
Antony menatap punggung Sang Raja yang berlalu dari hadapannya.
"Kau bisa kembali ke ruanganmu, Antony! Ini sudah larut malam!" titah Raja Gerald pada Antony sekali lagi.
"Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas kemurahan hatinya," jawab Antony. Pria tua penasihat kerajaan itu mengedikkan bahu sambil menggelengkan kepalanya. Yang Mulia, apa ini karena Eli?
Atas kecurigaannya, Antony diam-diam mengikuti Sang Raja. Kemana Yang Mulia akan pergi? Apa benar dia kembali ke kamarnya?
Antony bertanya-tanya dalam hati.
Dia terus mengamati punggung Sang Raja yang semakin melangkah jauh darinya. Sang Raja menyusuri lorong istana tanpa pengawalan. Dan tibalah dia di depan kamarnya.
Apa Yang Mulia ingin kembali ke kamar karena ingin cepat bertemu Eli?
Setelah memastikan Sang Raja benar-benar masuk ke kamarnya, Antony pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya sendiri. Yang penting beliau sudah aman.
Sementara itu di kamar Yang Mulia, Eliana sudah tertidur pulas sambil duduk bersimpuh di lantai dengan kepala yang ia letakkan di atas ranjang Raja Gerald. Tangannya memeluk bayi Kevin yang meringkuk di atas kasur Sang Raja.
Gerald melihat pemandangan itu, ada rasa berdebar dalam dadanya. Perasaan hangat macam apa ini?
Tak bisa ia tahan, ketika kedua ujung bibirnya ingin melekuk naik membentuk senyum. Entah mengapa, berbulan-bulan menjaga bayi Kevin seorang diri, Sang Raja merasa sebagai ayah tunggal untuk Kevin. Sehingga keberadaan Eliana yang sangar mengayomi Kevin, membuat Raja Gerald tenang meninggalkan Kevin saat ia harus bekerja.
__ADS_1
Dan lagi ... melihat Eli duduk bersimpuh hingga tertidur pulas seperti itu, seakan-akan ....
"Rasanya aku seperti sedang ditunggu istriku pulang," ujarnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tidak ada yang menyiapkan air mandi, tidak ada yang memandikannya, tidak ada yang mengambil baju ganti untuknya. Raja Gerald merasa senang sekali.
Tapi ... seandainya Eliana bangun seperti kemarin, ia pasti akan mengerjai Eliana lagi. "Hahaha," tawa sumbang dari Sang Raja keluar saat ia ingat momen dimana dirinya meminta Eliana melepaskan satu-satunya pakaian yang tersisa. Ce la na dalam!
Kali ini, ia tak akan membangunkan Eliana. Sang Raja memilih menyiapkan segalanya seorang diri. Karena hal ini, memang keinginannya dari dulu. Kegiatannya menjadi lebih cepat tanpa banyak tangan yang membantunya.
Setelah selesai mandi dan mengganti baju, Raja Gerald menghampiri kembali sepasang ibu dan anak angkat yang masih tertidur dengan pulasnya.
Ia gunakan piyama berwarna biru nila miliknya, Raja Gerald terus memperhatikan kedua manusia itu, hingga pada akhirnya memutuskan suatu tindakan.
Perlahan-lahan, Raja Gerald membawa sang bayi ke dalam box-nya. Beruntung, bayi Kevin tak bangun dari tidurnya.
Kemudian dengan sedikit mengendap-endap, ia tatap ke arah Eliana. Apa aku juga harus memindahkannya?
Raja Gerald pun, menyimpan guling kesayangan yang akan ia gunakan sebagai bantalan kepalanya. Kemudian meletakkan sebuah bantal di samping guling. Lalu Raja Gerald pun menyangga tubuh Eli dan dengan hati-hati.
Sang Raja menatap bantal yang ada di samping gulingnya itu. Ya ... untuk hari ini saja, kau boleh tidur sekali lagi seranjang denganku!
__ADS_1
Akhirnya Sang Raja menidurkan Eliana di sampingnya. Namun, ia baru menyadari sesuatu.
Renda putih yang mengelilingi gundukan milik Eliana terbuka. Beberapa kancing baju atasnya pun terlepas.
Kulit putih yang menggoda untuk dikecup itu tersuguh di hadapan Yang Mulia.
Glug Glug, Raja Gerald selalu menelan salivanya berkali-kali saat melihat pemandangan itu.
Sepertinya, Eliana terlupa untuk menutup dadanya setelah menyusui bayi Gerald tadi.
Kemudian dengan hati-hati, Sang Raja menarik br a yang tersingkap. Lagi-lagi Sang Raja berusaha untuk tidak menyenggol pu ting merah muda yang serba sensitif itu.
Namun pucuk itu selalu menantang menggoda untuk diremas dan dihisap.
Aduuh! Eli! Kau sengaja ingin menggodaku, hah? Tidak akan mempan! Aku sama sekali tidak tertarik.
Dengan cepat Sang Raja menutup bongkahan yang sedang melambai-lambai dalam fantasinya. Kemudian ia membantu Eliana untuk menutup kncing bagian dadanya.
Setelah semuanya selesai, keringat dinginnya mengucur, telapak tangannya pun menjadi basah. Sang Raja merebahkan dirinya di atas kasur dengan berbantalkan sebuah guling. Dia melihat bagian bawahnya, yang seakan berusaha menyesak ingin keluar.
Aku tidak tergoda! Rapal Sang Raja.
__ADS_1
Namun ia lirik lagi Eliana di sampingnya.
Huuuft! Ini benar-benar ujian.