
“Yang Mulia, Menteri Garfield ditemukan tengah menggila di jalanan.” Antony memberi laporan pada Raja Gerald yang sedang meminum teh bersama sang Ratu.
Sluuurp
Raja Gerald menyesap sedikit lagi teh-nya dan kemudian meletakkannya kembali cangkir pualam itu ke atas tatakannya di meja. “Apa yang terjadi? Sedang mau ke mana dia?” tanya sang raja kemudian.
“Dilihat dari rute perjalanan yang ia lewati sepertinya sang menteri ingin menuju ke mari,” jawab Antony kemudian.
Raja Gerald mengerutkan dahinya. “Tak ada janji pertemuan, atau laporan kunjungan yang terlewat olehku, kan?” Sang Raja bertanya-tanya.
“Saya juga tidak paham, Yang Mulia. Sepertinya memang ada urusan khusus untuk dibicarakan dengan Yang Mulia atau urusan lainnya,” timpal Antony.
“Ya sudah! Biarkan saja, tunggu dia datang, nanti kita juga tahu apa tujuannya. Sekarang, minta para petugas lalu lintas mengamankan rute yang akan dilaluinya, ditakutkan akan ada warga sipil yang celaka karenanya!” titah sang raja.
__ADS_1
“Siap, segera dilaksanakan, Yang Mulia.” Antony pun segera berlalu meninggalkan Raja dan Ratunya kembali untuk melaksanakan perintah Raja.
*
Sementara itu orang yang sedang dibicarakan ternyata telah berada di lingkungan istana. Pengawal segera membukakan pintu karena melihat bendera Rasilian yang berkibar di depan mobil serta logo kementerian keuangan.
Meski sudah berada di lingkungan istana pun, menteri Garfield masih saja mengebut dan memarkirkan mobilnya sembarangan.
Tanpa tedeng aling-aling, dia menuju ke ruangan sang Raja dengan wajah yang penuh amarah.
Dengan menyingkirkan para penjaga, dia mendorong pintu ruang kerja sang raja. Sontak penjaga yang lainnya mengacungkan pistol mereka kepada sang menteri.
“Whahaha! Ternyata aku memang sudah tidak diterima di istana ini, bahkan ketika aku hendak masuk menemui sang raja pun para penjaganya menodongkan pistol padaku,” ucapnya penuh dengan nada sindiran.
__ADS_1
Para penjaga tidak mudah terprovokasi, mereka tetap mengacungkan pistol mereka dan berwaspada pada orang yang sedang dikepungnya.
“Perkaranya bukan karena siapa orangnya yang hendak masuk ke ruangan Yang Mulia Raja,” timpal Antony yang langsung menuju ke ruangan sang raja begitu mendengar kedatangan menteri Garfield. Beruntung, Yang Mulia Raja Gerald sedang tidak berada di ruangannya. “ Tapi, karena bagaimana cara orang tersebut untuk masuk ke ruangan sang raja dan ingin menemuinya. Apakah pantas seorang menteri menemui pimpinannya seperti itu?” lanjut Antony seraya terus berjalan mendekat menuju menteri Garfield.
“Hahaha! Kau itu hanya pesuruh raja! Jangan sok menceramahiku! Kekuasaanmu di Raisilian bahkan tak seujung kuku dariku,” timpal menteri Garfield dengan congkak.
“Aku bekerja di sini bukan untuk mencari kekuasaan, tapi untuk mengabdi. Aku tidak peduli dengan seberapa besar kekuasaanmu! Bahkan tiga orang raja Raisilian pun sering terkena teguranku jika mereka melakukan kesalahan,” jawab Antony tanpa merasa rendah diri sekalipun sang menteri telah merendahkannya.
“Heeeuh!” Menteri itu mencibir ucapan sang menteri. Dia pun mendekati Antony, lalu membisikkan sesuatu pada penasihat kerajaan itu. “Aku tidak takut pada siapapun di Raisilian. Kesetiaanmu pada sang raja semuanya percuma, karena mulai sekarang raja Gerald-mu itu tidak akan mendengar nasihatmu, dia lebih mendengar istrinya ketimbang dirimu,” hasut si menteri.
Antony terdiam mendengar hal itu, sudah banyak asam garam kehidupan yang ditelan olehnya selama menjadi penasihat, hal seperti demikian tidak pernah berpengaruh pada pikirannya walau segores pun.
Menteri Garfield masih melanjutkan pembicaraan di dekat telingan Antony. “Jika raja Raisilian V dan VI bisa dengan mudah aku lenyapkan tanpa harus mengotori tanganku, apalagi hanya raja Gerald!”
__ADS_1
*
Jangan lupa baca cerita baru yang berjudul "Cinta Pria Miskin". Dijamin seru! Terima kasih!