
“Bibi Odeth …!” panggil Eliana pada sang dayang. Eliana sendiri sedang menengok pada kulkas untuk memeriksa persediaan ASI perah miliknya.
“Iya, Nona? Kenapa?” Bibi Odeth menjawab sambil setengah berlari menghampiri Nona-nya.
“Stok ASI perah hari ini sudah sangat menipis, aku sudah benar-benar tidak bisa menghasilkan ASI lagi,” ujar Eliana sedih.
“Diganti dengan susu formula saja, Non. Jangan sedih. Lagipula Kevin sendiri sudah tidak perlu ASI eksklusif lagi.” Bibi Odeth mencoba membesarkan hati Eliana agar wanita itu tak putus asa.
“Tapi ….” Eliana terlihat berat untuk berhenti menyusui bayi Kevin.
“Sudahlah, Nona ….” Bibi Odeth mengusap-usap punggung Eliana.
“Raja Gerald tidak mengizinkan lagi bayi Kevin untuk mennyusu dari susu formula, Bi. Lagipula aku, kan, membayar hutang ayah dengan menyusui bayi Kevin sampai dua tahun.” Eliana terlihat sedih dan panik.
“Yang Mulia Raja Gerald pasti mengerti, Nona. Nona tidak perllu bersedih. Hal seperti ini wajar terjadi, Nona tidak perlu menyalahkan diri Nona sendiri.” Bibi Odeth mengajak Eliana berdiri dan menutup kembali kulkasnya.
“Ayo, ke mari, Nona.”
Eliana pun berjalan menuju ke ranjangnya.
“Jam berapa Ratu Allura dan Putri Estelle akan ke bandara? Aku ingin ikut mengantar mereka,” ujar Eliana.
“Nanti sore, Nona. Menurut informasi yang saya dengar mereka berdua ingin melakukan perjalanan malam untuk sampai ke istana Noirland,” jawab bibi Odeth.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu aku masih bisa istirahat sekarang.” Eliana menyandarkan punggungnya pada headboard.
“Ya, sebaiknya anda beristirahat, Nona. Jangan terlalu lelah! Nanti saya bangunkan jika Ratu Allura dan Putri Estelle berangkat.” Bibi Odeth membuka selimut dan menyelimuti Eliana.
“Sebentar, Bibi.” Eliana membuka kembali selimut dan berlari ke kamar mandi.
Wanita itu terlihat payah saat memuntahkan isi perutnya. Bibi Odeth menghampiri Eliana dan membantunya dengan memijit belakang lehernya.
Cuuuur
Eliana mengucurkan air dari keran dan berkumur membersihkan mulut dan wajahnya. “Setiap hari semakin payah saja!” ucap Elian sambil berjalan lagi kembali ke ranjang dengan langkah gontai.
“Apa Yang Mulia Raja sudah diberitahu?” tanya bibi Odeth.
“Sebaiknya segera beritahu agar pernikahan Nona dan Yang Mulia segera dilaksanakan.”
Eliana mendengarkan saran bibi Odeth namun ia enggan untuk menjawabnya. Bahkan dia tidak lagi menemuiku setelah datang Arshville waktu itu. Entah apa saja yang dia lakukan?
“Nona …? Anda baik-baik saja?” tanya bibi Odeth pada Eliana yang terlihat sedang melamun.
“Ya, aku hanya butuh istirahat, Bi, sepertinya.” Eliana menarik selimutnya lagi dan mencoba untuk tidur.
“Baiklah, kalau begitu. Silakan beristirahat, Nona. Saya akan ke mari bila bayi Kevin menangis.” Bibi Odeth pun segera pergi dan keluar dari kamar Eliana.
__ADS_1
*
“Bagaimana keadaan Eliana, dayang?” tanya Raja Gerald tanpa melihat ke arah orang yang diajaknya bicara.
“Nona baik-baik saja, Yang Mulia,” jawab bibi Odeth yang tiba-tiba dipanggil begitu ia keluar dari kamar Eliana.
“Bayi Kevin, bagaimana?”
“Bayi Kevin baik-baik saja, hanya saja ….”
“Hanya saja kenapa?” tanya Raja Gerald tak sabaran.
“Hanya saja sekarang bayi Kevin tidak bisa menyusu lagi pada Nona Eli,” jawab bibi Odeth memberanikan diri. Ia tahu jika sang raja akan marah mendengar hal ini.
“Kenapa? Apa Eliana sakit lagi?” Sang Raja semakin khawatir.
“Bu … bukan, Yang Mulia. Anu ….”
“Kenapa …?”
“Anu ….”
__ADS_1