Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Curahan Hati Eliana


__ADS_3

Pesawat telah berhasil mendarat kembali di bandara milik Raisilian. Sang Raja dan seluruh kru yang menaiki pesawat tersebut pun melepaskan sabuk pengaman.


"Ayo!" Sang Raja mengulurkan tangan pada Eliana.


Meski dengan wajah yang masam dan tak enak dilihat, calon ratu dari kerajaan Raisilian itu tetap menerima uluran tangan Raja Gerald.


"Apa kau mau menemui rakyat-rakyatmu dengan wajah seperti itu?" Sang Raja berbisik pada Eliana yang telah berdiri di sampingnya.


Eliana menarik napas dan mencoba tersenyum, meski suasana hatinya masih sangat tidak mendukung untuk tersenyum lepas.


Keisengan Raja Gerald tadi, benar-benar merusak mood Eliana. Pasalnya sang Raja mencium dan melu mat habis bibir Eliana untuk membangunkan wanita itu.


Eliana benar-benar terkejut dan merasa kesal. Namun berbanding terbalik dengan sang Raja yang merasa menang dua kali terhadap Eliana hari ini.


Raja menggandeng tangan Eliana untuk naik ke mobil yang akan mengantar mereka ke Arshville. Mobil mereka beriringan diikuti dengan mobil para pengawal.


"Sebelumnya kau sudah pernah ke Arshville?" tanya Yang Mulia Raja pada Eliana.

__ADS_1


Gadis itu sibuk memandangi jalanan yang ada di luar. Ia pun menoleh untuk menjawab pertanyaan dari sang Raja.


"Dulu, sewaktu ibuku masih ada. Kami sering memborong hasil panen milik petani dari Arshville." Eliana mengucapkan kalimat itu dengan nada sendu.


Ia menunduk sejenak, memainkan jemari-jemarinya lalu kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Aku belum pernah mendengar kau menceritakan sesuatu tentang ibumu. Bisa kau ceritakan padaku?" pinta Raja Gerald.


Namun Eliana terdiam dengan tatapan yang tak terlepas dari pemandangan yang dilaluinya.


"Aku terkejut melihat foto yang ada di kamar ibu suri tadi. Apalagi kau juga mengenali wanita itu seperti ibumu ketika masih belia. Ada sesuatu yang bisa kau ceritakan padaku?"


"Baiklah, kalau kamu belum bersedia menjawab. Tapi asal kau tau, aku menunggumu untuk menceritakannya. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah berhenti untuk penasaran terhadap segala sesuatu tentangmu!" Sang Raja kembali menggombal, namun kali ini gombalannya terdengar serius dan sangat penuh harap.


Mendengar demikian, Eliana pun menoleh. Tatapannya merespon apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Raja.


"Ibuku orang yang sangat baik. Tapi ... dia tidak punya keluarga. Ayahku, adalah anggota keluarga bangsawan. Aku tidak tau persis kejadian waktu itu, aku masih terlalu muda untuk paham akan semuanya, yang aku ingat hanyalah saat ibu jatuh sakit dan kita diusir dari ibu kota Raisilian, lalu tak lama setelah itu ibu meninggal dunia." Air mata menggenang pada pelupuk Eliana.

__ADS_1


Menceritakan hal tersebut yang merupakan titik terendah dalam hidupnya, seakan kembali merobek luka yang baru saja mengering.


Baginya lembah kegelapan dalam hidup dimulai dari kematian ibunya.


Eliana terisak, tak sanggup lagi bercerita hari-hari kelam saat ia hanya hidup berdua dengan sang ayah. Apalagi ketika bertemu dengan ibu tiri yang malah memperburuk keadaan Eliana.


Sang Raja menggeser posisi duduknya. Ia meraih pucuk kepala Eliana dan membawa ke bahunya. Seraya mengecup ubun-ubun Eliana berulang kali, Sang Raja mengusap-usap tangannya pada bahu wanita itu.


"Maaf, karena sudah memaksamu bercerita. Lanjut saja lain kali," ucap lirih sang Raja sambil tetap memeluk Eliana.


"Mulai sekarang, kau harus bahagia. Rakyat yang makmur dipimpin oleh pemimpin yang kuat. Pemimpin yang kuat memiliki hati bersih. Orang dengan hati yang bersih adalah orang yang bersyukur dan bahagia. Aku akan membahagiakanmu, Ratuku!"


*


Hari ini juga lima bab. Aaah, senangnya bisa up banyak-banyak kayak gini.


Doain biar lancar terus, ya, teman-teman.

__ADS_1


Love you!


__ADS_2