
"Jika dia menyakitimu, aku yang akan memenggal kepalanya!"
Glek glek
Sang pangeran langsung menelan ludahnya ketika mendengar perkataan sang ibu yang langsung berkata demikian.
"Itu tidak akan terjadi," ujar sang pangeran sembari mencibir. Ia tahu, ibunya memang sengaja membuka barrier ketika mengucapkan ancaman itu.
Ia pun langsung pergi menuju ke tempat ibunya dan juga putri Estelle berbincang tadi. Dirinya baru saja mendapat surat keterangan sehat untuk putri Estelle dari para dokter yang telah merawatnya selama di Raisilian.
"Kenapa kau kembali ke mari? Kita belum selesai berbincang," protes ratu Allura begitu melihat batang hidung anaknya muncul kembali.
"Kita akan Noirland hari ini. Ibu suri Theresa sangat merindukan cucunya." Sang pangeran menjawab dengan dingin dan tak peduli dengan ekspresi kesal dari ibunya.
"Apa aku sudah bisa kembali?" tanya putri Estelle kegirangan.
"Iya." Pangeran Arshlan mengedip dan menunjukkan secarik kertas. "Ini, dokter menyatakan jika kau sudah sehat dan bisa kembali ke kerajaanmu."
__ADS_1
Putri Estelle segera merebut kertas itu dan melihatnya. "Terima kasih, pangeran." Sang putri tersenyum dengan tulus.
*
Setelah menemani ibu suri Paula, sore itu juga putri Estelle dan ratu Maria kembali ke Noirland menggunakan pesawat dari Raisilian. Sementara pangeran Arshlan, ia menaiki motor yang ia dapatkan dari raja Gerald seperti biasanya.
"Apa kau tidak akan kekurangan bahan bakar menaiki motor hingga ke Noirland?" tanya sang putri tak percaya.
"Justru aku memang tidak akan mengisinya," ujar sang pangeran tersenyum.
"Kau tak perlu khawatir, sayang! Bahkan dulu juga dia pernah pergi ke Raisilian dari Yorksland tanpa kendaraan. Tadinya aku ingin larang raja Gerald untuk meminjaminya motor." Ratu Maria menimpali.
"Ibu ... aku ini anakmu atau bukan?"
Ratu Maria terkekeh sambil menggamit lengan putri Estelle. "Ayo, kita naik!"
Sang ratu mengajak putri segera naik pesawat, meninggalkan pangeran Arshlan yang hendak pergi menggunakan motor.
__ADS_1
"Yang Mulia Ratu, terima kasih sudah menjenguk nenekku sebelum anda datang ke Raisilian. Hamba mendengarnya dari pangeran Arshlan, jika Yang Mulia Ratu pergi berkunjung ke Noirland," ujar sang putri membuka percakapan begitu pesawat telah lepas landas.
"Tak perlu berterima kasih, aku hanya khawatir terjadi kekacauan di Noirland yang diakibatkan oleh adik iparku yang datang. Dia pergi dari Yorksland tanpa berita, kalau itu terjadi, biasanya pangeran Aro sedang membuat kekacauan di kerajaan yang ia datangi. Aku dan Arshlan sungguh khawatir, begitu tau jika kerajaan yang didatangi olehnya adalah Noirland. Maka dari itu, aku langsung pergi ke istanamu," jelas sang ratu.
Putri Estelle mengangguk. "Terima kasih Yang Mulia Ratu. Nenekku sangat senang atas kunjunganmu. Sekali lagi terima kasih."
"Tak perlu sungkan, lagi pula ... jangan terus-terusan memanggilku dengan sebutan Yang Mulia Ratu. Aku ini akan menjadi ibumu. Panggil aku ibu," pinta ratu Maria pada putri Estelle.
Sang putri tersenyum menunduk. "Ah, apa boleh begitu?" tanya putri Estelle meragu.
"Sangat boleh, sayang. Aku berharap kau menjadi menantuku. Kau juga ... menyukai anakku, kan?"
Putri Estelle lagi-lagi bersemu merah di pipinya begitu mendapat pertanyaan macam demikian.
Namun melihat ratu Maria yang sepertinya sangat menunggu jawabannya, ia pun mengangguk malu-malu.
Setelah itu mereka berdua pun beristirahat di atas pesawat hingga burung besi itu membawa mereka ke daratan Noirland.
__ADS_1