui sesuatu dari video ini?" tanya Raja Gerald.
__ADS_1
Ibu suri masih termenung, air mukanya tak dapat ditebak. Namun yang jelas, Paula masih menyimpan keterkejutannya. Sosoknya sebagai wanita bijaksana yang selalu mendahulukan berpikir daripada berbicara memang sangat terlihat saat momen seperti ini.
Baik Raja Gerald maupun Antony saling bertukar pandang, mereka berdua sama-sama sang ibu suri berbicara.
"Sepengetahuan ibu, Baginda Raja dulu pernah sangat marah pada Louis, namun entah apa penyebabnya ...," ucap ibu suri sambil mengenang.
"Bahkan beliau pun sempat marah besar pada ibu, Gerald," lanjutnya sambil menitikkan air mata.
"Marah pada ibu?" Gerald hampir tak percaya.
Paula mengangguk.
"Mengapa baginda marah pada Yang Mulia Ratu saat itu?" tanya Antony.
"Entahlah ... ibu hanya iba pada Louis," ucapnya sambil agak tergugu.
"Hanya karena ibu membela paman Louis, ayahanda marah besar?" Raja Gerald sekali lagi tak percaya. Ia paling tahu bahwa ayahnya adalah tipe Raja yang setia dan sangat menyayangi istrinya. Bahkan semasa hidupnya, mendiang Raja Gabriel tak pernah memiliki seorang selir pun, katanya dia tidak ingin menyakiti Ratunya.
"Ya! Baginda Raja marah karena Laboratorium bawah tanah milik Louis hancur tertimbun longsor. Padahal itu adalah bencana, tapi ... dia sangat marah pada Louis karena tak berhasil melindungi hasil penelitiannya," jelas Paula lagi.
"Memanganya apa yang diteliti paman Louis saat itu?" Raja Gerald kembali bertanya-tanya.
__ADS_1
"Sesuatu ... yang berkaitan dengan pertambangan."