Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Hidroponik


__ADS_3

"Saya percaya, para petani Arshville lebih paham teknik ini dibanding saya," ujar Eliana rendah hati.


"Tapi ... tanpa ide dari anda, Nona, mungkin dari kami tidak akan ada yang kepikiran untuk membuat lahan hidroponik dalam pekarangan," timpal salah seorang warga yang sedang mengumpulkan kepingan arang di rumah tuan Edmund.


"Itu ... bukan apa-apa. Aku juga sebenarnya ingin belajar hidroponik dari kalian," timpal Eliana.


Wanita itu menghampiri para ibu-ibu yang sedang memasukkan arang tersebut pada bambu yang dibuat melintang dan sudah dilubangi.


"Ah, Nona, jangan repot-repot. Nanti tangan Nona menjadi hitam. Kami tidak ingin jika Nona dimarahi oleh Yang Mulia Raja," ucap salah seorang warga khawatir.


Refleks sang ibu-ibu itu langsung mengambil tangan Eliana dan membersihkannya.


Eliana menautkan alisnya saat melihat bgaimana perlakuan sang ibu tersebut padanya. Kenapa aku jadi seperti anak kecil yang ketahuan bermain kotor-kotoran oleh orang tuanya?


"Tidak perlu, Bu. Yang Mulia malah menyuruh saya untuk membantu kalian semua, aku jadi sangat senang terlibat di sini," jawab Eliana kemudian gadis itu menarik kembali tangannya yang sudah bersih.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya tidak akan memegang arang. Tapi saya izin untuk membuat media hidroponik yang lain," imbuh sang calon ratu tersebut.


"Menggunakan media lain apa, Yang Mulia? Kami tidak memiliki media lain selain arang. Tidak ada sekam padi karena kami sudah tidak pernah menanam padi, tidak ada ijuk karena sudah tidak ada pohon aren, juga tidak ada sabut kelapa karena semua kelapa tidak dijual murah di sini," ucap warga yang lain seraya bersedih.


Eliana mengusap pundak ibu tersebut. "Tidak apa, tidak perlu menggunakan media tanam yang tidak ada. Kita cukup memerlukan botol, air, pupuk cair, batu dan ... baju bekas." Jawaban Eliana membuat semua warga heran.


"Baju bekas itu, untuk apa, Nona?" Seorang warga bertanya.


"Baju bekas itu nantinya akan kita gunakan sebagai alat untuk membantu tanaman dalam menyerap hara. Sehingga kita tidak membutukan banyak media, batu di sini gunanya hanya untuk agar akar kuat dan pohon bisa tetap berdiri." Eliana menjelaskan pada warga sambil membawa sebuah botol.


Tak lama kemudian, bahan yang Eliana minta telah terkumpul. Lalu wanita itu mengajak sebagian warga pindah ke tempat lain untuk menyelesaikan garapan mereka sesuai dengan arahan Eliana.


*


Sementara itu, di dalam mobil mewah milik paduka raja.

__ADS_1


"Sedang apa Eliana di sana, Antony? Mengapa lama sekali?" tanya sang raja sambil melihat ke arah luar jendela dan masih terlihat Eliana sedang memegang arang.


"Kenapa dia ikut memegang arang juga?" protes sang raja dari dalam mobil.


"Biarkan saja, Yang Mulia. Mungkin hal tersebut menyenangkan bagi Nona Eliana," ucap Antony dari jok depan.


Sang raja mengembuskan napasnya, lalu menurunkan jendela untuk bisa mendengar apa yang sedang diperbincangkan Eliana di luar sana.


"Ah, Nona, jangan repot-repot. Nanti tangan Nona menjadi hitam. Kami tidak ingin jika Nona dimarahi oleh Yang Mulia Raja." Terdengar suara seorang ibu-ibu memperingatkan Eliana.


"Tidak perlu, Bu. Yang Mulia malah menyuruh saya untuk membantu kalian semua, aku jadi sangat senang terlibat di sini." Jawaban Eliana membuat sang raja tercengang.


"Sejak kapan aku menyuruhnya untuk begitu," ujar sang raja menggerutu dari dalam mobil.


*

__ADS_1


__ADS_2