
"Ibunda ...! Ibunda ...!"
Sang pangeran panik mencari ibunya. Dia baru saja pulang setelah meditasi yang seharusnya dilakukan selama dua bulan di air terjun bukit Sondakh.
Hanya saja Mahaguru Respati membangunkannya lebih awal karena terdapat kekacauan di istana Yorksland.
Pangeran Arshlan pun terpaksa kembali dan dikejutkan dengan kekacauan yang terjadi.
"Di mana ibuku?" tanya pangeran Arshlan pada setiap dayang yang ia temui. Namun para dayang itu hanya merungkut ketakutan dan tak berani menjawab.
Sang pangeran terus berlari dan menuju ke kamar ibunya. Ke mana para pengawal? Begitu batinnya meronta-ronta. Dia sangat tak percaya saat melihat keadaan istana yang sangat kacau dikarenakan kudeta yang dilakukan oleh paman-pamannya.
"Ibu adalah wanita terkuat di Yorksland, ia tidak akan mati dengan mudah di tangan cecunguk-cecunguk itu!" amuk pangeran Arshlan yang emosi melihat ibunya tidak ada di tempatnya.
Sang pangeran ke dalam kamar ibundanya dan menggeledahnya. Tujuan sang pangeran adalah menemukan ibunya. Namun, nihil! Tak ada satu pun jejak yang ditinggalkan oleh ratu Maria sebagai petunjuk ke mana dirinya pergi.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan ibuku! Aku akan membakar hidup-hidup kalian semua!" geram pangeran Arshlan. Dia mengeratkan genggaman pada pedangnya. Matanya berkilat-kilat dan rahangnya mengeras.
__ADS_1
Api emosi membakar hatinya. Benar-benar kemarahan dari seorang pangeran Arshlan. Dia pun menarik pedang dari sarungnya dan memancarkan hawa pembunuh yang kental dari auranya.
Brak!
Seseorang membuka pintu kamar Yang Mulia Ratu. Pangeran Arshlan menoleh, dan melihat mahaguru Respati berdiri di ambang pintu.
"Kendalikan emosimu, pangeran Arshlan. Jangan membunuh siapapun yang tidak mengganggu dirimu." Mahaguru Respati menghampiri sang pangeran. Langkahnya terlihat pelan dengan matanya yang meneduhkan.
"Aku yang akan mengurusi ibumu, ada hal lain yang lebih penting harus kau lakukan!" seru mahaguru Resti.
"Pamanmu melakukan kudeta, namun mereka pasti akan memutar balik fakta jika dirimu sampai membunuh orang lain. Pergilah! Jangan bunuh siapapun! Pergilah ke tempat lain dan mintalah dukungan dari kerajaan lain." Mahaguru memberi saran pada murid satu-satunya.
"Baik, Mahaguru!" Sang pangeran membungkuk dan memohon pamit pada gurunya.
Drap drap drap!
Suara langkah kaki berbondong-bondong menghampiri memasuki istana. "Bunuh sang pangeran! Bunuh!" Suara yang riuh meneriakkan perintah untuk membunuh sang pangeran.
__ADS_1
Pangeran Arshlan terkejut mendengar suara itu. Ia kembali memegang erat sarung pedangnya.
"Tidak, Pangeran!" Mahaguru Respati mencegah tangan sang pangeran yang hendak menarik kembali pedang dari sarungnya.
"Lebih baik, pangeran pergi. Biarkan guru yang menahan mereka di sini!" Mahaguru menatap tegas mata sang pangeran, menunjukkan jika ia sangat serius meminta agar sang pangeran pergi dari istana.
"Tapi ... guru ...?" Sang pangeran ragu untuk pergi meninggalkan gurunya. Namun kata-kata yang baru saja diungkapkan sang guru bukan hanya sekedar nasihat ataupun saran, melainkan perintah darurat yang harus dilaksanakan segera.
"Ayo kita bunuh pangeran Arshlan! Ayo!"
"Bunuh anak singa dan induknya! Bunuh!"
Sebelum amarah mendidihkan darahnya, sang pangeran tidak ada jalan lain selain memang harus pergi.
"Pergilah! Cari dukungan diplomatik dari negara lain. Jangan sampai peristiwa perang sedarah terulang di Yorksland!"
"Murid mohon pamit, Mahaguru!"
__ADS_1