
Sang putri sudah usai dengan kegiatan mandinya. Dia keluar dari bath tube dan langsung menyerbu bath robe yang tersedia.
Keluar dari kamar mandi, gaun dan seluruh perlengkapan telah dipersiapkan.
Seorang dayang membantunya mengeringkan rambut menggunakan pengering rambut.
Lalu tiba-tiba getaran dari ponselnya terdengar lagi.
Drrt drrrt drrt
Seorang dayang menyerahkan ponsel itu kepada sang putri. "Pangeran Arshlan memanggil, Tuan Putri."
Putri Estelle menengok, membuat dayang yang sedang mengeringkan rambutnya berpindah posisi mengikuti arah sang putri menengok.
"Dia memanggil lagi?" tanya sang putri.
Memangnya sepenting apa, sih? Sampai dia ingin memanggil berkali-kali.
"Angkat saja!" titah putri Estelle.
"Ta-tapi ini panggilan video," ujar sang dayang ragu.
Drrrt drrrt drrrt
Sementara itu ponsel pintar sang putri terus berdering.
"Sudah angkat saja!" ujar sang putri cuek.
__ADS_1
"Coba tolong sebelah sini lebih ikal."
"Baik, Tuan Putri."
"Apa aku harus mengganti warna rambut?"
Sang putri malah sibuk mengobrol dengan dayang yang sedang menata rambutnya.
Sementara itu, dayang lain yang memegangi ponsel tuan putri kebingungan. Ia pun mengangkat panggilan video tersebut, dengan menggeser tanda hijau ke atas.
"Ha-hai, Pangeran," sapa sang dayang dengan tangan gemetaran. Bagaimana tidak, bisa bertatap muka dengan seorang pangeran yang sangat tampan sekelas pangeran Arshlan akan menggetarkan hati dan tubuh setiap wanita.
Mungkin bagi dayang tersebut, mimpi apa dirinya semalam bisa menatap wajah pangeran Arshlan langsung melalui ponsel.
"Ke mana putri?" tanya sang pangeran dari seberang.
"Ah, anu ... sepertinya aku harus memutar kameranya saja." Dayang tersebut langsung menekan tombol agar layar yang aktif berasal dari kamera belakang, dia juga mengarahkan ponsel itu ke arah putri Estelle.
"Hei, kenapa kau tidak mau mengangkat teleponku?" protes pangeran Arshlan dengan mode loudspeaker dan full volume.
Putri Estelle mendengar itu, namun ia tak menggubris.
"Hei, apa kau tidak bisa mendengarku? Dayang, coba dekatkan ponsel ini pada sang putri!" titah pangeran Arshlan dari seberang. Dia terlihat kesal karena putri Estelle mengabaikannya.
"Ba-baik," jawab sang dayang dengan gugup karena sedari tadi ia memandangi wajah pangeran Arshlan saja.
Dayang itu maju, lebih dekat dengan sang putri.
__ADS_1
"Pu-putri, pangeran Arshlan ingin berbicara dengan anda, Putri." Dayang ingin menyerahkan ponselnya namun sang putri menolak.
"Kau saja yang pegang ...," bisik putri Estelle.
"Ada apa?" tanya putri Estelle ke arah kamera.
"Kenapa kau tidak mengangkat telponku?"
"Aku sedang mandi. Kau sengaja ya, ingin mengintipku saat mandi dan ingin melakukan video call?"
Tidak ada suara sejenak dari seberang sana.
"Cih! Dia tak berkutik!" Putri Estelle menyebik.
"A-aku. Aku tidak tau kalau kau sedang mandi." Pangeran menjawab dengan gugup.
Sang dayang yang melihat wajah pangeran Arshlan sedang gugup di layar tampak cekikikan sendiri. Ia merasa menjadi dayang paling beruntung se-Noirland karena bisa memegangi ponsel sang putri ketika melakukan panggilan video dengan pangeran Arshlan.
"Aku, ingin memberitahu kabar baik untukmu!" ujar sang pangeran.
"Apa?" Putri Estelle menjawab sambil memilih-milih kuteknya.
"Bisakah kau melihat ke arahku saat sedang bicara?"
"Tidak! Karena sekarang aku sedang sibuk."
"Aissh! Ibu suri Paula mulai menggerakkan jarinya. Hebat, kan, terapi dariku?"
__ADS_1
"Apa?"
Putri Estelle sontak merebut ponsel itu dari dayang. "Coba ceritakan padaku!"